Lomba Lari Ekstrem Lintas Sumbawa 320K Kembali Digelar

Tambora Challenge 2018

Tambora Challenge 2018
TAMBORA CHALLENGE: Salah satu peserta lomba lari Tambora Challenge 2017, dengan jarak sejauh 320 kilometer, memamerkan medalinya usai memasuki garis finish di Doro Ncanga, bawah kaki Gunung Tambora, Kabupaten Dompu. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rangkaian Festival Pesona Tambora 2018, Dinas Pariwisata (Dispar) NTB bekerja sama dengan salah satu media besar nasional, kembali akan menyelenggarakan Tambora Challenge, pada 4-7 April 2018. Lomba lari ultra marathon ini dimulai dari Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat dan berakhir di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, dengan menempuh jarak sejauh 320 kilometer (320K). “Pada penyelenggaraan Tambora Challenge 2018 ini, sebanyak 50 peserta akan diajak untuk berkompetisi melalui kategori Lintas Sumbawa 320K, yang terbagi menjadi dua sub kategori, yaitu Full Ultra Marathon dan Relay Ultra Marathon,”  kata Novi, dari Even Organizer Harian Kompas, Minggu kemarin (1/4).

Dijelaskan Novi, peserta kategori individu (Full Ultra Marathon) harus menempuh jarak 320 km dengan cut off time (COT), atau batas waktu selama 72 jam. Sedangkan peserta dalam kategori beranting (Relay Ultra Marathon), akan terdiri dari dua pelari yang secara bergantian akan menempuh jarak total 320 km dengan COT yang sama. Tambora Challenge 2018 dapat menjadi momentum yang tepat bagi para pelari ekstrem untuk menguji kemampuannya. “Sebagai medan lari ultra marathon, Sumbawa merupakan sebuah daerah yang unik. Tambora Challenge Lintas Sumbawa 320K yang digelar sejak 2015 dijuluki sebagai lomba lari “terpanjang” dan “terganas” di Asia Tenggara,” beber Novi.

Menurutnya, perjuangan para peserta nantinya tidaklah mudah. Gunung Tambora yang meletus pertama kali pada 5 April 1815 meninggalkan “jejak” alam dan peradaban yang tidak biasa ditemukan di rute-rute lari ultra marathon lainnya. Pada saat perlombaan, para peserta selain ditantang untuk “bersahabat” dengan iklim, medan dan dirinya sendiri untuk dapat menyelesaikan pertandingan. “Tidak hanya memiliki iklim panas khas Indonesia timur, beberapa daerah yang akan dilewati peserta dalam kategori Lintas Sumbawa 320K nantinya juga akan terdiri dari dataran tinggi,” ucap Novi.

Jarak tempuh 320 km setara dengan jarak Jogjakarta ke Surabaya, atau lebih dari tujuh kali jarak lomba lari full marathon. “Karena itu, peserta dituntut untuk tidak sekadar memiliki kondisi fisik yang prima dan bermental “baja”. Namun juga harus cerdas mengatur strategi dalam berlari untuk melewati cuaca panas terik di siang hari dan terhindar dari hipotermia karena cuaca yang sangat dingin di malam hari,” paparnya.

Disampaikan, gunung api dipandang tidak hanya menimbulkan malapetaka, tetapi juga selalu memberikan manfaat ekonomis, termasuk melahirkan peradaban bagi umat manusia. Oleh karena itulah potensi yang ada perlu diberdayakan untuk mendorong kemajuan Pulau Sumbawa, sebagai andalan pendapatan ekonomi di Nusa Tenggara Barat.

Selain manfaat ekonomis, pelaksanaan Tambora Challenge juga banyak memberikan pelajaran bagi para pelari, terutama mereka yang menggeluti kategori ultra marathon. Perjalanan ultra marathon bukan saja sebuah kompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Lebih dari itu, Tambora Challenge adalah sebuah “perjalanan” lari yang dimulai bahkan sebelum para peserta berlomba.

Selama 3 tahun kegiatan Tambora Challenge berlangsung, tidak sedikit peserta yang konsisten “melanjutkan” perjalanan mereka yang belum selesai di tahun sebelumnya, dan kembali menantang dirinya sendiri untuk menyusuri keelokan Pulau Sumbawa.

Sedangkan Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal, menyatakan Tambora Challenge selain menjadi kegiatan rutin setiap tahun, yang diikuti oleh para pelari ekstrem, karena mereka akan berlari selama tiga hari tiga malam. Dari sisi kepariwisataan NTB, maka kegiatan ini akan semakin mengukuhkan NTB, khususnya Pulau Sumbawa sebagai daerah tujuan sport tourism, seperti lomba lari, bersepada, dan lainnya yang sangat potensial. “Selain lomba lari sejauh 320 kilometer, untuk merangsang partisipasi masyarakat NTB agar gemar berolahraga, khususnya lari, Dispar NTB dan Pemda Kabupaten Sumbawa Barat juga akan menggelar lomba lari sejauh 10 kilometer, yang akan diikuti oleh 1500-an peserta,” terang Faozal.

Yang jelas, sambung dia, pelaksanaan Tambora Challenge 2018 ini akan berlangsung lebih meriah. Seperti di garis start, akan digelar pusat kuliner khas Sumbawa Barat, dan juga penampilan aneka kesenian khas daerah. ‘’Demikian juga di titik-titik poin peristirahatan peserta sepanjang jalur dari Poto Tano hingga Dompu, masing-masing telah disiapkan kesenian tradisional untuk menghibur para peserta,” sambung Faozal. (gt)