Melihat Keceriaan Anak-Anak Pesisir Pantai Serewe Lombok Timur

Lebih Senang Permainan Tradisional

Pantai Serewe
BERMAIN: Sejumlah anak-anak pantai yang sedang asyik bemain dengan teman sebayanya di pesisir Pantai Kaliantan, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, Lotim. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Era perkembangan zaman seperti sekarang ini, aplikasi permainan yang semua serba modern terus bermunculan. Akibatnya, berbagai permainan tradisional yang dahulu populer, kini satu persatu mulai menghilang.


JANWARI IRWAN – LOTIM


PULAU Lombok dikenal sebagai daerah yang mempunyai ragam suku, agama, ras, dan budaya yang berbeda beda. Keragaman seni dan budaya tersebut, otomatis juga melahirkan beragam permainan tradisional yang eksostis. Namun sayang, perkembangan jaman yang katanya semua serba digital dan modern, perlahan namun pasti, telah menggerus aneka permainan tradisional khas Lombok ini.

Adanya teknologi modern yang mulai menjamur di masyarakat melalui Personal Computer (PC), Laptop, Hand Phone (HP), dan lainnya, menjadikan permainan tradisional ini mulai tidak terjamah lagi oleh masyarakat, bahkan anak-anak kecil sekalipun. Mereka cenderung lebih asyik bermain game via gadget, yang notabene dapat menyebabkan si anak kurang memiliki jiwa sosial.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak di Dusun Serewe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Mereka tetap memainkan aneka permainan tradisional, dan tidak begitu tertarik untuk memegang HP. “Yang kita kenal hanya main kelereng, main petak umpet, main karet, dan main dayung (sampan). Kalau main di HP jarang,” kata, Ayu, salah satu anak yang tinggal di Dusun Seriwe, Minggu kemarin (11/2).

Ayu bercerita, sejak dia pulang sekolah, bersama teman-temannya hanya bermain di pasir pantai saja, yang merupakan kebiasaan turun-temurun diwilayahnya. Namun demikian, dia dan kawan-kawannya mengaku sangat senang.

BACA JUGA :  Kreativitas Aisyah, Keliling Dunia Berkat Sampah

Dengan bermain bersama di pantai, rasa persaudaraan juga tetap terjaga. “Iya setiap hari kita disini (pantai, red). Pulang sekolah kita hanya habiskan waktu bermain di pantai bersama teman-teman saja,” akunya.

Selain bermain di pantai, Ayu biasanya juga membantu orang tua membersihkan rumput laut. Membersihkan rumput laut, kebutuhan keluarga dapat terbantu, dan terpenting bisa membiayai sekolahnya. ”Kakak saya bahkan kuliah di Mataram, yang biayanya dari rumput laut. Jadi saya harus membantu ibu, sambil bermain juga,” ujarnya seraya tertawa.

Sementara Irfan, yang saat ini masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD), juga mengaku senang tinggal pinggiran pantai. Karena selain suasananya aman dan nyaman, juga banyak hal yang bisa dikerjakan. “Saya sering membantu bapak bekerja, karena ingin berlajar. Jadi kalau saya sudah besar nanti bisa mencari uang sendiri,” katanya.

Ditanyakan jenis-jenis permainan yang menjadi hobinya, dia mengaku senang bermain bola, dan main petak umpet bersama temannya. “Kalau main game di HP sih senang saja. Tapi saya lebih senang bermain sama teman-teman saja, seperti main bola dan lainnya,” ucapnya.

Dia mengaku lebih senang bermain tradisional, karena tidak mengeluarkan biaya yang mahal. Juga permainan tradisional lebih baik, karena tidak merusak kesehatan. ”Pokoknya saya senang bermain tradisional dari pada main-main di HP. Karena kalau mau main di HP yang modern, harus membeli pulsa,” ujarnya.

Sedangkan Sahirudin, salah satu masyarakat sekitar Pantai Kaliantan menilai anak-anak pantai memang lebih senang bermain di pasir pantai. Selain lebih aman, pantai merupakan tempat bergantung hidup warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. ”Kita hidup di pinggiran pantai, tentu kita lebih senang main di pantai. Itu juga sangat aman bagi anak-anak kita,” paparnya.

BACA JUGA :  Mengenang Almarhum Moh. Fadli Na’im Di Mata Sejawat

Bermain di pinggiran pantai, dengan permainan tradisional lanjutnya, juga mampu membuat jiwa sosial anak-anak tumbuh lebih baik terhadap sesamanya. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi tinggi, kalau tanpa pengawasan orang tua, anak-anak bisa saja membuka situs-situs yang tidak baik.

“Alhamdulillah, meski kita tinggal di pantai, dan hanya mengenal permainan tradisional, tapi anak-anak kita banyak yang sukses,” ujarnya bangga. (*)