Meja Goyang Emas UGM Ramah Lingkungan

Meja Goyang Emas UGM Ramah Lingkungan
RAMAH LINGKUNGAN: Inilah meja goyang pengolahan emas yang ramah lingkungan ditemukan UGM. (FARUK/RADAR SUMBAWA)

TALIWANG-Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta memperkenalkan alat pengolahan emas ramah lingkungan, kemarin.

Alat tersebut diperkenalkan langsung peneliti dan mahasiswa UGM di Kecamatan Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat. Selain ramah lingkungan, alat yang menjadi temuan peneliti dari UGM ini juga terbilang cukup murah. ‘’Alatnya kami beri nama meja goyang. Cara kerjanya juga sederhana. Dan tentunya ramah lingkungan,’’ jelas Himawan Bayu, Peneliti UGM saat memberikan presentasi langsung di hadapan masyarakat dan perwakilan sejumlah penambang, kemarin.

Demonstrasi alat tersebut dilakukan langsung di Kantor Camat Seteluk. Himawan Bayu mengaku, selama ini para penambang tanpa ijin (PETI) kerap kali menggunakan bahan berbaya untuk mengolah emas. Dengan alat tersebut, penambang bisa menekan kerusakan lingkungan.  ‘’Kalau selama ini masyarakat menggunakan mercuri untuk memisahkan emas dengan batuan dan bahan tambang ikutan lain. Dengan alat ini, kita cukup menggunakan borak,’’ tandasnya.

Cara kerja alat tersebut juga cukup sederhana. Lumpur (material batu) yang sudah diolah (gelondong, red), dialirkan melalui pipa penyalur. Lumpur tersebut kemudian dialiri air dan melawati meja goyang. ‘’Cara kerjanya sederhana. Sama dengan kita mendulang emas. Nanti material emas dengan sendirinya akan terpisah dan mengumpul disatu tempat,’’ paparnya.

Meski belum sepenuhnya diproduksi massal, Himawan mengaku dibeberapa negara, alat tersebut sudah banyak digunakan. ‘’Bolovia dan Filipina sudah menggunakan alat ini. Yang menguntungkan, selain biayanya murah, pengolahan emas menggunakan alat tersebut juga ramah lingkungan,’’ tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat, H Hamzah yang ikut dalam simulasi ini memberikan apresiasi khusus. Selama ini, Pemda KSB terus mendorong bagaimana penambang di KSB menggunakan bahan ramah lingkungan dalam pengolahan emas. ‘’Kalau selama ini yang menjadi kendala kita itu, hampir semua penambang kita menggunakan mercuri untuk pengolahan emas. Nah dengan alat ini, penggunaan mercuri tidak lagi dibutuhkan. Karena cukup menggunakan borak, yang nantinya akan memisahkan emas dengan logam lain,’’ katanya.

Meski masih dalam tahap uji coba, H. Hamzah mengaku pemerintah akan terus memantau perkembangan alat tersebut. ‘’Kita akan terus melihat cara kerja alat ini. Karena memang, selama ini kita mencari formulasi baru, bagaimana kegiatan penambangan itu ramah lingkungan,’’ janjinya. (far)