Mekaki akan Dikelola Investor asal Singapura

MEKAKI: Lahan kawasan Mekaki yang sudah lama terlantar akan segera mulai digarap investor baru. (Fahmy/Radar Lombok)

GIRI MENANG – Kawasan Teluk Mekaki yang sudah lama terlantar kini memasuki babak baru. Akan ada investor baru yang akan menggarap Mekaki.

Ini disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMP2TSP) Lobar, H. Subandi, kemarin.

Kawasan Mekaki akan dikelola oleh investor yang berasal dari Singapura. Untuk tahap pertama akan digarap sekitar 25 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp 200 miliar dari total nilai investasi sekitar Rp 1,4 triliun.”Kawasan Mekaki akan dikembangkan oleh investor baru yang sudah siap untuk membangun,” ungkapnya saat ditemui kemarin.

Sesuai dengan jadwal yang sudah disusun, investor tersebut rencananya akan melakukan Akad Jual Beli (AJB) akhir Januari. Setelah melakukan AJB, kemudian diusulkan untuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan pada bulan Januari bisa dilanjutkan untuk proses pengajuan izin.”Mudah- mudahan selama dua bulan selesai izin,” katanya.

Izinan tersebut meliputi izin lingkungan, dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), rekomendasi TKPRD Kabupaten Lombok Barat, atau hal yang berhubungan dengan OPD teknis.”Kalau semua dokumen lengkap, proses perizinan di dinas perizinan hanya butuh waktu enam hari,” tegasnya.

Untuk mempermudah dalam proses perizinan, pihaknya menyarankan agar ini dimasukkan dalam kategori Penamaan Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui perwakilan perusahaan di Surabaya. Tujuannya agar memudahkan untuk proses perizinan operasional. Kalau menggunakan PMA, pengajuan izin operasional harus ke pemerintah pusat, kalau di PMDN, cukup dari Dinas Perizinan Lobar.”Kalau PMDN cukup dari kita yang keluarkan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP),” tegasnya.

Luas total lahan yang ada di kawasan Mekaki sekitar 158 hektar, tahap pertama yang akan digarap sekitar 25 hektare yang diperuntukkan untuk pembangunan hotel.”Tahap pertama yang akan dibangun hotel dan restoran,” jelasnya.

Total lahan ini dibagi menjadi 12 slot, teknis pengembangan akan dibangun sesuai dengan kebutuhan hotel atau kebutuhan masyarakat, tamu yang ada di kawasan Mekaki.” Sudah dibagi menjadi 12 slot, dibangun sesuai dengan kebutuhan,” katanya. Investor ini dalam membangun, akan melihat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat NTB, kalau dibutuhkan sarana yang lain, selain hotel dan restoran akan dibangun belakang, sesuai dengan slot yang sudah ada.

Terkait dengan investor yang belum melakukan aktivitas pembangunan di lahan yang sudah mereka kantongi izinnya, dinas akan menagih para investor agar segera merealisasikan aktivitas mereka.”Kita akan tagih mereka untuk segara membangun, karena MotoGP di tahun 2021 sudah terlaksana,” ungkapnya.

Subandi mengakui kesulitan menegur investor karena ada kesulitan investor asing masuk ke Indonesia selama pandemi Covid-19. Sementara itu untuk investor yang dari dalam negeri, memang ada juga yang memiliki izin, namun karena kondisi ekonomi, mereka banyak yang tidak menjalankan bisnis mereka. Ia berharap di tahun 2021 Covid-19 sudah hilang, ekonomi bisa pulih kembali dan aktivitas usaha bisa berjalan dengan normal kembali. Apalagi nanti dengan adanya MotoGP diharapakan bisa dijual kepada para investor, sehingga mereka bisa tertarik untuk segara membangun.”Kita tidak ingin jangan sampai lahan mereka ditelantarkan, agar segera dibangun,” tegasnya.

Subandi menuturkan, beberapa waktu lalu sudah ada investor dari Polandia yang sedang mencari hotel-hotel yang sudah tutup untuk dihidupkan kembali, setelah didapatkan beberapa hotel sebelum Covid-19, investor ini pulang balik  negaranya, setelah itu terjadi Covid-19, sampai saat ini belum kembali lagi ke Indonesia.” Sudah kita ajak keliling, ada 10 hotel yang akan tutup, tetapi ada Corona, tidak jadi,” jelasnya (ami).