Melihat Pilot Project Budidaya Kurma di Lombok Utara

Datangkan Bibit Seharga Rp 12 Juta, DNA Betina Jantan Dites

Mekanisme kerja sama yang dilakukan dengan masyarakat adalah petani bersangkutan memiliki lahan dan bibit ditanggung seluruhnya pengurus asoasi, serta dibantu Asosiasi Kurma Pusat. Pengembangan kurma NTB termasuk kedua setelah Provinsi Aceh. Khusus pengembangan yang dilakukan yaitu berbuah, berkebun, dan pembibitan.

Apabila pilot project ini berhasil pihaknya akan terus mengembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat. Sebab, pihaknya sudah menandatangani MoU bidang pemasarannya, sehingga ketika berbuah langsung diambil. Yang dikembangkan ini adalah khusus untuk berbuah, berbeda di pulau jawa lebih pada pembibitan. “Jadi, pengembangan budidaya kurma terus dilakukan sesuai permintaan masyarakat,” tandasnya.

Pihaknya juga pada saat ini sedang melakukan pembibitan sebanyak 20 ribu yang bekerja sama dengan pondok pesantren di Lombok Utara untuk membantu pengembangan ekonomi pondok pesantren. Pendistribusian bibit ini tergantung dari permintaan, termasuk juga sudah dihubungi rekan dari Kalimantan Tengah. Bulan Agustus, APKI Wilayah NTB akan memiliki alat tes DNA kurma yang berfungsi mengecek bibit kurma, apakah betina atau jantan. Pihaknya bekerja sama dengan Amerika. Sehingga ketika petani menanam bisa memilahnya mana yang bisa berbuah dan tidak supaya petani tidak sia-sia. (**)

BACA JUGA :  Soal Rencana Bang Zul Budidayakan Kurma di NTB, Begini Penjelasan Pakarnya