Lombok Masuk Zona Merah Penularan PMK

drh Khairul Akbar (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pulau Lombok menjadi salah satu daerah darurat penyakit mulut dan kuku (PMK). Pasalnya penyakit yang menyerang ternak sapi dan kambing ini sudah masuk ke semua kabupaten kota di pulau yang memiliki julukan pulau seribu masjid ini.

Masuknya pulau Lombok jadi zona merah penularan PMK berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB hingga 27 Mei 2021. Jumlah kasus PMK yang ditemukan sebanyak 6.973 ekor. Rinciannya, 4.574 ekor masih sakit, lalu yang sudah sembuh sebanyak 2.347 ekor dan telah dipotong paksa sebanyak 52 ekor.  “Update PMK pada ternak sapi dan kambing di pulau Lombok hingga 27 Mei totalnya 6.973 ekor,” ungkap Kepala Disnakeswan NTB, drh Khairul Akbar, kemarin.

Ia membeberkan, sebaran penularan PMK di pulau Lombok, paling banyak kasus yang ditemukan di wilayah Lombok Timur sebanyak 4.010 ekor. Rinciannya, yang masih sakit sebanyak 2.313 ekor, sembuh 1.648 ekor dan potong paksa sebanyak 49 ekor. Disusul  Lombok Tengah jumlah kasus sebanyak 1.489 ekor, yang masih sakit sebanyak 789 ekor, sembuh 699 ekor dan potong paksa satu ekor.

Selanjutnya di Lombok Barat sebanyak 1.406 ekor, yang masih sakit 1.404 ekor, dipotong paksa hanya dua ekor. Kemudian, di Kota Mataram ditemukan 56 ekor. Sampai saat ini belum ada yang sembuh dan juga dipotong paksa. Terakhir kasus PMK masuk di Lombok Utara dimana kasus baru ditemukan 12 ekor. Sampai saat ini belum ada yang sembuh dan potong paksa. “Khusus pulau Lombok ya (zona merah), pulau Sumbawa masih bebas,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kajati Pastikan Periksa Wakil Bupati KLU

Khairul memastikan jika pulau Sumbawa tidak akan tersentuh PMK namun perlu diikuti langkah-langkah tertentu yang harus dilakukan dalam pencegahan. Hal ini juga akan disampaikan ke publik dengan mengelar jumpa pers di Mataram. “Besok pagi (hari ini) kami rencananya akan press release mengenai PMK,” ucapnya.

Sebelumnya Disnakkeswan juga mengaku tidak bisa memprediksi lokasi sebarannya. Sebab fenomena terjangkit ke ternak lain melalui perantara angin. Yang bisa dilalukan bagaimana daerah yang terdampak dapat dilokalisir. “Kita hanya bisa berusaha agar daerah-daerah yang sudah terkena itu dilokalisir atau semacam lock down ya,” katanya.

Selain melokalisir wilayah yang terjangkit PMK, Disnakeswan NTB bersama dengan pemerintah pusat dan dibantu oleh pihak swasta memberikan obat-obatan dan vitamin secara intensif untuk ternak yang terjangkit PMK di kandang-kandang kolektif milik warga. Hasilnya memang bagus, dimana rata-rata ternak yang diberikan obat bisa sembuh. “Kita sudah bagikan obat-obatan yang dikoordinir sama pemerintah provinsi. Karena memang dengan obat-obatan ini, ternak yang terjangkit virus bisa sembuh dalam beberapa hari. Kita juga melakukan disinfeksi di tempat-tempat yang belum terkena,” tambahnya.

BACA JUGA :  Defisit Anggaran, NTB Disarankan Ngutang

Khairul juga mengatakan, berdasarkan data dan temuan di lapangan, meskipun sebarannya tergolong cepat dan meluas, namun tingkat kesembuhannya cukup tinggi. Selain itu angka kematiannya sangat rendah. Kematian ternak yang terjangkit PMK ini umumnya karena dipotong paksa oleh pemiliknya agar dagingnya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi. “Baru sekitar 40 persen tingkat kesembuhannya, belum sampai separuh dari kasus, karena ternak yang terjangkit di Lobar masih dalam proses penyembuhan sekarang. Butuh waktu sekitar tujuh hari untuk sembuh,” tandasnya.

Seperti diketahui, kasus PMK salah satu virus yang cepat menular antar satu ternak ke yang lain. Meski tingkat penyembuhannya juga tinggi. PMK secara umum menyerang hewan herbivora berkuku genap. Diantaranya, ternak sapi, kambing, kerbau dan ternak lainnya. Ciri-ciri ternak yang terpapar PMK yakni, klumori terkelupas, ada lepuk-lepuk, keluar lendir dari hidung. Demam tinggi, muncul air liur berlebihan, serta ada luka lepuh di rongga mulut atau pada lidah. Hewan ternak yang terserang penyakit ini juga akan mengalami demam tinggi sampai 41 derajat, serta pembengkakan kelenjar pertahanan terutama di daerah mandibula atau rahang bawah. Sekitar mulut, moncong, gusi, kuku, kambing atau payudara hewan juga tampak lepuh atau luka. (sal)