Malam Selikuran, Warga Karang Genteng Nyalakan ‘Dile Jojor’

KOMPAK : Ratusan warga Lingkungan Karang Genteng menyambut malam ke-21 Ramadan dengan tradisi keliling kampung dan nyalakan 'dile jojor'. (SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Tradisi menyambut malam 21 Ramadan atau disebut juga malam selikuran  dipertahankan warga Lingkungan Karang Genteng, Kelurahan Pagutan. Warga memiliki tradisi khas pada bulan Ramadan. Mereka menyalakan ‘dile jojor’, sejenis obor yang terbuat dari racikan minyak buah nyamplung atau buah jarak dan kapas kapuk.

Oleh warga setempat, tradisi ini disebut dengan tradisi ‘maleman’. Mereka keliling kampung, warga  berbondong-bondong menyalakan ‘dile jojor’ yang dibuat secara tradisional. Salah seorang tokoh pemuda setempat, Irwan menuturkan, bahwa tradisi yang telah turun temurun dilestarikan masyarakat setempat itu sebagai salah satu wujud untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Sekaligus untuk merayakan Nuzulul Qur’an. ‘’Sejak pandemi sempat vakum dua tahun. Sekarang ini sudah bebas dari pandemi sehingga warga berbodong-bondong keluar menyambut malam ke-21 Ramadan,’’ katanya kepada Radar Lombok, Senin (11/4) malam lalu.

Selain itu, tradisi ini juga untuk mengingat sanak saudara yang telah lebih dulu meninggal dunia. Di mana ‘dile jojor’’ dinyalakan secara bersama-sama di area pemakaman umum setempat dan beberapa gang setempat. “Makanya kami beserta warga di sini mengaplikasikannya dalam bentuk membakar ‘dile jojor’ di kuburan maupun tempat-tempat yang sepi dan gang jalan yang dilalui warga saat malam hari,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Talud Ambrol, Rumah Warga Nyaris Roboh

Tanpa warga ramai-ramai menyalakan dile jojor tidak hanya terpancar dari para orang tua yang ikut serta, tetapi juga para pemuda hingga anak-anak yang tak kalah antusiasnya. “Selain itu juga supaya kita flashback ke zaman dahulu, karena waktu itu belum ada penerangan lampu,’’ ujarnya.

Sebelum pembakaran ‘dile jojor’ ini dilakukan secara bersamaan. Masyarakat bersama para tokoh agama terlebih dahulu melaksanakan buka puasa bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan zikir dan doa di masjid. “Itu sebagai prosesi awalnya, tapi yang paling bagus itu adalah peringatan ‘dile jojor’ ini juga untuk menjadi langkah awal untuk masyarakat melaksanakan fitrahnya. Misalnya warga habis tarawih, malam ini juga awal orang-orang untuk pergi melaksanakan kegiatan penyaluran zakat fitrah ke warga yang membutuhkan,’’ singkatnya.

Baca Juga :  Biaya Seragam Sekolah Kuras Kantong Wali Siswa

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang menyebutkan, beberapa aktivitas di malam perayaan Ramadan dan tradisi yang digalakan warga disambut baik Pemkot Mataram. pihaknya juga terus melakukan pemantuan di beberapa titik, beberapa daerah rawan sudah mulai terkontrol. Termasuk balap liar, balap lari, maupun beberapa aktivitas anak muda telah diawasi. ‘’Sepuluh hari menjelang Idul Fitri, aktivitas semakin ramai. Pemkot Mataram terus melakukan persiapan pengamanan, beberapa titik keramaian, teramsuk pengamanan saat beberapa perayaan tradisi warga saat malam Ramadan,’’ katanya. (dir)

Komentar Anda