Makan Durian Sepuasnya, Festival Durian Genggelang Akan Jadi Event Tahunan

HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK FESTIVAL DURIAN: Bupati KLU Djohan Sjamsu dan Wakil Bupati KLU Danny Karter Febrianto Ridawan menghadiri Festival Durian di Pasar Desa Genggelang.

TANJUNG–Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Genggelang menggelar Festival Durian di Pasar Buah Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU) Rabu (10/3) lalu. Hadir Bupati KLU Djohan Sjamsu dan Wakil Bupati KLU Danny Karter Febrianto Ridawan.

Festival Durian ini bekerja sama dengan stakeholder terkait yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Festival Durian ini diharapkan menjadi event tahunan yang masuk dalam kalender pariwisata Pemerintah KLU. “Kegiatan Festival Durian ini berlangsung setengah hari yang merupakan kegiatan pertama berlangsung di Lombok Utara, dan Desa Genggelang menjadi pertama yang menggelarnya,” ujar Ketua BUMDes Genggelang Hamid pada saat menyampaikan laporan kegiatan.

Festival Durian ini lanjutnya, dapat mendukung destinasi wisata yang ada di Desa Genggelang, seperti Air Terjun Kerta Gangga, Air Terjun Tiu Petuk, Rumah Pohon Murumas, Kampong Cokelat, dan objek wisata lainnya. “Ke depan festival ini menjadi agenda tahunan yang dapat dikemas dalam satu paket dengan objek wisata yang ada di desa kami,” katanya.

Diungkapkan, di Genggelang, ada areal perkebunan durian seluas 6 hektare, belum terhitung di pekarangan warga. Sekali panen dapat menghasilkan ratusan ton, yang dipasarkan di wilayah KLU dan ada juga yang diambil oleh pemborong dari luar KLU.

Jenis durian yang dihasilkan di Desa Genggelang, kebanyakan lokal dan hibrida, seperti Musang King, Kane, dan Mentega. “Kami sudah memberikan Rp 50 juta untuk pembibitan durian lokal, karena kami mendorong supaya menghasilkan durian lokal sehingga dapat menjadi unggulan ke depannya. Nanti bibit-bibit itu diberikan ke masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala DP2KBPMD KLU H Kholidi mendorong 43 desa yang ada di KLU mengekspos potensi desanya karena setiap desa memiliki potensi yang berbeda-beda. Jika diekspos kemudian dikemas, maka bisa mendatangkan penambahan penghasilan di tingkat desa. “Silakan desa-desa bergerak sendiri karena sudah diberikan dukungan anggaran desa yang mencapai Rp 3 miliar per desa, itu dapat diarahkan kegiatan-kegiatan seperti ini, apalagi sekarang desa diminta menjadi garda terdepan dalam pemulihan ekonomi ditengah pandemi covid-19,” terangnya.

Kepala Disbudpar KLU Vidi Ekakusuma menegaskan, apa yang dilakukan Desa Genggelang menjadi peluang baru dalam pengemasan objek wisata, yang dapat menambah pilihan atraksi lainnya, lalu didukung dengan potensi alam yang sudah terkenal dengan destinasi wisata air terjun, Kampong Cokelat dan lainnya. “Kita akan mencoba membuatkan paket khusus karena di sini sudah lengkap, tinggal apa yang menjadi kekurangan bisa ditambah belakangan hari,” tegasnya.

Soal penginapan, ke depan dapat memanfaatkan rumah warga, sehingga wisatawan yang ingin berlibur ke Desa Genggelang dapat mengikuti proses pembibitan durian hingga panen dan pemasarannya. “Tinggal sekarang pengemasan paketnya saja,” katanya.

Sementara itu Bupati KLU Djohan Sjamsu mengapresiasi apa yang digagas oleh desa yang bersinergi dengan lintas OPD dalam melaksanakan Festival Durian yang pertama kali ini. Ke depan, tinggal memperbaiki kemasannya karena durian dapat menghasilkan berbagai jenis olahan produk UMKM. Selain itu, pengunjung boleh memakan durian sepuasnya dengan memberikan tiket masuk. “Mari manfaatkan potensi yang ada, produk UMKM kita tingkatkan dengan kualitas yang baik dan indah. Agar menjadi daya tarik pembeli. Festival durian ini harus berkelanjutan, dengan tetap melahirkan produk UMKM dari olahan durian,” tegasnya. (flo)