Mataram dan Lobar Zona Merah Covid-19, Gubernur Pastikan Oksigen Aman

Stok oksigen aman di CV BBS Oxygen, Lingkar Selatan, Mataram. (IST/RADARLOMBOK)

MATARAM–Berdasarkan rilis covid-19 oleh Satgas Provinsi NTB per 22 Juli 2021, ada dua daerah di NTB yang berstatus zona merah atau risiko tinggi penyebaran covid-19, yakni Kota Mataram dan Lombok Barat. Adapun 8 kabupaten/kota lainnya di NTB berstatus zona orange atau zona risiko sedang.

Adapun dalam penanganan pasien positif, keberadaan tabung oksigen sangat dibutuhkan. Untuk itu, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah secara khusus mengecek ketersediaan stok oksigen di salah satu pelaku industri tabung oksigen di Kota Mataram CV. Bayu Bangun Sakti (BBS Oxygen), Jumat pagi (23/7/2021).

“Ini kita lakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa insyallah di NTB tidak ada kelangkaan (oksigen),” ucap Bung Zul sapaan akrab Gubernur NTB itu di sela-sela melakukan pengecekan.

BACA JUGA :  Hasil Sidang Isbat: Iduladha Jatuh pada 20 Juli 2021

Direktur CV BBS Oxygen, Mexdewa menegaskan, stok oksigen masih aman. Stok oksigen yang dimiliki setiap bulananya 220 ton terpasang. Pada pandemi ini permintaan mencapai 120 ton setiap bulan. “Jadi masih ada sisi dari stok yang kita miliki setiap bulan,” jelasnya.

Ia juga membatah soal adanya kabar jika terjadi kelangkaan oksigen. Terutama ke Pulau Sumbawa. Kalaupun pun sempat terjadi, karena persoalan distribusi yang mengalami keterlambatan, bukan masalah kelangkaan. “Semua itu masalah distribusi. Apalagi kemarin pada saat idul kurban jadi tidak ada sopir yang jalan dan butuh waktu. Bukan berarti ketersediaan kami di sini tidak ada tapi butuh waktu,” tepisnya.

BACA JUGA :  Rumah Warga yang Isolasi Mandiri Akan Dipasang Stiker

Mexdewa juga menuturnya, sejak 29 Juni lalu karyawannya kerja terus tidak mengenal libur karena terjadi lonjakan permintaan oksigen. Tetapi pada saat libur Iduladha tentunya karyawan libur. Sehingga terjadi keterlambatan pendistribusian ke Pulau Sumbawa.

Meski terjadi lonjakan permintaan, lanjut Mexdewa, pihaknya tidak menaikkan harga oksigen per kilogram. “Kita masih per kilogram Rp 16.500 sudah termasuk PPH (pajak) dan sudah diterima di RS,” bebernya.

Selain ketersediaan stok oksigen yang masih aman, lanjut Mexdewa untuk kertersediaan tabung oksigen juga masih terkendali sampai saat ini. “Sekitar 3000-an tabung oksigen yang habis kita distribusikan di NTB yang muter terus,” katanya. (sal)