Maju Pilkada Bima, Siapa H Arifin?

H Arifin (kanan). (ist for radarlombok.co.id)

ANAK petani, berjuang dengan keprihatian, berjuang dengan air mata, berjuang dengan keuletan, berjuang dengan kejujuran, mengubah nasib seperti anak-anak petani desa yang lain.

Kenyataan pahit yang beliau alami di kampung halamannya di Wera, mendorong semangatnya untuk maju. Masuk Jakarta dengan bekal jujur, berani, dan doa dari kedua orang tua serta sanak familinya dari kampung.

Pendidikan beliau perolehan sejak dari kampung hingga SMA dengan berjalan kaki dalam jarak kiloan meter. Suatu kenyataan yang sungguh sangat panit bila dibandingkan dengan kehidupan anak-anak milenial yang serba kecukupan zaman kini.

Di Jakarta beliau pertama kali diangkat sebagai pegawai negeri di Kementerian Dalam Negeri dengan pangkat dan golongan rendah. Itu awal mula beliau bisa survivel hidup di Jakarta yang serba keras dan menantang.

Dari Kementerian Dalam Negeri beliau pindah ke Pemerintahan Propinsi DKI Jakarta. Di Pemprof DKI beliau menemukan rumah yang luas untuk mengembangkan karir dan pendidikan.

Jabatan Asisten dan Jabatan Sekretaris Kota Jakarta Timur adalah dua jabatan prestisius di Pemprof DKI yang beliau sandang hingga purna tugas.

Itu lah H. Arifin, salah satu putra Bima yang mengisi daftar nama-nama putra daerah yang sukses mengisi panggung pembangunan bangsa dan negara di pemerintahan DKI Jakarta. Beliau juga melahirkan putra-putri yang sukses baik dalam bidang pendidikan maupun dunia usaha.

Putranya kini adalah pengusaha yang salah satu cabang usahanya dibidang reklame. Putranya mempersunting adik Hatta Rajasa, mantan Menko perekonomian dan mantan Ketua DPP PAN.

Putranya juga adalah salah satu gerbong muda di DPP Partai Demokrat yang bermentor pada Andi Arif secara partai.

Karena itu, H. Arifin memohon ijin kepada semua warga Bima untuk tampil dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Bima 2020, dengan mengusung visi pembaharuan pembangunan di tiga sektor kunci yakni reformasi birokrasi, reformasi pembangunan, reformasi keummatan.

Tiga visi itu akan beliau jabarkan secara rinci dan gamblang di media maistrem, dikalangan kampus, dikalangan praktisi, dikalangan OKP, dikalangan cendekiawan dan dikalangan partai politik.

Masukan, kritik, saran bahkan keberatan dari berbagai kalangan senantiasa diapresiasi sehingga debat politik pilkada tidak monoton dan stagnan.

Tetapi sebisa mungkin merangsang nalar satu sama lain agar kecerdasan warga negara makin tumbuh subur untuk kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. (gt)