Melihat Kreativitas Anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) Saat Puncak HAN

Siswa Belajar Menari dengan Gerakan dan Angka

Melihat Kreativitas Anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) Saat Puncak HAN
MENARI :Anak-anak SLB ini menari dengan semangat saat puncak HAN 2017 di kantor Wali Kota Mataram (25/8) kemarin.

Enam anak di atas panggung ini secara fisik terlihat sempurna,tapi ternyata mereka adalah siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita  Provinsi  NTB yang mengalami gangguan berbicara (Tuna Wicara) dan gangguan pendengaran (Tuna Rungu).


ZULFAHMI-MATARAM


Meski mereka mengalami kekurangan fisik, tetapi hal itu tidak menghambat mereka dan berkreasi dan menunjukkan bakat keterampilan mereka. Meskipun tidak dapat mendengar dan berbicara, tetapi mereka dengan mudah menghafal dan mengingat setiap gerakan-gerakan tarian yang diajarkan oleh pembina mereka.

Saat tampil di panggung Puncak Hari Anak Nasional (HAN) Kota Mataram yang lalu, mereka menunjukkan kebolehan dengan menari di panggung menampilkan tarian Hawai. Meskipun mereka tidak mendengar musik yang sedang dimainkan, tetapi gerakan-gerakan tubuh mungil mereka yang menari bisa serasi dengan alunan musik yang sedang dimainkan.

Pembina tarian SLB, Nurlaili Ekawati menjabarkan bagaimana keahlian anak-anak didiknya dalam menari.” Tadi itu anak-anak menari tidak mendengar musik, tapi menghafal gerakan dan panduan angka,” kata Elly kepada Radar Lombok saat ditemui kemarin.

Memang ketika anak-anak ini tampil di depan umum, ia selaku pendamping harus juga ikut berada di depan panggung untuk memberikan kode melalui angka-angka.” Saat mereka menari saya harus berada di depan mereka,” ujarnya.

Untuk bisa menguasai satu jenis tarian, anak-anak ini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Paling lama untuk satu judul tarian mereka bisa kuasai dalam waktu dua minggu. Salah satu hal yang bisa membuat mereka bisa cepat hafal semua gerakan tari tidak lepas karena dorongan dari dalam diri mereka. Semangat mereka tetap tinggi. Selama memberikan bimbingan kepada anak-anak ABK, Elly mengaku tidak terlalu kesulitan. Mereka selalu ingin memperbaiki diri ketika ada gerakan yang salah. Bahkan kalau guru tari tidak ada temannya yang lebih dulu bisa menari mengajar temannya yang belum bisa menari.” Dari enam ini anak yang bisa menari awalnya hanya tiga anak saja, tapi mereka mengajar temannya,” ungkap Elly.

Ada banyak jenis tarian yang sudah mereka kuasai, baik tarian tradisional maupun tarian modern yang sudah diaransemen ulang (tarian kreasi).

Beberapa tarian yang sudah mereka kuasai diantaranya Tari Bulan Benak Tandur, Tari Sumbawa, Tari Berisik Tinjal dan beberapa jenis tarian lainnya.

Pihak sekolah memang semangat mengajar anak-anak ini karena didorong ada kemauan dari mereka sendiri yang lebih kuat. Sehingga setiap ada latihan dan masih belum bisa mereka sendiri yang menyalahkan diri dan menyemangati diri. Anak-anak ini sekarang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3,4 dan 5. “ Jam 6 pagi mereka sudah datang ke sekolah minta didandani untuk pentas hari ini, saking mereka bersemangat,” tuturnya.(*)