Mataram Tertinggi Kasus HIV/AIDS di NTB

Pemkot Komit Lakukan Pengendalian Kasus

Ilustrasi HIV/AIDS
Ilustrasi HIV/AIDS

MATARAM-Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2017 menjadi momentum Pemerintah Kota Mataram meningkatkan komitmen pengendalian HIV/AIDS di daerah ini. Sebagaimana diketahui, Mataram adalah daerah di NTB yang paling tinggi kasus HIV/AIDS-nya.

Komitmen penanganan HIV/AIDS disampaikan oleh Wakil Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana saat konferensi pers bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram, Selasa (05/12).

Mohan mengatakan, peringatan Hari AIDS Sedunai menjadi momentum strategis terutama setelah adanya obat pengendali virus HIV yang disebut dengan ARV atau Anti Retro Viral yang memungkinkan penderita penyakit ini punya harapan untuk hidup.

BACA JUGA :  Segudang Bahaya Merokok terhadap Tubuh

Ditambahkan Mohan, momen ini juga jadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat agar dapat secara bersama-sama meningkatkan pengetahuan serta kepedulian mencegah penularan HIV/AIDS dan mengubah paradigma terkait HIV/AIDS sebagai penyakit yang dapat dikelola serta dapat diobati.

Komitmen Pemerintah Kota Mataram dibuktikan di semua sektor yang memberi dukungan secara masif dan signifikan. Diantaranya dengan mengalokasikan anggaran secara konsisten sejak tahun 2006 serta meningkatkan fasilitas penanganan HIV/ AIDS di 11 Puskesmas yang ada di enam kecamatan serta di RSUD Kota Mataram. “ Ini menjadi isu yang sangat penting. Di tahun 2030 nanti kita harapkan Kota Mataram dapat mencapai target 3 Zero, zero infeksi baru, zero kematian akibat HIV/AIDS, dan zero stigma dan diskriminasi,” ucapnya.

Puncak peringatan Hari AIDS sedunia di Kota Mataram akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember mendatang. Sekretaris KPA Kota Mataram dr. Margaretha Chepas didampingi narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB Kadek Mulyawan mengatakan, Mataram sebagai ibukota Provinsi NTB memiliki kasus HIV/AIDS tertinggi. Menurut data kolektif dari tahun 2001 sampai Oktober 2017, telah ditemukan 217 kasus HIV, 207 orang penderita AIDS dan 117 orang penderita meninggal dunia. Penderita juga tidak lagi sebatas pada kelompok masyarakat yang memiliki gaya hidup menyimpang,  namun sudah terjadi di lintas usia, lintas profesi, bahkan diantaranya adalah ibu rumah tangga dan anak-anak.” Mataram paling tinggi kasusnya dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di NTB,” katanya.

Meski demikian ini justru dianggap pertanda baik. Kasus yang terungkap memang sudah seharusnya lebih tinggi. “ Semakin banyak kasus yang terungkap itu akan lebih baik, karena kasus HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es,” ungkapnya.

Jika penemuan kasus semakin banyak berarti lebih banyak penderita memiliki akses layanan, dan artinya fenemena gunung es sudah mencair  sehingga target kedepan di tahun 2030 kasus HIV/ AIDS di Mataram bisa  turun dan fenomena gunung es yang terjadi selama ini bisa mencair.

BACA JUGA :  Dikes :Kenaikan Tarif Kesehatan Bukan Untuk Warga Miskin

Pihaknya berharap masyarakat lebih terlibat secara aktif dalam pencegahan penyebaran HIV/AIDS. KPA Kota Mataram sendiri saat ini telah melakukan terobosan yang melibatkan kelompok masyarakat terkecil dengan mobilisasi Dasa Wisma sebagai upaya peningkatan pemahaman masyarakat tentang HIV/ AIDS melalui pelatihan Kader Peduli AIDS. Selain itu pencegahan penularan juga dilakukan melalui edukasi kesehatan reproduksi dan prilaku hidup sehat bagi kalangan remaja, pemeriksaan HIV bagi ibu hamil, serta memberi kemudahan akses layanan HIV bagi penderita secara komprehensif dan berkesinambungan.

Sedangkan untuk memenuhi target nasional yang disebut dengan Target 90-90-90, dilakukan dengan strategi jalur cepat S-TOP. Yaitu; Suluh yang dalam hal ini melakukan penyuluhan agar masyarakat paham HIV, Temukan (90 persen ODHA atau Orang Dengan HIV AIDS mengetahui statusnya), Obati (90 persen ODHA mendapatkan terapi ARV), dan Pertahankan (90 persen penderita dengan terapi ARV tidak lagi terdeteksi virusnya).” Penderita HIV/AIDS melalui obat ARV  bisa dipertahankan kehidupannya,” ungkap Kadek.(ami)