Melihat Keindahan Air Terjun Jeruk Manis Yang Kian Sepi Pengunjung

JERUS MANIS: Keindahan Air Terjun Jeruk Manis yang berada di tengah lebatnya hutan Gunung Rinjani, selain masih alami, obyek wisata ini juga bebas dari sampah plastik pengunjung (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Sebelum banyak berkembang obyek wisata alam di wilayah Kabupaten Lombok Timur (Lotim), dapat dikatakan Air Terjun Jeruk Manis adalah destinasi pioneer (pertama) yang menjadi pilihan berwisata. Sayangnya, seiring waktu berjalan, Air Terjun Jeruk Manis kini justeru sepi pengunjung.


JANWARI IRWAN – LOTIM


KONON kata orang, obyek wisata Air Terjun Jeruk Manis merupakan surga bagi pecinta wisata alam. Airnya yang jernih, berpadu dengan udara yang segar dan sejuk, ditambah dengan pemandangan alamnya yang hijau subur, menjadikan Air Terjun Jeruk Manis memang layak dijuluki sebagai tempat wisata yang manis.

Air Terjun Jeruk Manis yang berada Didesa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, mengalir di lembah yang sempit. Air Terjun ini  merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 30 Meter, kemudian mengalir ke sungai kecil yang penuh dengan bebatuan. Air terjun ini dahulu ditemukan oleh masyarakat setempat, dimana setelah dikelola dengan baik, Air Terjun Jeruk Manis kemudian banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik dan mancanegara.

[postingan number=5 tag=”wisata”]

Pengelola air terjun Jeruk Manis, Hamzan mengatakan saat ini Air terjun Jeruk Manis tidak “semanis” tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan banyaknya obyek wisata baru yang bermunculan di wilayah Lotim, yang membuat masyarakat lebih memilih untuk mencari suasana baru.

“Kalau kita lihat dari bulan-bulan sebelumnya, pengunjung air terjun Jeruk Manis cenderung terus berkurang. Kalau hari hari biasa paling (suma) sekitar 10 hingga 15 orang yang datang. Sedangkan hari minggu paling banyak 50 pengunjung,” bebernya.

Untuk menikmati kesegaran dan kesejukan Air Terjun Jeruk Manis, pengunjung harus berjalan kaki terlebih dahulu sejauh 1,5 Kilometer dari gerbang masuk. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Namun jangan khawatir, anda akan ditemani dengan berbagai jenis tanaman dan tumbuhan, seperti paku-pakuan, bunga liar, durian, lemuru (ficus sp), liuh-liuh (lixoura sp), dan bajur (Pterospernum javanicum). Tak hanya itu, wisatawan juga bisa menyaksikan kehidupan liar dari beragam fauna seperti kera dan biantang lainnya yang masih hidup bebas.

Jika merasa lelah, pengunjung bisa beristirahat sejenak di Berugak yang dapat ditemui di tepi jalan. Anda akan melewati tiga buah Berugak, dan di Berugak terakhir yang letaknya tak jauh dari air terjun, dapat dinikmati pemandangan hutan lindung yang asri, sembari melepas penat.

“Untuk bisa mencapai air terjun, pengunjung yang lelah berjalan telah disiapkan tiga unit Berugak, sebagai tempat peristirahatan, serambi memulihkan tenaga,” jelas Hamzan.

Alam yang masih alami dan bersih, menjadi salah daya tarik tersendiri bagi pengunjung di Air Terjun Jeruk Manis. Namun untuk dapat mengembalikan keramaian seperti dahulu, tentu butuh bantuan dari pemerintah untuk menata kembali wisata alam yang sudah mulai dilupakan ini.

“Informasi yang saya dapat, pemerintah desa akan mengelola wisata alam ini, dan akan membangun beberapa taman sebagai tempat para pengunjung foto selfi. Sekarang kan lagi musim selvi,” candanya.

Pihaknya berharap, kedepan pemerintah lebih memperhatikan obyek-obyek wisata alam yang memiliki banyak daya tarik. “Tanpa dukungan pemerintah, apa yang menjadi kebanggaan kita akan sulit berkembang, dan lama-kelamaan akan menjadi terlupakan. Jadi saya harapkan pemerintah turut mengembangkan pariwisata yang ada di Lombok Timur,” harapnya.

Salah satu pengunjung asal Selong, Rina yang dijumpai di lokasi mengatakan, dia memilih liburan di air terjun Jeruk Manis, karena faktor keindahan alam yang masih alami dan bersih. Dimana sepanjang jalan, mulai dari pintu gerbang pengunjung tidak akan pernah menemukan sampah plastik yang dibuang sembarangan. “Yang saya herankan, saya tidak menemukan sampah plastic. Hanya dedaunan kering saja yang ada,” ujar Rina senang. (*)