Masyarakat Suangi Keluhkan Dam Pandanduri

KUNJUNGAN: Dandim 1615 Lotim, Letkol Inf H.Musthofa, SIP, didampingi Danramil dan Kapolsek Sakra, ketika berkunjung ke Bendungan Pandanduri, Sabtu (3/12) (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Bendungan Pandanduri yang merupakan bendungan terbesar di NTB, namun keberadaannya ternyata banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Tak hanya warga di kawasan selatan Lotim dan Sakra Timur saja yang mengeluh, namun masyarakat yang berada di sekitar bendungan ini juga mengaku belum merasakan dampaknya.

Seperti yang disampaikan Amaq Sapri, salah seorang patani asal Desa Suangi, Kecamatan Sakra, yang mengatakan bahwa sejak mulai beroprasinya Dam Pandanduri, banyak masyarakat yang hingga kini belum merasakan air Dam Pandanduri secara gratis. Pasalnya, untuk bisa mendapatkan air dari bendungan tersebut, masyarakat harus membeli bensin untuk mesin penyedot air hingga ratusan liter, untuk mengairi sawahnya.

“Pemerintah sebenarnya sudah membelikan mesin untuk mengairi sawah. Akan tetapi mesin ini tentu tidak bisa hidup jika tidak mempunya bensin. Hal sepert ini bahkan sudah terjadi selama empat tahun. Namun pemerintah seakan akan tutup mata akan hal ini,” sesalnya.

Luas persawahan di Desa Suangi, yang sekitar 140 hektar, hingga kini masih belum merasakan dampaknya Pandanduri, kalau para petani tidak melakukan penyedotan sendiri. Artinya, ketika masyarakat Desa Suangi tidak memiliki dana, dan air sudah berkurang, maka masyarakat akan membayar buruh untuk menurunkan mesin hingga ke bawah.

“Mungkin untuk saat ini petani masih bisa membawa sendirian. Namun ketika air sudah mulai berkurang, selain butuh BBM, kita juga harus mencari tenaga untuk membantu menurunkan mesin,” keluh Amaq Sapri.

BACA JUGA :  Dinas PU Masih Kaji Pemanfaatan Dam Pandan Duri

Dikatakan, pada tahun 2017 masyarakat mendengar akan ada pembukaan pintu air untuk masyarakat Desa Suangi melalui Sadal 6. Namun menurut Amaq Sapri, jika Sadal 6 yang dibuka, maka masih ada Perdusunan yang belum bisa mendapatkan air, karena lokasi dusun ini berada di tempat yang lebih tinggi. ”Ini sebenarnya yang kita pikirkan. Kita saja yang menjadi  korban tidak mendapat perhatian penuh dari pemerintah, apalagi masyarakat yang lebih jauh,” bebernya.

Seperti ketika Sabtu lalu (3/12), Komandan Kodim (Dandim) Lotim, Letkol Inf H. Musthofa S.I.P mengunjungi Bendungan Pandanduri, dan mengadakan berdialog langsung dengan penjaga bendungan. Dalam dialog tersebut, Dandim Lotim ini menanyakan penggunaan Dam Pandanduri yang hingga kini belum makimal.

Selain itu, Dandim juga menanyakan mengenai irigasi yang diperuntukkan untuk wilayah Sakra Timur, yang hingga kini juga banyak dikeluhkan masyarakat. Hanya saja, pertanyaan Dandim Lotim itu mendapat jawaban, kalau Bendungan Pandanduri dibangun memang bukan untuk wilayah timur, melainkan untuk wilayah selatan saja.

“Informasi yang saya dapat, kalau untuk Kecamatan Sakra Timur tidak akan menggunakan Dam Pandanduri, melainkan akan dibuatkan bendungan baru yang khusus untuk Sakra Timur,” jelas Pamungkas, selaku OP Pandanduri kepada Dandim 1615 Lotim. (cr-wan)