Melihat Kreasi Masyarakat Mengolah Bambu di Desa Bentek

PERAJIN : Salah seorang pengrajin tua bernama Papuq Direp tengah mengiris bambu untuk diolah menjadi kerajinan bakul (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Olahan bambu di sejumlah daerah dengan mudah ditemukan, termasuk juga di Lombok Utara. Perajin bambu terdapat di Dusun Dasan Bangket Desa Bentek Kecamatan Gangga. Hampir sebagian besar masyarakat di dusun setempat mengolah bambu menjadi hasil kerajinan yang bernilai.


HERY MAHARDIKA -TANJUNG 


PENGLIHATAN perempuan tua renta itu masih masih tajam. Meski dibantu sepasang kaca mata. Tapi, wajah keriputnya seakan tak membuatnya takut untuk terluka. Tak takut akan goresan tajamnya pisau dan irisan bambu yang diirisnya setiap waktu. Tangannya begitu apik memainkan pisau kecil mengiris setiap irisan pecahan bambu menjadi bagian kecil dan tipis. 

Iya, begitulah keseharian Papuq Direp dan warga lainnya di Dusun Dasan Bangket Desa Bentek Kecamatan Gangga.  Nyaris terlihat sebagian besar para perempuan tua duduk di halaman, teras dan berugak rumah masing-masing sembari tangan mereka memegang pisau mengiris bambu menjadi ukuran kecil dan tipis. Begitu lihai jari-jari tangan mereka memegang pisau tanpa ada sedikit pun wajah keriput mereka merasa takut ikut teriris.

Ketika diperhatikan semakin dekat, ternyata mereka tengah menikmati pekerjaan sehari-hari mereka untuk membuat anyaman bambu menjadi berbagai aneka hasil produksi yang memiliki nilai jual.  “Saya sedang mengiris bambu menjadi ukuran kecil untuk diolah menjadi kerajinan bakul nasi dan jenis kerajinan lainnya,” ujar Papuq Direp kepada koran ini.

Nenek 90 tahun  ini mengaku, masih menggeluti kerajinan bambu hingga kini. Papuk Direp sendiri sudah menekuni anyaman bambu sejak berusia muda. Ia sendiri belajar dari orang tua, dan sekarang pun anak-anak perempuan bisa menekuni anyaman bambu tersebut. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan olahan bambu lebih dari satu pcs. “Hasil olahan ini saya menjual ke ketua kelompok pengrajin dengan harga sesuai ukuran,” terangnya menggunakan bahasa daerah.

Ketua Kelompok Perajin Bambu Cerah Iswanti menerangkan, dari 160 jumlah kepala keluarga (KK) di kampungnya, hampir 80 persen menjadi pengrajin terutama ibu-ibu rumah tangga. “Ini sudah turun temurun. Gak tau siapa yang pertama kali yang membuat kerajinan di sini,” jelasnya.

Ia menceritakan, awalnya nenek moyang mereka mengolah daun pandan menjadi dipan. Namun, seiring waktu hingga tahun 1989 bahan baku berupa pandan sangat sulit, dan saat ini sudah tidak ada. Sehingga mereka pun beralih kerajinan menjadi pengrajin bambu beruapa bakul berukuran besar dan bakul nasi, kemudian mereka menjual ke pasar terdekat. Pada tahun itu pula, ia menekuni anyaman bambu yang berusia 16 tahun. “Pada waktu itu, warga di sini hanya mampu membuat 2 jenis olahan,” katanya.  

Proses pembuatan, terangnya, terlebih dahulu perajin membutuhkan bambu jenis (tereng tali), baru selanjutya dipotong, kemudian dipecah menjadi empat atau delapan bagian. Selanjutnya diiris menjadi ukuran kecil atau sesuai bentuk kerajinan. Baru dihaluskan dan dijemur, memulai menganyam. “Satu batang bambu bisa menghasilkan 10 produksi,” tandasnya.

Untuk proses pembuatan sampai saat ini masih manual, maka sehari hanya bisa satu produk per orang. Adapun alat yang digunakan pemaje (pisau kecil), parang, gergaji dan pisau. Diakui, bahwa kelompoknya mendapatkan bantuan mesin dari Diskoperidang Lombok Utara pada tahun 2011 berupa mesin pemecah, penghalus, kompresor dan bor dengan daya listrik 3000 watt. “Tapi mesin yang diberikan ini tidak dipakai karena kendala mesin genset. Kalau menggunakan listrik tidak muat hanya 400 watt,” jelasnya.  

Pembentukan kelompok perajin ini sendiri pada tahun 2009, berawal dari inisiasi pengrajin agar bisa mendapatkan pembinaan lebih baik. setelah mereka membentuk kelompok kemudian mereka menyerahkan ke kadus setempat. Baru kelompok mendapatkan stempel ‘Pure Handmade From Bentek Village’. “Perhatian pemerintah sudah bagus baik desain, kombinasi rotan. Termasuk juga Diskoperindag provinsi dan kabupaten,” akunya.

Dari hasil olahan, lanjut Iswanti, para pengrajin yang berada di kelompok berhasil memodifikasi jenis olahan yang dulu hanya 2 jenis menjadi 22 jenis olahan. Yaitu tempang paying, nampan, tempat sampah 2, box laundry oval, keleong, keranjang sayur, tempat aksesoris, tempat permen, tempat pensil, tas laptop, tempat serbaguna, tempat buah, tudung saji, tempat air mineral, tempat air mineral bundar, peraras kecil, peraras besar, tempat map, tempat tissue, tempat nasi, bak sampah, vas bunga, box laundry bundar. “Dari puluhan jenis olahan ini memiliki harga yang bervariasi mulai dari harga termurah Rp 7,500 hingga termahal Rp 150 ribu,” ungkapnya.

Pemasaran hasil kerajinan sendiri, telah memiliki pengepul yang berasal dari Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram, dan juga dikirim ke Bali. Hanya saja pemasaran pada tahun-tahun terakhir ini limit, hanya mampu 300-400 orderan per bulan. Sedangkan tahun 2000 bisa mengorder 9 ribu hingga 12 ribu per minggu. “Ini sangat turun drastis, itupun tahun ini kadang sebulan atau dua bulan belum laku,” tandasnya.

Ia sendiri selaku ketua kelompok mengambil hasil olahan para pengrajin, hanya bisa mengambil untuk Rp 2,5 ribu hingga Rp 10 ribu, dan juga tergantung dari nilai modal pembuatannya. Jika pemasaran sulit, maka tentu akan berpengaruh terhadap para pengrajin tersebut.

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah daerah agar bisa membantu dalam hal pemasaran. Selain itu, pihak pemerintah juga kembali membelikan pelatihan dengan desain yang berbeda. Mata pencaharian ibu-ibu untuk membantu suami. Satu orang dapat 100-150 produksi, tergantung dari kecepatan mereka. “Kalau saya laris/orderan banyak maka mereka pasti mengebut membuat kerajinan. Bahkan tiap rumah mereka bekerja. Kalau sekarang lebih menggarap kebun. Kalau lokal pasti saja yang beli dan berjalan. Yang diharapkan ke luar,” pungkas perempuan yang mampu menyelesaikan pendidikan anaknya hingga ke perguruan tinggi. (**)

BACA JUGA :  Renovasi Makam Datu Seran Dikritik