Masih Ada Warga yang Tinggal di Tenda

Diterpa Hujan dan Angin, Tidur Berhimpitan

Masih Ada Warga yang Tinggal di Tenda
TENDA : Sakmah, warga Tegal Kelurahan Selagalas masih tinggal di tenda sejak bulan September tahun lalu. (Ali/Radar Lombok)

Sudah sekitar enam bulan berlalu sejak gempa mengguncang Lombok tahun lalu. Meski begitu, hingga kini masih ada warga yang tinggal di tenda. Salah satunya keluarga yang ada di Kota Mataram ini.


ALI MA’SUM-MATARAM


Tenda yang berdiri itu milik Sakmah, seorang ibu rumah tangga di Lingkungan Tegal Kelurahan Selagalas Kecamatan Sandubaya Kota Mataram. Ia dan keluarga masih tinggal di tenda sembari menunggu rumahnya selesai dibangun.

Lingkungan Tegal berada di ujung timur Kota Mataram, masuk Kelurahan Selagalas Kecamatan Sandubaya. Saat gempa dulu, kerusakan di kampung ini parah. Sekitar 400 rumah rusak, baik rusak berat, sedang maupun ringan. Saat ini proses pembangunan rumah warga masih berjalan. Tidak sedikit yang belum selesai pengerjaannya. Nah, masih ada yang tinggal di tenda sambil menunggu rumah mereka selesai dibangun.

BACA JUGA: Bupati Lotim Usahakan Korban Gempa Diberikan Bantuan

Tenda milik perempuan 46 tahun ini masih berdiri tegak.” Sekarang proses pembangunan rumah sekitar 60 persen. Jadi kami masih tinggal di tenda,” ungkapnya kepada Radar Lombok di Mataram kemarin.

Tenda yang dibangun menggunakan terpal berwarna biru. Ukurannya cukup sempit, 2,5 meter x 3 meter. Di dalamnya terdapat kasur dan tikar. Tenda ini digunakannya bersama suami dan dua anaknya. Banyak kejadian yang dirasakan saat tinggal di tenda. Terlebih kondisi cuaca yang sering berubah-ubah. Seperti hujan deras dan angin kencang.” Saat hujan besar, airnya masuk ke dalam tenda. Dua anak kami yang menggunakan kasur. Saya bersama suami di bawah kadang basah terkena air hujan,” katanya.

Belum lagi saat angin kencang. Tenda miliknya cukup sering terlepas. Tenda juga beberapa kali diperbaiki. Saat ini kondisinya sudah usang.” Kami terkadang berhimpitan di tenda. Apalagi kalau sudah musim hujan,” imbuhnya.

Setelah gempa, ia mengaku sempat mengungsi di sawah bersama keluarga. Namun tidak bertahan lama karena lokasinya sangat jauh pas mengambil air.” Setelah itu kita bangun tenda di depan rumah sampai sekarang,” ungkapnya.

Matanya mulai berkaca saat bercerita tentang rumahnya yang rusak. Masih segar di ingatannya saat rumah mungil yang baru ditempatinya kurang lebih lima bulan itu hancur. Padahal ia membangun rumah modal pinjaman di bank. Situasi makin berat dirasakan karena pihak bank tetap menagih.” Saya kerja keras untuk bayar tagihan agar nama saya tidak rusak di bank. Suami kerjanya kuli dengan pendapatan Rp 15 ribu. Dia kadang juga jadi peladen. Itu sangat membantu kami,” terang perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur keliling ini.

BACA JUGA: Gempa Kembali Guncang Lombok, Tiga Wisatawan Tewas, Ratusan Rumah Rusak

Saat ini rumahnya dalam proses pembangunan. Ia berharap bisa cepat diselesaikan. Walaupun ada rumah keluarga di samping rumahnya, namun tidak berani ditempati karena kondisnya juga sangat menghawatirkan. Temboknya sangat parah. Apalagi ditambah dengan gempa tanggal 17 Maret lalu. Ia dan keluarga masih trauma. “Kita tidak berani ngapai-ngapain di dalam rumah. Masih trauma juga karena suami saya sempat ditimpa batako. Semoga rumah kami cepat selesai dibangun,” katanya.

Kepala Dinas Perkim Kota Mataram, H. Kemal Islam mengakui masih banyak rumah warga terdampak belum selesai dibangun. Juga diakuinya beberapa warga masih tinggal di tenda. “ Itu kan sambil menunggu rumahnya selesai dibangun. Tidak apa-apa mungkin mereka masih trauma,” ungkap Kemal.(*)