Mataram Kekurangan Dokter Spesialis

H. Usman Hadi (Sudir/Radar Lombok)

MATARAM– Kota Mataram tercatat masih kekurangan  tenaga medis khususnya dokter spesialis di 11 Puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram H. Usman Hadi mengatakan itu kemarin. Sampai saat ini 11 Puskesmas di Kota Mataram masih kekurangan dokter. “ Untuk mengatasinya, kita pakai tenaga kontrak dokter dari lulusan Unram. Kami masih kesulitan pembayaran tenaga kontrak melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Daerah belum mampu mengontrak para tenaga medis, khusus dokter spesialis,” ungkapnya.

Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap proses akreditasi Puskesmas saat ini. Minimnya dokter spesialis juga berpengaruh terhadap pelayanan. Banyak pasien yang membutuhkan penanganan terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit. “ Kita hanya andalkan rumah sakit. Ketika ada sakit parah kita rujuk,” jelasnya.

Di Kota Mataram saat ini terdapat 10 rumah sakit dan klinik, 5 rumah sakit bersalin, 11 Puskesmas dan 23 Poskesdes.  Jumlah dokter sebanyak 402 orang, termasuk dokter praktek dan dokter spesialis 138 orang.
Dengan penduduk Kota Mataram sebanyak 427 ribu jiwa lebih, angka tenaga medis dokter belum cukup.

Ia mengatakan, dokter umum dan spesialis sebagian besar bekerja di rumah sakit swasta. "Sementara tidak semua masyarakat yang mampu berobat ke rumah sakit swasta, tentunya dengan pertimbangan enonomi,” katanya.

Idealnya satu Puskesmas memiliki empat dokter spesialis, dengan asumsi minimal satu Puskesmas sehari melayani 100 pasien. “ Namun kenyataannya untuk mendapatkan satu dokter saja sulit,” katanya.

Usman berharap Puskesmas untuk tetap mengutamakan pelayanan pada intinya. Meski banyak kekurangan, masih bisa teratasi dengan berkoordinasi dengan rumah sakit  untuk rujukan para pasien yang membutuhkan pelayanan medis lanjutan.

Sementara itu anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram Lalu Suriadi meminta Pemkot untuk serius terhadap penempatan dokter spesialis yang terutama yang diinginkan masyarakat di masing-masing Puskesmas. Sehingga pelayanan kesehatan menjadi hal utama. Seperti dokter spesialis kandungan balita gizi buruk. Hal ini untuk menekan angka kematian bayi maupun ibu melahirkan. Ia meminta Pemkot serius terhadap pelayanan kesehatan terutama penempatan dokter spesialis. Sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik.(dir)