Marshal Banyak yang Mengundurkan Diri

Bram Subiantono (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Di balik mundurnya pelaksanaan event Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) 2021 mengungkap berbagai fakta. Salah satunya adalah persoalan tenaga marshal sirkuit yang diketahui tidak responsif.

Para tenaga marshal ini bahkan beramai-ramai pilih mundur dari pada sakit hati. Bagaimana tidak, jika mereka bertahan maka terancam kelaparan. Fakta ini diungkap langsung para tenaga marshal yang tak sanggup bertugas sebelum jadwal balap dimulai. Salah satu alasannya adalah mereka tak diberikan makan dan minim serta permasalahan lainnya.

Karena alasan ini juga, para marshal memilih tidak datang saat jadwal balapan akan dimulai pada Sabtu (14/11) lalu. “Kalau masalah makan minum itu memang benar kita tidak dikasih selama pelatihan. Terus pas hari Sabtu, pas acara race-nya kita dapat makan cuma sekali. Itu pun pukul 15.00 Wita dan minum juga dan Minggu. Makanya saya tidak datang karena sudah mengundurkan diri,” ungkap salah satu marshal yang meminta identitasnya tidak disebut saat dihubungi Radar Lombok, Senin (15/11).

Dia mengaku, jumlah marshal ini ada 250 orang. Sementara persiapan yang dilakukan panitia sangat kurang. Kostum yang mereka gunakan juga ternyata setelah selesai bertugas, maka kostum tersebut dikumpulkan lagi. Tak pelak, kostum itu sudah bercampur dengan keringat marshal lainnya. Semua ini dirinya menjadi khawatir bahwa kostum itu akan menjadi sarang penyakit ketika digunakan kembali. “Saya berharap mereka (panitia, red) berbenah untuk menyelenggarakan event-event international berikutnya. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi pihak panitia agar menjadi lebih baik lagi kedepannya. Soal perhatian panitia ke marshall itu yang saya permasalahkan. Yang saya sampaikan ini fakta yang saya alami, sepertinya semua marshall merasakan hal yang sama seperti saya,” katanya.

Namun, beda halnya dengan yang disampaikan marshal lainnya, Gusti Sempane Gare asal Desa Sukadana Kecamatan Pujut. Meski tidak dinafikan bahwa permasalahan makanan yang telat namun pihaknya mengaku bahwa permasalahan sudah diselesaikan. Karena memang MGPA juga baru pertama melakukan sehingga sama-sama melakukan pembenahan dan sebenarnya mereka sangat semangat menjadi marshal. “Sebenarnya kita akui MGPA banyak tugas yang belum diselesaikan di sirkuit. Kemarin untuk pelatihan marshal pertama kali praktik di sirkuit hari Sabtu saat kualifikasi IATC itu. Terkait tidak adanya simulasi marshal ini setelah kami berbincang dengan pihak MGPA, ternyata rice star baru jadi tiga hari lalu membuat tidak memungkinkan dilakukan simulasi sebelumnya,” ungkap Gusti Sempane Gare saat dihubungi Radar Lombok.

Yang menjadi permasalahan bagi para marshal terkait konsumsi yang selalu terlambat. Mengingat para marshal diminta datang pada pukul 06.00 Wita atau pagi dan tidak sempat sarapan di rumah. Terlebih sebelum pukul 06.00 Wita mereka sudah mempersiapkan diri dari rumah menuju sirkuit. “Kemarin tim marshal memang kelaparan dan hanya dikasih air minum. Tapi malah membuat kita semakin lapar karena kita dikasih makan di atas jam 12.00 Wita. Kita sebenarnya bisa istirahat juga saat di pos tapi kita tidak tahu kenapa bisa telat memberikan konsumsi,” ungkapnya.

Gusti juga mengaku sudah bertemu dengan pihak MGPA dan mendapatkan penjelasan bahwa semua bukan sepenuhnya kesalahan marshal. Marshal bersama MGPA juga sama-sama pertama kali dalam melaksanakan balapan ini, sehingga membutuhkan proses dan menjadi pembelajaran. “Ini menjadi bahan evaluasi kita semua, karena memang baru pertama,” tegasnya.

Gusti juga membantah ketidakhadiran marshal seperti yang disampaikan salah satu marshal lainnya. Mengingat semua marshal yang dinyatakan lulus diakuinya hadir. Bahkan para marshal diakuinya sangat bersemangat. Namun ternyata di setiap pos ada kekurangan marshal dengan alasan adanya penambahan pos, terutama di track yang rawan. “Yang dinyatakan lulus ada 250 dan disebar di setiap pos yang hari Sabtu ada 28 pos dan hari Minggu ditambah menjadi 32 pos. Yang jelas teman-teman sangat bersemangat menjadi marshal. Bahkan kita tidak membicarakan gaji dan kita sudah sepakat tidak membicarakan gaji. Teman-teman marshal hanya permasalahkan konsumsi saja tapi setelah evaluasi sudah membaik,” tegasnya.

