M Ridho Wahyu Aji, Siswa Calon Pilot Pertama Asal Lombok Sekolah di LIFT

Biaya Sekolah Mahal, Berharap Ada Perhatian Pemerintah Daerah

SEKOLAH PILOT: Sejak bulan Oktober 2020 lalu, M Ridho Wahyu Aji, asal Lotim, tercatat menjadi salah satu dari 20 siswa penerbangan yang sekolah di LIFT. (ist for radarlombok.co.id)

MATARAM—Sepuluh tahun keberadaan Sekolah Tinggi Penerbangan Lombok Institut of Fligh Technologi (LIFT) di Provinsi NTB, tepatnya di eks Bandara Selaparang, Ampenan, Kota Mataram. Ternyata belum dimanfaatkan maksimal oleh Pemda NTB untuk mencetak pilot-pilot dari daerah. Buktinya, siswa calon pilot yang sekolah di LIFT masih orang luar daerah, seperti dari Jakarta, Kalimantan, dan Papua.

Namun tahukah anda, kalau sekarang salah satu siswa penerbangan di LIFT itu ada yang berasal dari Lombok. Adalah M Ridho Wahyu Aji, asal Dusun Bukit Durian, Desa Perigi, Kecamatan Suwela, Kabupaten Lombok Timur. “Ridho ini tercatat menjadi siswa calon pilot di LIFT sejak empat bulan lalu,” kata Brigadir Agus Salim, salah satu keluarga Ridho, ketika berkunjung ke Kantor LIFT, Kamis (14/1/2021).

Dijelaskan Agus Salim, yang juga adalah Bhabinkamtibmas Desa Woja, Kabupaten Dompu ini, sebelum melanjutkan sekolah penerbangan di LIFT, Ridho merupakan lulusan sekolah SMK Penerbangan di Solo, Provinsi Jawa Tengah.

Ridho adalah siswa yang pintar, dan sejak kecil bercita-cita hendak menjadi pilot. “Karena itu, dengan segala daya dan upaya, ibunya, Hj Darwasih, berusaha menuruti keinginan anaknya dengan menyekolahkan di sekolah penerbangan (LIFT),” ujar Agus Salim.

Hanya saja, sekolah penerbangan itu sangat mahal. Sehingga para siswa sekolah penerbangan rata-rata masih didominasi oleh anak dari orang yang kaya saja, atau mereka yang disekolahkan oleh pemerintah daerahnya (beasiswa). Sementara Ridho sendiri adalah anak yatim. Bapaknya telah meninggal pada November 2015 lalu. Sehingga untuk sekolah di LIFT, ibu Ridho saat ini harus pontang-panting mencari biayanya.

“Sungguh sangat sayang, kalau gara-gara tidak ada biaya nanti, sekolah Ridho di LIFT terpaksa harus berhenti. Untuk itu, kami berharap ada perhatian dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, agar mau memperhatikan putra daerahnya yang berprestasi melalui pemberian beasiswa atau lainnya,” harap Agus Salim.

Seperti puluhan siswa calon pilot lain asal Papua yang sekolah di LIFT. Mereka dibiayai oleh Pemda Papua, hingga selesai. “Bukankah sebelumnya ada pertemuan antara pihak LIFT dengan Pemprov NTB (Gubernur), yang salah satu poin pertemuan akan membantu para siswa asal NTB yang sekolah di LIFT. Kami dari pihak keluarga tentu sangat berharap adanya bantuan (beasiswa) ini. Sehingga sekolah Ridho bisa lancar sampai selesai,” harap Agus Salim.

Sementara itu, sebelumnya, Kepala Sekolah LIFT, Capt Abbas Yahya Ali juga mengakui selama sepuluh tahun LIFT operasional mendidik siswa dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk luar negeri. Belum ada siswa asal NTB yang melanjutkan pendidikan di sekolah penerbangan LIFT.

“Belum ada putra-putri asal NTB yang menempuh pendidikan di LIFT. Masih orang luar saja. Ada dari luar negeri, dari Jakarta, Kalimantan, Jawa, bahkan 10 orang peserta didik kami berasal dari Papua murni dibiayai oleh pemerintah daerah mereka,” kata Capt Abbas, kepada Radar Lombok, belum lama ini.

Dijelaskan, LIFT merupakan satu-satunya lembaga pendidikan penerbangan di wilayah Indonesia Timur yang berada di Ampenan, Kota Mataram Provinsi NTB. Keberadaan LIFT sudah tidak perlu diragukan lagi. Sejak berdiri 2011, nama Lombok Institute of Flight Technology (LIFT) telah mengantongi nomor izin Pilot School Certificate 141D-012 dari Direktorat Jendral Perhubungan Udara, menjadi sekolah terlengkap yang dapat mencetak SDM mumpuni dibidang penerbangan.

Jumlah siswa sebelumnya 16 orang, itupun berasal dari luar daerah dan luar negeri. Kemudian Oktober 2020, ada tambahan empat siswa baru, yang salah satunya Ridho, dari Lombok Timur. “Ya ada 16 orang yang masih menempuh pendidikan. Sementara angkatan yang baru, mulai program belajar Oktober 2020. Salah satunya anak dari Lombok Timur itu, yang memang menggunakan biaya pribadi, dan tidak ditanggung pemerintah,” terang Capt. Abas. (gt/sal)