Mekaar Hadir Menghadang Rentenir

PNM Mekaar
PENDAMPINGAN : Pendamping (Account Officer) produk Mekaar PT PNM memberikan pelatihan kewirausahaan bagi ibu-ibu rumah tangga prasejahtera nasabah Mekaar di Desa Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. (lukman Hakim/Radar Lombok)

MATARAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya memperluas akses lembaga keuangan resmi bagi masyarakat di daerah pelosok pedesaan. Hal tersebut sebagai salah satu upaya OJK bersama lembaga keuangan memotong mata rantai jeratan dari pelaku rentenir atau lebih dikenal dengan sebutan ‘bank subuh’ oleh masyarakat Suku Sasak di Lombok.

Lembaga keuangan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), melalui produk Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) mulai menyasar kantong-kantong masyarakat yang selama ini menjadi pangsa pasar dari rentenir ‘bank subuh’. Kehadiran produk Mekaar dari PT PNM (persero) ini untuk menghadang dan memangkas gerak – gerik keberadaan para rentenir ‘bank subuh’ yang selama menjerat dan semakin memiskin masyarakat dari kalangan ibu-ibu rumah tangga prasejahtera.

PNM melalui produk Mekaar, tidak hanya sebatas memberikan pembiayaan modal usaha bagi ibu-ibu rumah tangga prasejahtera, tapi juga secara konsisten melakukan pendampingan dan pelatihan bagi nasabah atau NOA (number of account). Sejak mulai hadir produk Mekaar pada 2017 hingga September 2019 di NTB, jumlah NOA atau nasabahnya sudah tembus diangka 230. 000 nasabah ibu -ibu prasejahtera.

“Setiap tahun perkembangan NOA atau nasabah Mekaar terus meningkat lebih dari 100 persen,” kata Branch Manager PT PNM Cabang Mataram Jimi Firmansyah, Jumat (8/11).

Jimi menyebut pada Desember 2017, jumlah nasabah produk Mekaar sebanyak 78.323 orang atau NOA, kemudian di akhir Desember 2018 meningkat 100 persen lebih mencapai menjadi 167.431 nasabah (NOA) dan hingga September 2019, sudah tembus diangka 230. 000 orang nasabah yang masih aktif membayar angsuran. Jika dihitung dengan yang sudah lunas, NOA PNM produk Mekaar diangka 260.000 nasabah.

Pembiayaan untuk produk Mekaar ini menyasar ibu-ibu prasejahtera, yang memiliki usaha sebagai pedagang bakulan di pasar tradisional, pedagang kios, perajin tenun, gerabah, ketak, pertanian, peternakan, jasa, produksi olahan pangan, kue, minuman dan banyak lagi macam usaha yang digeluti ibu-ibu rumah tangga prasejahtera yang menjadi sasaran pembiayaan modal usaha dari produk Mekaar PT PNM.  

Kehadiran pembiayan produk Mekaar tidak hanya menghadang gurita rentenir yang selama ini sudah menjerat ibu-ibu rumah tangga prasejahtera, tapi juga mampu menekan jumlah pengangguran. PT PNM melalui pembiayaan Mekaar juga menjadi media untuk membuka lapangan kerja sebagai pendamping bagi ibu-ibu rumah tangga prasejahtera yang menjadi nasabah Mekaar. Pegawai atau pendamping produk Mekaar ini direkrut dari lulusan SMA sederajat yang bertempat tinggal di dusun/lingkungan tempat nasabah ibu-ibu pra sejahtera menjadi sasaran pembiayaan produk Mekaar. Dengan merekrut lulusan SMA di wilayah ibu-ibu rumah tangga prasejahtera yang menjadi nasabah Mekaar, mereka memahami dan mengerti karakter masing-masing ibu rumah tangga menjadi nasabah produk Mekaar. Sehingga pendekatan yang dilakukan dalam memberikan pendampingan bisa lebih efektip.

“Kehadiran produk Mekaar di NTB tidak hanya membantu keluarga prasejahtera, tapi sebenarnya juga ikut mengurangi pengangguran. Karena kami merekrut sedikitnya 1.300 tenaga kerja sebagai Account Officer (AO) Mekaar lulusan SMA sebagai pendamping nasabah ibu-ibu keluarga prasejahtera,” kata Jimi.