BACA JUGA :  Gerhana Bulan Sebagian pada Hari Pertama WSBK Mandalika 19 November

Chief Strategic and Communication Officer MGPA, Happy Harinto ketika dikonfirmasi terkait keterlambatan makanan yang datang malah ogah disalahkan. Sementara untuk baju marshal yang digabung sudah di-laundry. “Oops darimana beritanya mas? Laaah kan (kalau baju, red) sudah di-laundry siang ini. (Makanan yang telat, red) salahkan supplier-nya,” lemparnya.

Direktur Operasional ITDC, Bram Subiantono menambahkan, pemegang kendali sebuah race balapan motor berkelas internasional dari pihak Dorna Sport dan Federation Internationale de Motocylisme (FIM) sebagai safety koordinator yang menentukan apakah sebuah race bisa  dilaksanakan atau tidak. Bahkan mereka sepakat untuk ditunda gelaran IATC  karena ada hal-hal yang masih belum dipenuhi untuk faktor keselamatan pembalap. “Tapi bukan dibatalkan tetapi ditunda sehingga kita masih diberi waktu untuk memperbaiki, apapun yang harus kita perbaiki,” jelas Bram saat ditemui saat di pendopo Gubernur NTB, Senin (15/11).

Terlebih dalam waktu dekat, pada 19 November akan digelar event balapan World Superbike (WorldSBK) sampai tanggal 21 November 2021. “Jadi kita diberikan waktu empat sampai lima hari untuk menyelesaikan permasalahan. Apapun yang di minta FIM atau Dorna untuk bisa selesaikan,” katanya.

Saat ditanya lebih spesifik yang menjadi permasalahan sehingga gelaran IATC 2021 ditunda dari jadwal sebelumnya, Bram belum dapat menyimpulkan secara detail. Karena hingga saat ini pihaknya juga masih melakukan koordinasi dengan Dorna Sport dan FIM yang melihan ada kurang sepurna sehingga harus diperbaiki lagi. Karena jika dilanjukkan race IATC dari pihak  Dorna dan FIM melihat tidak aman dari sisi pembalap. Sehingga pihaknya diberikan kesempatan untuk memperbaiki. “Makanya kami sedang berkoordinasi dengan mereka (Dorna dan FIM) apa saja sebetulnya yang harus diperbaiki. Lalu bagaimana cara memperbaiki sehingga nanti tanggal 19 November kita semua sudah siap,” ucapnya.

Sementara mengenai beredar kabar soal adanya permasalahan Marshal, Bram enggan mengomentari soal tersebut. Karena hal itu sudah menjadi tanggungjawab dari Ikatan Motor Indonesia (IMI). “Tapi intinya adalah kita semua bekerjasama dengan IMI, Dorna dan FIM, itu sedang menyelesaikan dan mengkoordinasikan semuanya supaya bisa diselesaikan,” tegasnya.

Bahkan pihaknya juga saat ini belum dapat membeberkan apa menjadi letak permasalahan yang terjadi. Karena hal tersebut masih dilakukan koordinasikan dengan FIM dan Dorna. “Kita rasa dalam waktu 4 sampai 5 hari ini kita akan mendapatkan, apapun yang nanti kita koordinasikan sama mereka. Apa yang harus dibetulkan sehingga dari FIM, Dorna dan IMI unjungnya akan bisa menyelesaikan itu,” tambahnya.

Hal yang sama juga saat ditanya soal berapa jumlah marshal yang diperlukan, Bram, enggan membebarkan karena hal tersebut bukan menjadi kewenangan pihaknya. Karena hal tersebut sangat tehnis yang menjadi domen pihak penyelenggaran baik dari FIM, Dorna, MGPA dan IMI. “Kami secara pribadi,  ITDC tidak berhak soal itu, karena kami bukan penyelenggaranya. Tapi penyelenggaranya adalah MGPA, IMI, Dorna dan FIM. Kalau kami menyebutkan angka nanti salah. Jadi saya tidak mau terjebak ke angka-angka detailnya dan spesifikasi tehnis segala macam,” katanya.

