Masyarakat Masih Kesulitan Membeli Pertalite

DIPANGKAS : Masyarakat masih kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite di SPBU di Kota Mataram, karena Pertamina memangkas pasokan dari 16.000 liter per hari menjadi 8000 liter per hari yang habis setengah hari. (DEVI HANDAYANI/ RADAR LOMBOK )

MATARAM – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang pasokannya dikurangi dari 16.000 liter menjadi 8.000 liter dikeluhkan oleh masyarakat. Pasalnya, masyarakat kesulitan untuk mendapatkan pertalite, sehingga terpaksa menggunakan BBM jenis Pertamax.

Kelangkaan BBM jenis Pertalite sudah langka sepekan belakangan ini. Kelangkaan Pertalite ini disebabkan pemangkasan pasokan kepada SPBU oleh pihak Pertamina. Jika sebelumnya untuk BBM jenis Premium di SPBU yang ada di Kota Mataram sudah dihapus, kini giliran Pertalite mulai langka di SPBU karena pengurangan pasokan oleh Pertamina.

Jika sebelumnya Pertamina mengaku akan kembali menambahkan pasokan BBM Pertalite, ternyata tidak terbukti. Karena hingga Minggu sore (8/8), sejumlah SPBU di Kota Mataram nampak kosong Pertalite. Pengguna kendaraan akhirnya membeli Pertamax yang harganya jauh lebih mahal.

Salah satunya dirasakan oleh Denny teknisi listrik ini mengaku, dirinya sudah hampir satu bulan kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite untuk mobil pikap yang digunakan untuk jualan. Mau tidak mau dirinya terpaksa beralih menggunakan Pertamax, karena tidak memungkinkan baginya berkeliling ke beberapa Statiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mencari Pertalite. Sementara untuk Premium di SPBU di Kota Mataram sudah tidak ada dijual.

“Susah dicari, kalau beli tidak dibatasi. Pikap saya ini untuk jualan pakai Pertalite, jadi sudah beberapa kali isi Pertamax karena tidak ada Pertalite,” tutur Denny, kepada Radar Lombok, Minggu (8/8).

BACA JUGA :  Buntut Mosi Tidak Percaya Kadis, BKD Panggil Pejabat Dishub

Jika terus menurus harus menggunakan Pertamax untuk kendaraan kerjanya pengeluarannya semakin berat, karena menambah beban. Mengingat harga Pertamax lebih tinggi dibandingkan Pertalite, apalagi sudah tidak adanya BBM jenis Premium dibeberapa SPBU. Belum lagi saat ini selama pandemi Covid-19 pendapatan usaha lagi anjlok dan kondisi ekonomi dalam masa sulit.

“Ibarat bensin Rp100 ribu buat seminggu kalau isi Pertalite. Jadi kalau pakai Pertamax kurang seminggu habis, nambah beban pengeluaran buat bensin,” keluhnya.

Kesulitan mendapatkan Pertalite ini tidak hanya di SPBU saja, tetapi beberapa penjual eceran pun mengalami hal sama kesulitan mendapatkan Pertalite untuk dijual lagi.

“Kemarin juga sempat isi eceran, terus ibu yang jual ngeluh juga susah dapat Pertalite,” ungkapnya.

Lain halnya, Roy mengatakan, sejauh ini untuk mengisi Pertalite pada kendaran roda dua tidak ada kesulitan. Karena di SPBU tempatnya mengisi masih tersedia ketika pagi hari sekitaran jam 11 siang, yakni seperti di Gerimak.

“Masih aman kok kalau untuk kendaraan motor, karena isinya Rp20 ribu, kalau yang mobil mungkin dibatasi,” ujarnya.

Dikatakan, jika memang Pertalite tidak tersedia mau tidak mau harus beralih pada Pertamax. Tetapi kondisi tersebut tidak menjadi persoalan jika memang harus beralih menggunakan Pertamax.

BACA JUGA :  617 Pelamar CPNS Pemprov NTB Ajukan Sanggahan

“Kalau tidak ada ya pakai Pertamax, daripada harus keliling nyari-nyari SPBU yang jual Pertalite,” tuturnya.

Senada, Setiawati mengaku untuk pembelian Pertalite masih didapatkan, baik mengisi di SPBU maupun di eceran, karena masih tersedia sejauh ini. Sehingga tidak ada kekhawatiran tidak tersedianya Pertalite, terutama untuk kendaraan roda dua.

“Iya mungkin karena tangki mobil lebih besar, mereka minimal ngisi Rp 50-100 ribu. Tapi buat pengguna motor cuma isi Rp 20-25 ribu doang sejauh ini aman,” katanya.

Berdasarkan pantauan Radar Lombok di SPBU Jalan Adi Sucipto dan SPBU Ampenan antrian untuk pembelian BBM jenis Pertalite tidak terlalu banyak ketika siang hari diatas jam 10.00 Wita. Bahkan persediannya masih ada, dibeberapa jalur pengisian. Hanya ada beberapa kendaraan saja antri.

“Bukan dikurangi tapi di batasin sekarang makanya cuma 8000 liter, tergantung juga dari pesannya berapa banyak,” ujar salah seorang Petugas SPBU di Jalan Adi Sucipto.

Pembatasan pasokan memang ada dilakukan dari 16.000 liter menjadi 8000 liter. Meskipun ketersedian ini sedikit masih mencukupi permintaan masyarakat yang ada disekitar wilayah SPBU. Kendati jika dalam keadaan ramai persediaan akan cepat habis dan keesokan hari kembali dipasok.

“8000 liter itu biasanya kalau ramai setengah hari sudah habis. Tapi kalau sepi begini bisa sampai malam,” katanya. (dev)