Dijelaskan Jimi, pembiayaan produk Mekaar kepada ibu-ibu rumah tangga prasejahtera tidak langsung disalurkan begitu saja. Tetapi terlebih dahulu, sebelum pembiayaan disalurkan, oleh petugas pendamping memberikan pelatihan terkait apa yang cocok dan sesuai untuk di usahakan (bisnis) oleh ibu -ibu rumah tangga prasejahtera yang sesuai di tempat mereka. Setelah itu, dilakukan pertemuan setiap pekan sekali. Dalam pertemuan itu, setiap kelompok menunjuk ketua dan beranggotakan minimal 10 orang hingga maksimal 15 orang.

PNM
PELATIHAN : Kelompok ibu-ibu rumah tangga prasejahtera yan merupakan nasabah produk Mekaar mendapatkan pelatihan kewirausahaan dari PNM Cabang Mataram. (Lukman Hakim/Radar Lombok)

Setelah melalui serangkaian pelatihan dan dianggap layak menerima pembiayaan untuk tahap pertama senilai Rp 1 juta per orang, maka pihak pendamping memberikan rekomendasi untuk realisasi modal usaha bagi ibu-ibu rumah tangga prasejahtera. Setelah penyaluran modal usaha, pertemuan rutin tetap dilakukan sekali dalam setiap pekannya. Pertemuan setiap pekan itu untuk melakukan evalusasi serta mendengarkan saran dan keluhan ibu-ibu rumah tangga terkait perkembangan dan kendala dihadapi oleh mereka dalam menjalan usahanya. Pendamping kemudian memberikan solusi, baik itu pemasaran, manajemen pengelolaan keuangan hingga bagaimana membuat produk yang menarik dan diminati oleh konsumen.

Jika dalam pertemuan ada yang tidak hadir, maka ketua kelompok bertanggungjawab untuk harus menghadirkannya. Begitu juga, jika ada anggota kelompok yang nunggak angsuran, maka akan di tanggung rente semua anggota kelompok. Metode ini ternyata ampuh menekan tunggakan dari nasabah ibu-ibu rumah tangga prasejahtera tersebut. Selain itu, ketua kelompok juga menjadi lebih bertanggungjawab dan semangat memantau perkembangan usaha yang dijalankan oleh anggotanya. Program produk Mekaar lebih menanamkan komitmen ibu-ibu rumah tangga prasejahtera, seperti jujur, disiplin, kerja keras, gotong royong dan budaya menabung.

“Alhamdulillah dengan pola tanggung rente, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) untuk produk Mekaar ini terjaga di bawah 0,5 persen pada Oktober 2019,” beber Jimi.   

Dalam penyaluran pembiayaan produk Mekaar, PT PNM menerapkan tiga tahap. Tahap pertama, memberikan pembiayaan sebesar Rp 2 juta per orang, kemudian naik menjadi Rp 3 juta di tahap kedua dan tahap ketiga diberikan modal usaha sebesar Rp 5 juta. Setelah nasabah Mekaar dinilai naik kelas dari perkembangan usahanya, PT PNM mengarahkan ibu-ibu rumah tangga prasejahtera yang sudah berhasil melalui program produk Mekaar bisa mengakses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) di lembaga perbankan.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB Farid Faletehan terus gencar memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di pelosok daerah di NTB, agar menghindari pinjaman dari pelaku rentenir dan beralih memanfaatkan lembaga keuangan resmi, seperti salah satunya produk Mekaar dari PT PNM.

“Produk Mekaar ini cocok untuk masyarakat berpenghasilan kecil,” kata Farid Faletehan.  

Menurut Farid, produk Mekaar ini sangat membantu masyarakat kecil berpenghasilan rendah, utamanya ibu- ibu rumah tangga prasejahtera dalam membantu ekonomi keluarga yang membutuhkan pinjaman, baik untuk modal usaha dan lainnya.

Oleh sebab itu, Farid mendorong pihak PT PNM untuk terus memperluas jangkauan dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat pedesaan di kabupaten/kota, agar memanfaatkan produk Mekaar dan menghindari pinjaman dari rentenir, yang justru semakin memiskin ibu-ibu rumah tangga prasejahtera tersebut. Mengingat selama ini banyak dari mereka bergantung kepada rentenir untuk modal usaha.

“PT PNM melalui produk Mekaar ini sangat bagus memotong mata rantai rentenir di tengah masyarakat kecil di pedesaan. Maka perlu diperluas dan gencar melakukan sosialisasi,” kata Farid. (luk)