Masyarakat Lotim Banyak Beralih Jadi Nelayan

Masyarakat Lotim Banyak Beralih Jadi Nelayan
ALIH PROFESI: Keterbatasan lahan pertanian, masyarakat di Lotim banyak yang alih profesi menjadi nelayan, meskipun mereka tidak memiliki keahlian di bidang itu. Tampak deretan perahu nelayan di salah satu wilayah pesisir Lotim. (DOK/RADAR LOMBOK)

SELONG—Keterbatasan lahan pertanian menjadi salah satu penyebab berkurangnya ketersediaan lapangan kerja di Lombok Timur (Lotim). Padahal sebagian besar masyarakat Lotim hidupnya bergantung dari sektor pertanian. Keterbatasan lahan pertanian itu juga menyebabkan sebagian dari masyarakat Lotim beralih profesi menjadi nelayan.

Padahal, masyarakat  yang beralih profesi sebagai nelayan ini sepenuhnya tidak memiliki keahlian dalam bidang itu. Akibatnya, mereka hanya mengandalkan menjadi nelayan tangkap tradisional saja, karena minimnya pengetahuan dan keterampilan.

Inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya fluktuasi harga ikan di wilayah Lotim. “Kita mengalami keterbatasan lahan pertanian. Sebagian besar yang tidak memiliki pekerjaan adalah mereka yang berprofesi sebagai petani. Mereka pun akhirnya memilih menjadi nelayan,” ungkap Bupati Lotim, Ali BD, ketika memberikan materi tentang pemberdayaan masyarakat pesisir, Rabu (19/4).

Dikatakan, di Lotim sendiri saat ini hanya ada sekitar 42 persen kepala keluarga yang memiliki lahan pertanian. Masing-masing dari mereka hanya memiliki luas lahan sekitar 50 are saja, baik itu lahan kering maupun basah. “Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat tidak memiliki pekerjaan tetap,” lanjutnya.

Menyikapi persoalan itu, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi maupaun kabupaten, untuk pemberdayaan masyarakat pesisir. Namun selama ini pemberdayaan masyarakat pesisir kebanyakan diberikan untuk nelayan yang berada di wilayah selatan saja.

“Padahal di wilayah utara, tak sedikit dari masyarakat yang tinggal di pesisir. Tapi mereka kurang diberikan perhatian. Meskian demikian, mereka tidak pernah mengeluh,” ungkap Bupati Ali BD.

Terkait pemberdayaan masyarakat pesisir ini katanya, pemerintah sendiri telah memberikan berbagai jenis bantuan kepada para nelayan. Bantuan yang diberikan itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun yang terjadi, bantuan itu ternyata tidak membuat para nelayan menjadi mandiri. Mereka justeru bergantung dengan bantuan itu. “Bahkan ada beberapa proyek yang dibayai oleh APBN dan Pemprov untuk nelayan itu tidak berjalan dengan baik. Misalnya pembangunan dermaga untuk nelayan, tapi tidak bisa digunakan oleh nelayan,” sebut Ali BD.

Kesempatan itu, Bupati Lotim juga menyambut baik adanya pendampingan yang dilakukan oleh IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) untuk pemberdayaan masyarakat pesisir. Pihaknya berharap dengan kegiatan itu akan mampu meningkatkan kesejahteran masyarakat, khususnya yang ada di pesisir. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid