Mahasiswi Unram Diduga Korban Pembunuhan

OTOPSI : Tim dokter forensik membawa sejumlah barang setelah otopsi dengan membongkar kubur Linda Novitasari di tempat pemakaman umum (TPU) Karang Medain, kemarin (3/8). (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)
OTOPSI : Tim dokter forensik membawa sejumlah barang setelah otopsi dengan membongkar kubur Linda Novitasari di tempat pemakaman umum (TPU) Karang Medain, kemarin (3/8). (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Tabir kematian Linda Novitasari, 23 tahun, mahasiswi pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) belum tersingkap. Kematian calon magister hukum ini masih menjadi misteri yang belum terjawab. Baik oleh aparat kepolisian maupun keluarga korban.

Aparat kepolisian sendiri masih harus mengumpulkan bukti-bukti dan menunggu hasil otopsi tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara. Polisi belum bisa menyimpulkan, apakah korban murni tewas akibat gantung diri atau memang ada penyebab lain. Sementara tim forensik RS Bhayangkara masih harus mengkaji hasil otopsi jenazah korban.

Dari hasil pembongkaran kuburan jenazah korban di tempat pemakaman umum (TPU) Karang Medain Mataram, Senin (3/8), tim forensik langsung melakukan otopsi. Proses otopsi ini menyedot perhatian masyarakat sekitar. Penyidik Satreskrim Polresta Mataram menurunkan puluhan personelnya untuk kelancaran otopsi. Tepat di pusara korban, petugas memasang atap yang tiangnya ditutup kain putih. Lalu garis polisi (police line) membentang di sekitar lokasi otopsi. Tujuannya untuk menjaga lokasi otopsi steril dan hanya boleh didatangi petugas. Sekitar pukul 09.30 Wita, proses otopsi dimulai dengan membongkar kuburan Linda.

Proses otopsi juga menurunkan dokter forensik dari Universitas Mataram. Otopsi juga dihadiri keluarga dan puluhan anggota Mapala Universitas Mataram yang merupakan rekan korban. Setelah menggali kuburan dan melaksanakan rangkaian otopsi lainnya, kegiatan otopsi berakhir sekitar pukul 11.30 Wita.

Kasatreskrim Polresta Mataram, AKP Kadek Adi Budi Astawa yang dikonfirmasi usai otopsi belum bisa memberikan keterangan detail. Namun dari otopsi itu, tim forensik mengambil uterus atau rahim jenazah korban. Rahim almarhumah diambil petugas untuk diperiksa lebih lanjut. ‘’Karena tidak bisa disimpulkan oleh dokter forensik di tempat otopsi, maka uterusnya (rahim) dibawa,’’ beber Kadek.

Tim forensik, terang Kadek, punya alasan untuk mengangkat rahim korban. Di antaranya ingin mendalami dugaan awal yang muncul. Utamanya setelah olah TKP dan hasil visum rumah sakit. Yaitu dugaannya, korban meninggal dalam kondisi hamil.Dugaan ini menguat setelah ditemukannya hasil tes USG korban. ‘’Ada bukti dugaan hamil itu. Selain keterangan dokter juga kita ada bukti USG,’’ ungkapnya.

Namun untuk kepastiannya, pihaknya menunggu hasil otopsi secara menyeluruh. Jika fakta ditemukan, penyelidikan juga akan semakin jelas. ‘’Hasil otopsi akan kita jadikan petunjuk untuk penyelidikan,’’ terangnya.

Tentang kapan hasil otopsi didapatkan, Kadek mengaku masih menunggu hasil telaah dokter forensik. Petugas juga membawa sejumlah barang hasil otopsi jenazah korban di TPU Karang Medain. ‘’Nanti makanya kita tunggu hasil otopsinya dari dokter forensik,’’ jelasnya.

