Melihat Kerajinan Sablon Kayu Karang Jangkong Kota Mataram

Motif Pulau Lombok Jadi Andalan

Melihat Kerajinan Sablon Kayu Karang Jangkong Kota Mataram
SABLON : Wakil Gubernur NTB HM. Amin melihat hasil karya anak muda Karang Jangkong berupa sablon kayu belum lama ini.

Suvenir menjadi salah satu barang yang wajib hukumnya ada dalam dunia pariwisata. Kampung wisata halal di Lingkungan Karang Jangkong Kota Mataram menghadirkan kerajinan sablon kayu.


ZULFAHMI-MATARAM


Kegiatan pembuatan suvenir di Lingkungan Karang Jangkong Kota Mataram sudah mulai dijalani oleh Supriadi sejak bulan Juni 2017. Ia dibantu beberapa rekannya yang aktif menjalankan bisnis suvenir.

Dulu sebelum Karang Jangkong diresmikan sebagai desa wisata halal, hasil kerajinan sablon kayu masih minim. Dalam satu hari hanya bisa diproduksi 50 biji suvenir. Tapi kini setelah hampir satu bulan keberadaan kampung wisata halal, produksi suvenir meningkat tajam dari sebelumnya hanya 50 biji kini menjadi 500 biji dalam satu hari.” Usaha sablon kayu semakin meningkat setelah adanya kampung wisata halal ini,” kata Adi kepada Radar Lombok (7/2).

Ia menjelaskan, usaha  suvenir yang ia jalankan bukan seperti kebanyakan usaha suvenir yang ada yang hanya berupa gantungan kunci dengan motif papan surfing, bulan dan pantai, tetapi sablon kayu yang ia jalani lebih menonjol sisi kearifan lokal daerah Lombok yang kemungkinan tidak bisa ditemukan di daerah lain. Seperti Lumbung Lombok,  dan bisa disesuaikan dengan kemauan pembeli. “Kita menerima permintaan sesuai dengan kemauan tamu,” ungkapnya.

Beberapa bentuk suvenir yang sudah dipesan seperti papan seluncur dengan wajah Wakil Gubernur NTB H. Muhammad Amin, Wakil Wali Kota Mataram  H. Mohan Roliskana dan Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili. Bahkan Wagub NTB pernah datang berkunjung  dan langsung membeli karya anak-anak muda ini.” Pak Wagub dulu membeli langsung hasil karya kami dengan harga yang cukup tinggi,” tuturnya.

BACA JUGA :  Hari Raya Kurban, Rejekinya Para Peternak Kambing

Untuk biasa suvenir dalam bentuk gantungan kunci yang sudah mereka ciptakan dijual di beberapa tempat wisata di Kota Mataram, bahkan diambil juga oleh para pedagang dan toko oleh-oleh yang ada.  Harga normal satu bungkus gantungan kunci dijual dengan harga Rp 15 ribu berisi empat biji gantungan kunci, namun para tamu atau warga yang datang pada hari Minggu ke kampung wisata halal Karang Jangkong akan mendapatkan harga yang spesial.

Suvernir yang ada biasanya hanya menggunakan stiker tempel sebagai bahan dasar, tetapi untuk sablon kayu menggunakan bahan khusus dengan motif  yang tidak akan ditemukan di daerah lain.” Kami menggunakan sablon, bukan cat atau stiker makanya hasilnya lebih bagus dan tahan lama,” ungkapnya.

Ia mengaku mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karang Jangkong (Kangkong) yang membuat kampung mereka menjadi kampung wisata halal. Lelaki asli Karang Jangkong ini kini bisa bekerjasama dengan dengan semua remaja, untuk sementara semua biaya produksi masih ia tanggung sendiri karena belum ada bantuan apapun dari dari pihak manapun terhadap proses pembuatan suvenir ini.” Kami masih menggunakan modal sendiri, belum ada bantuan apapun dari pihak luar,” ungkapnya.

Kedepan ia akan terus melakukan inovasi dalam mendesain bentuk suvenir yang akan ia buat misalnya seperti Islamic Center yang menjadi lambang wisata halal di NTB,dan berbagai bentuk bangunan dan hal-hal yang berhubungan dengan Lombok untuk bisa dikreasikan dalam bentuk souvenir bagi para tamu yang sudah datang ke Lombok.” Kami akan terus berinovasi untuk pengembangan usaha souvenir di kampung wisata halal Karang Jangkong,” ungkapnya.(*)