MELIHAT AKTIVITAS PARA PENDERITA TUNA RUNGU DI SANGGAR SENI AS-SYAFI’I

MENARI DAN BERMUSIK: Sejumlah anak penderita tuna rungu unjuk kebolehannya dalam menari dan bermain musik (gending) di Sanggar Seni As-syafi'i. (ROSYID/RADAR LOMBOK)

Anggota Polri di Polda NTB, ternyata juga kerap menghabiskan waktu bersama puluhan orang pengidap “tuna rungu”, atau yang biasa dia sebut dengan “teman tuli”-nya.

SEKITAR tiga bulan lalu, anggota Polri yang bertugas di Bidang Humas Polda NTB ini membangun sebuah sanggar seni, yang diperuntukkan untuk teman tulinya. Aktifitas di dalam perkumpulan tersebut, mengajarkan para teman tulinya untuk berkarya, mulai dari bermain musik, memanah, serta memainkan sebuah drama. Tujuannya hanya satu, untuk membangun sebuah kepercayaan diri.

Sanggar seni tersebut, yang diberi nama Sanggar Seni As-syafi’i, terletak di Kebon Talo, Ampenan Utara, Kota Mataram. Nama Assyafi’i diambil dari nama kakeknya, yang sekaligus menjadi pendiri yayasan tempat berkumpul bersama teman tulinya.

“Yayasan ini namanya As-Syafi’i. Dulunya berdiri SMK Kesehatan, namun sekarang sudah tidak ada. Tapi hingga saat ini masih digunakan untuk anak SD, dan sorenya digunakan oleh teman tuli,” kata Azwin, kemarin.

Ini diperuntukkan bagi mereka yang menjadi korban bullying, seperti mereka (teman tuli, red) yang tidak terlalu siap untuk menghadapi dunia luar. “Ini bagian dari komunitas Gerkatin (gerakan untuk kesejahteraan tuna rungu Indonesia). Jadi, disini sanggar seni untuk mereka,” ucap Azwin.

Semenjak dibentuk sanggar seni tersebut, sedikitnya sudah ada 72 orang penderita tuna rungu yang ikut bergabung. Mereka terdiri dari berbagai usia dan profesi, lebih dominan dari anak yang masih mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Sebelumnya, mereka ini memiliki perkumpulan tetapi tidak ada namanya. Bahkan mereka juga tidak tahu harus bagaimana, atau mengerjakan apa,” ujar Azwin.

Sebelum membentuk sanggar seni teman tuli, Azwin mengaku mengenal dan akrab dengan beberapa orang penderita tuna rungu. Walaupun dirinya tidak terlalu fasih dengan bahasa isyarat, kala itu.

Baca Juga :  Cerita Baiq Sri Ratna Wahyuningsih, Pengantin Bermaskawinkan Kain Kafan

Dari hasil duduk bersama dengan beberapa rekannya itu, kemudian muncullah sebuah ide “gila”, untuk membangun sebuah sanggar seni. “Ini memang tidak mudah, bahkan mustahil mengenalkan musik kepada orang yang tidak memiliki pendengaran, atau kurang normal. Tapi kalau ini mudah, bukan kita namanya,” tegasnya.

Di sanggar seni tersebut, mereka diberi pelajaran layaknya pelajaran ekstrakurikuler, yang belum tentu didapatkan dari sekolahnya. Seperti belajar memanah, menari, bermain musik, serta bermain drama. “Ini lebih kepada membangun skill, kemampuan, dan kepercayaan,” jelasnya.

Untuk memulai itu, tentu banyak kesulitan yang harus dilewati. Utamanya soal menjalin sebuah komunikasi. Terlebih lagi dirinya yang tidak terlalu hapal akan bahasa isyarat. “Tidak semua kita bisa berbahasa isyarat. Sehingga untuk berbicara panjang lebar pun masih kesulitan,” ujarnya.

Langsung mengenalkan musik bukanlah hal pertama yang dilakukan, karena itu bukanlah hal yang mudah. Untuk pembukanya, Azwin memilih membukanya dengan memperkenalkan mereka cara memanah. “Kami memulai dari memanah, dan berujung pada latihan musik,” tuturnya.

Mengenalkan musik bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi mereka memiliki keterbatasan soal pendengaran. Sama halnya dengan mengajak orang “pincang” untuk balap lari.

Dalam mewujudkan mimpi yang terbilang mustahil itu, didasari oleh pengalaman salah satu musisi legendaris bernama Beethoven, seorang musisi yang juga mengidap tuna rungu. “Awalnya mereka tidak cukup percaya diri. Tapi saya bilang, kalau kamu tidak mau apa yang tidak mungkin. Hal itulah yang kita tanamkan kepada teman tuli, sehingga semangatnya luar biasa,” ungkap dia.

Baca Juga :  Perjalanan Melinda Trihapsari Terpilih Menjadi Anggota Paskibraka Nasional 2022

Berkat kegigihan, semua latihan yang diberikan akhirnya bisa dikuasai. Untuk lebih mengasah kemampuan mereka, dicoba dengan sebuah pertunjukan dilingkup yayasan.

Pertunjukan pertama itu dengan konsep time traveling (perjalanan waktu) di NTB. Konsep yang digunakan ini diklaim belum pernah dilakukan oleh-oleh orang normal sekalipun. “Kenapa kita mencoba melakukan hal jauh berbeda ini. Yakni untuk menunjukkan bahwa mereka pun mampu melampaui teman-teman yang normal,” katanya.

Di sana, ada beberapa pertunjukan yang dimainkan dalam sebuah teater. Mulai dari pertunjukan memanah, qalamilahi (membaca ayat al-quran), musik, drama dan mengenalkan sejarah Kerajaan Selaparang.

“Kenapa harus pertunjukan panggung. Tujuannya untuk memperlihatkan kepada orang-orang, khususnya kepada orang tua mereka, bahwa ini merupakan sebuah kemampuan mereka. Walaupun ada kekurangan dalam diri mereka, tapi kemampuan mereka ada, dan mereka bisa,”cetusnya.

Pertunjukan panggung tersebut, lanjutnya, juga merupakan pra pertunjukan untuk mengasah kepercayaan diri mereka, untuk bisa lebih baik pada saat pertunjukan haru tuli Indonesia, yang akan digelar pada akhir Januari mendatang.

Keberadaan mereka merupakan sebuah anugerah. Meskipun terkadang belum bisa diterima di sebagian masyarakat luas. “Kehadirannya yang terkadang tidak diinginkan ini pun disadari oleh mereka. Tapi ini pesan kepada mereka untuk lebih kuat lagi di kehidupan sosial mereka,” sebutnya.

Tidak dipungkiri, teman tulinya memang memiliki kekurangan dari segi fisik. Namun ia sangat meyakini bahwa teman tulinya siap untuk menghadapi apapun. Bahkan siap untuk melampaui orang normal sekalipun. “Kalau memang kita percaya kepada Tuhan, lalu kenapa kita meragukan ciptaan-Nya,” pungkas Azwin. (ABDURRASYID EFENDI – MATARAM)

Komentar Anda