Makin Parah, NTB Lampaui Bali

Jumlah Pasien Positif Corona Tembus 195 Orang

URUTAN KETUJUH : Provinsi NTB kini berada pada urutan ketujuh dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi dari 34 Provinsi di Indonesia, Minggu (26/4).
URUTAN KETUJUH : Provinsi NTB kini berada pada urutan ketujuh dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi dari 34 Provinsi di Indonesia, Minggu (26/4).

MATARAM – Provinsi NTB mencatat kenaikan jumlah orang yang positif Covid-19 hingga 195 kasus pada hari Minggu (26/4). Posisi NTB merangkak ke urutan tujuh dengan jumlah kasus tertinggi dari 34 provinsi di Indonesia. 

Tingginya angka kasus positif di NTB, tidak lepas dari rendahnya kesadaran sebagian masyarakat. Berbagai imbauan pemerintah tidak ditaati. Akibatnya, virus corona semakin berkembang secara masif. “Memang akan terus naik jumlah kasus positif sampai Minggu ketiga Mei, bahkan akhir Mei,” ucap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik kepada Radar Lombok, Minggu (26/4).

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah kasus positif Covid-19 hingga tanggal 26 April mencapai 8.882 kasus. Jumlah orang yang telah meninggal akibat corona sudah sebanyak 743 orang. Provinsi dengan kasus tertinggi masih diduduki DKI Jakarta dengan jumlah 3.798 kasus. Berikutnya urutan kedua Provinsi Jawa Barat sebanyak 912 kasus.

Selanjutnya Jawa Timur 785 kasus, Jawa Tengah 649 kasus, Sulawesi Selatan 440 kasus, Banten 370. Selanjutnya urutan ketujuh adalah Provinsi NTB dengan jumlah 195 kasus. Jumlah tersebut melampaui Provinsi Bali dengan 186 kasus, Kalimantan Selatan 146 kasus dan Papua 141 kasus. 

Peningkatan jumlah kasus di NTB sangat signifikan seminggu terakhir. Padahal, Provinsi NTB merupakan daerah yang belakangan terjangkit Covid-19. “Kasus akan banyak karena klasternya sudah teridentifikasi dan kontak tracing semakin dikuatkan,” ucap Khalik.

Provinsi Bali, yang awalnya jauh di atas NTB, kini sudah tertinggal alias jumlah kasus Covid-19 berhasil ditekan. Sementara Provinsi NTB justru semakin menggila. Meskipun begitu, Ahsanul Khalik menilai hal itu bukanlah sesuatu yang negatif. Semakin tingginya angka kasus positif Covid-19, karena jumlah orang sudah terjangkit berhasil ditangani. “Kita lebih cepat dalam melakukan kontak tracing pada setiap kasus terkonfirmasi,” katanya. 

Hasil tracing tersebut langsung ditindaklanjuti dengan uji swab. Mengingat, NTB telah memiliki 2 laboratorium tempat uji swab, yaitu Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB dan Rumah Sakit Universitas Mataram (Unram). Menurut Khalik, faktor utama kasus Covid-19 semakin banyak, berasal dari klaster Gowa. “Khusus klaster Gowa, jumlah jamaah yang mengikuti tablig akbar di Gowa cukup banyak,” sebutnya.

Jumlah jamaah tablig yang tercatat resmi pernah ke Gowa lebih dari 700 orang. Belum lagi jamaah yang pulang mandiri dan tidak tercatat lebih dari 600 orang. “Semua sudah di-tracing dan orangnya ketemu. Lalu di-rapid test yang hasilnya reaktif langsung diisolasi dan dilakukan uji swab. Di samping juga kontak tracing dilakukan terhadap keluarga dan warga yang pernah kontak dengan klaster yang ada,” jelasnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Khalik juga menyampaikan beberapa klaster yang sudah berhasil diputus mata rantai penyebarannya. Di antaranya klaster Jakarta yang dibawa pimpinan Ponpes di Lombok Timur. Klaster tersebut kini sudah dipastikan tuntas dan seluruh pasien telah sembuh. 

Selanjutnya klaster Jakarta yang dibawa oleh guide, juga telah selesai ditracing. Mata rantai penyebarannya berhasil diputus. “Untuk klaster Bogor yang dibawa seorang pendeta, juga bisa ditekan. Orang-orang yang pernah kontak ditemukan semua. Sedangkan klaster Sukabumi yang dibawa dari sekolah perwira polisi oleh anggota polisi, juga tidak menularkan wabah ke warga masyarakat yang lain,” ucap Ahsanul Khalik. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi juga mengungkapkan bahwa klaster Gowa merupakan penyebab utama jumlah pasien Covid-19 meningkat. “Ya pertumbuhan klaster Gowa pesat dan memang harus dites semua agar tidak menjadi kurir yang bisa menulari tanpa disadari orang sekitarnya,” ujar Eka. 

Sekda Provinsi NTB H Lalu Gita Ariadi selaku Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov NTB mengumumkan, pada hari Minggu dilakukan pemeriksaan terhadap 105 sampel swab. Hasilnya 82 sampel negatif, 8 sampel ulangan positif dan 15 sampel kasus baru positif Covid-19. 

Ke 15 kasus baru tersebut mayoritas dari klaster Gowa. Baik itu yang pernah pergi langsung ke Gowa, maupun keluarga atau warga yang pernah kontak dengan jamaah tablig. “Dengan adanya tambahan 15 kasus baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari ini sebanyak 195 orang ,” terang Lalu Gita. 

Identitas pasien baru tersebut, yaitu MD, perempuan, 37 tahun, warga Kelurahan Dayan Peken, Ampenan. MZ, laki-laki, 23 tahun, warga Kecamatan Ampenan, I, laki-laki, 28 tahun, warga Desa O’o, Kecamatan Dompu, R, laki-laki, 48 tahun, warga Desa O’o, Kecamatan Dompu.

Kemudian disusul J, laki-laki, 30 tahun, warga Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, W, laki-laki, 39 tahun, warga Desa Nangakara, Kecamatan Pekat, J, laki-laki, 60 tahun, warga Desa Tambora, Kecamatan Pekat, RH, laki-laki, 36 tahun, warga Desa Pekat, Kecamatan Pekat, MSR, laki-laki, 65 tahun, warga Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.

Kemudian APR, laki-laki, 35 tahun, warga Desa Dorobelo, Kecamatan Manggalewa, Kabupaten Dompu. LASS, laki-laki, 34 tahun, warga Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. YA, laki-laki, 33 tahun, warga Desa Oi Saro, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima.

Dan, A, laki-laki, 55 tahun, warga Desa Mangge, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. NH, perempuan, 20 tahun, warga Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. YY, laki-laki, 38 tahun, warga Desa Bajo, Kecamatan  Soromandi, Kabupaten Bima.

Sebagian besar pasien positif ini memiliki riwayat pernah melakukan perjalanan ke Gowa, Sulsel. Sedangkan sebagian lagi memiliki riwayat pernah kontak dengan pasien yang memiliki riwayat pernah melakukan perjalanan ke Gowa. (zwr)