Yang jelas, kata Bram, pihaknya selaku pengelola menyakinkan kepada masyarakat bahwa gelaran event WorldSBK akan terselenggara pada 19 November dengan adanya tambahan race untuk gelaran IATC. “Kami menyakinkan kepada masyarakat, teman-teman, rekan-rekan semua yang ada di sini, kita usahakan tanggal 19 November tetap digelar WorldSBK dan kita sekarang dapat tambahan race-nya adalah IATC yang seharusnya digelar kemarin (Minggu,red) menjadi pada tanggal 19-21 November 2021,” sambungnya.

BACA JUGA :  Warga Tak Bisa Lagi Nonton dari Pohon

Ia juga mengeskan, tidak ada kerugian yang ditembulkan karena gelaran race IATC tidak jadi digelar pada Minggu kemarin. “Kalau untuk kerugian yang ditembulkan tidak ada. Tapi kami mohon maaf kepada masyarakat karena tidak bisa mempersembahkan gelaran IATC,” ucapnya.

Karena hal tersebut, sudah menjadi domen dari pihak FIM yang mengontrol semua jalannta balapan internasional yang membawahi IMI. “Sehingga tadi malam (Minggu malam) IMI sudah menyatakan ini menjadi tanggungjawab IMI dan saya kira semua bisa diselesaikan dan sekarang kita sedang koordinasi, apapun itu permasalahannya agar tanggal 19 November lebih baik lagi,” tutupnya.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah menambahkan, apapun yang menjadi permasalahan sehingga gelaran event IATC terpaksa harus ditunda. Tentu tetap akan dijadikan sebagai pelajaran sehingga di race selanjutnya tidak terulang kembali kejadia serupa.  “Ini adalah pelajaran yang luar biasa untuk kita. Namanya ini baru, tentu ada pembelajaran, ada ketidak sepurnaan. Apalagi kita ada semangat untuk berdayakan masyarakat lokal kita,” ucapnya.

Gubernur juga mengatakan, tidak mungkin juga kali pertama dilaksanakan langsung sukses penyelenggaraan. Apalagi ini event berkalas internasional tentu ada saja kekurang dan ketidak sepurnaan maupun kesalahan itu sangat wajar terjadi. “Yang penting kita maknai kekurangan ini sebagai cara mengakselerasi pembelajaran sehingga momen seterusnya pada World Superbike nanti tanggal 19 sampai 21 November kemudian position motogp pada Februari 2022 dan MotoGP dan kita sudah mengakomulasi berdasarkan masukan-masukan atau kelemahan-kelemahan yang ada untuk perbaikan kedepannya,” tambahnya.

Mengenai permasalahan marshal, kata Gubernur, juga menjadi masukn agar lebih realistis dalam menempatkan seseorang sesuai kompetensi dan kapasitasnya. Sehingga kesalahan-kesalahan tidak terjadi. “Dan ini juga masukan bagi kita agar lebih realistis juga. Ada hal-hal yang mungkin tidak bisa dipaksakan untuk orang lokal dalam kebutuhan mendesak kita juga harus terbuka menerima saudara kita yang lain,” katanya.

Jangan mentang-mentang harus diberdayakan orang lokal tetapi tidak melihat dari sisi kompetensi yang dimiliki tentu hal tersebut tidak bisa dipaksakan. “Moga dengan kekeliruan dan ketidak sempurnaan ini menyadarkan kita juga tidak boleh lagi pokoknya harus kita, putra daerah ini harus mulai terbuka,” katanya.

Karena menurutnya, ada hal-hal yang butuh waktu untuk dipelajari, terlebih gelaran event tinggal seminggu lagi harus diperlukan memang orang yang sudah paham tentang apa yang akan ditugaskan. “Jadi berlajar bersama mungkin yang sudah ahli satu didampingi oleh orang yang lokal sebagai bentuk pembelajaran di kemudian hari tinggal dimonifikasi saja,” katanya.

Soal apakah kurang persiapan Marshal, kata Gubernur pihaknya tidak tahu menahu soal itu, karena Pemda bukan selaku penyelenggaran. Tapi itu tanggangjung jawab MGPA bagaimana melatih Marshal bagaimana merekrut dan lain sebagainya. “Dan kemarin itu namanya baru ada adjustment-adjustmentlah karena ini ada kultur baru juga, baik dalam disiplin, peralatan harus raedy setiap saat. Jangan-jangan yang saya dengar ada peralatannya ada yang baru tiba sehingga tidak sempat dilatih secara intensif,” tuturnya.

Yang jelas, sambungnya,pihaknya akan memastikan jika hal serupa tidak terulang lagi digelaran event selanjutnya. Terlebih dalam gelaran event WorldSBK yang tinggal menghitung hari lagi akan digelar di Sirkuit Mandalika. “Tapi di WSBK tidak terjadi lagi,” tegasnya. (met/sal)