Perihal korban meninggal bukan karena bunuh diri tapi karena dibunuh. Perwira balok tiga ini mengaku belum memiliki petunjuk pasti. Namun seluruh dugaan masuk dalam materi atau rangkaian penyelidikan. Kini petugas punya bahan untuk mencari titik terang. Termasuk dengan memeriksa dan meneliti rekaman CCTV milik tetangga atau warga sekitar TKP. Dia berharap rekaman tersebut bisa menjadi petunjuk tambahan dalam rangkaian penyelidikan petugas. ‘’Sekarang sedang kita teliti. Itu sudah kita amankan,’’ jelasnya.

Emi Susanti, kakak korban berharap bisa segera mendapatkan jawaban mengenai penyebab kematian adiknya. Karena pihak keluarganya belum yakin sepenuhnya bahwa korban tewas akibat gantung diri. ‘’Kalau dia bunuh diri, apa sih yang permasalahannya. Sejauh ini dia baik-baik saja. Tidak ada masalah di keluarga,” ungkapnya.

Kalaupun ada permasalahan, Emi meyakini bahwa adiknya tidak akan sampai mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. ‘’Anak ini saya lihat sudah cukup dewasa,” katanya.

Emi mengaku, sebelumnya pihak keluarga  memang menolak dilakukan otopsi. Dengan alasan ingin agar korban bisa segera dimakamkan. Namun begitu korban  dimakamkan muncul beberapa asumsi di tengah masyarakat bahwa korban sebetulnya tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Hal itu diketahui dari temuan beberapa bekas luka di bagian tubuh korban. “Ada biru-biru di dada, di bawah ketiak kiri dan kanan. Kemudian di bagian payudara hingga pusar ada luka,” bebernya.

Atas dasar itu, keluarga korban kemudian bermusyawarah dan memutuskan agar mencabut surat pernyataan penolakan otopsi dan membuat surat permohonan dilakukannya otopsi. ‘’Dalam hal ini kita minta didampingi oleh Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Unram,” ungkapnya.

Tim penasehat hukum keluarga korban, Yan Mangandar mengatakan, pihak keluarga lega otopsi dilaksanakan. Keluarga juga mendukung dokter forensik secara profesional menyimpulkan hasil otopsi. Tentunya berdasarkan kondisi fisik jenazah korban. ‘’Kami selanjutnya berharap bisa dilibatkan dalam gelar perkara. Karena sampai sekarang, pihak Polsek Ampenan maupun Polresta Mataram belum pernah memberikan penjelasan secara formal perkembangan hasil penyelidikan kepada tim kuasa keluarga korban,’’ sesal Yan.

Sambil menunggu proses penyelidikan yang digelar kepolisian, keluarga berharap ada iktikad baik baik dari siapapun yang mengetahui atau yang terlibat dalam kematian korban. Keluarga meminta untuk segera menyerahkan diri ke kepolisian. ‘’Kami minta segera menyerahkan diri. Karena itu akan menjadi pertimbangan keluarga korban. Agar nanti di persidangan dimintakan keringanan hukuman. Kami juga berterima kasih atas dukungan publik,’’ ungkapnya.

Korban Linda Novitasari sendiri ditemukan tewas dalam keadaan gantung diri di BTN Royal Mataram Lingkungan Angsor, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram pada Sabtu (25/7) lalu. TKP sendiri merupakan rumah kekasih korban inisial RI. Mayat korban pertama kali ditemukan rekannya bernama Nuraniah.

Saat itu Nuraniah berniat mencari korban karena sudah beberapa hari tidak bertemu. Ia kemudian mencarinya ke tempat mereka biasa bertemu. Begitu sampai di lokasi, Nuraniah menemukan sepeda motor korban. Cukup lama memanggil korban, Nuraniah langsung mengecek korban ke dalam rumah. Begitu masuk, ia dikejutkan dengan kondisi korban dalam keadaan tergantung di ventilasi.

Nuraniah pun berlarian memberitahukan warga sekitar. Tak berselang lama, kepolisian datang untuk mengevakuasi korban ke RSB Mataram. (gal/der)