Lima Warga Jerowaru Disambar Geledek

Lima Warga Jerowaru Disambar Geledek
TERKAPAR: Salah satu korban yang tersambar geledak saat dilarikan ke Puskesmas Jerowaru, kemarin.( ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

SELONG – Hujan lebat disertai guruh keras memakan korban. Lima orang warga Dusun Orang Bukal Desa Sepapan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, disambar geledek. Kejadian ini berlangsung di Dusun Jelok Buso Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru, sekitar pukul 16.16 Wita, Jumat (27/12).

Beruntung, kelima korban tak meregang nyawa. Namun tiga di antaranya langsung dilarikan ke Puskesmas Jerowaru karena kondisinya cukup parah. Bahkan, satu orang di antaranya dinyatakan kritis dan masih dalam perawatan medis. Kelima korban adalah Sinarep, 34 tahun, Yusron, 17 tahun, Nurihsan, 19 tahun, Nursiah, 16 tahun, dan Harjan, 25 tahun. Kelimanya merupakan warga Dusun Orang Bukal Desa Sepapan Kecamatan Jerowaru.

Ceritanya, kelima korban sedang mengambil kayu bakar di Dusun Bagek Jongkor Desa Pemongkong. Kayu bakar itu rencananya akan digunakan sebagai bahan bakar warga asal korban yang akan berpesta. Begitu hujan turun, kelimanya berteduh di bawah pohon asam. Tempat di mana mereka memarkirkan kendaraan mobil pikap untuk mengangkut kayu bakar.

Saat itulah, kilat berkelebat seolah membelah langit. Namun belum saja sempat menutup telinga, petir menyusul menyambar belahan bumi tempat mereka berpijak. Kelimanya tak hanya terkejut, namun langsung terkapar karena kena sambar.

Kelima pencari kayu bakar itu langsung terkapar mengerang kesakitan. Dada dan jantung mereka terasa terbelah kapak. Beruntung, warga setempat yang mengetahui kejadian itu langsung memberikan pertolongan. Warga juga memberitahukan kejadian itu kepada keluarga korban.

Warga juga buru-buru memangkas ranting pohon kayu untuk mengerubungi mereka. Salah satu kepercayaan yang diyakini warga setempat mampu menangkal kematian dari sambaran geledek. Setelah suasana agak membaik, barulah kelima korban dilarikan ke Puskesmas Jerowaru. ‘’Sekarang korban masih dirawat di Puskesmas Jerowaru,’’ terang Kapolsek Jerowaru, IPDA Abdurrasyid kepada Radar Lombok.

Bahkan, sambung Abdurrasyid, satu di antara korban dalam keadaan kritis. Sementara empat orang lainnya mengalami luka bakar dan luka ringan. Kejadian ini sudah dilaporkan ke keluarga korban dan sedang menunggu perawatan korban.

Dalam kesempatan itu,  Rasyid mengimbau agar sebaiknya semua masyarakat waspada dengan cuaca ekstrem ini. ‘’Jika turun hujan, maka sebaiknya warga berteduh di dalam rumah saja,’’ imbuhnya.

Penuturan sama ditambahkan tim Tagana Jerowaru, Tahriani, pihaknya bersama Puskesmas Jerowaru langsung ke lokasi membawa mobil ambulans untuk menolong kelima korban. Namun, hanya empat orang yang bisa dibawa. Sementara satu korban bernama Nurihsan tak diizinkan dibawa oleh keluarganya.

Sebab, keluarganya berkeyakinan bahwa kesembuhan anaknya bukan langsung dirawat secara medis. Melainkan harus dikerubungi dulu dengan dedaunan. ‘’Kami tidak bisa membawa korban yang satu ini karena tak diizinkan ayahnya,’’ tutur Tahriani.

Bahkan, timnya sempat berselisih dengan ayah korban. Karena ayah korban berkukuh tak mengizinkan tim medis dan penyelamat membawa anaknya ke puskemas karena masih dikerubungi dedaunan. Ayahnya ingin melihat reaksi dari dedaunan itu dulu, baru mengizinkan untuk dibawa ke puskesmas. ‘’Kalau dua orang lainnya langsung bisa jalan, karena mereka hanya luka ringan. Yang satu kakinya bengkak dan yang satunya luka ringan di lengannya,’’ tambahnya.

Sementara tiga orang lainnya, tambah Tahriani, masih dirawat di puskesmas. Bahkan, satu di antaranya masih kritis. Pihaknya belum bisa memberikan keterangan selebihnya. Mengingat pihak keluarga masih berharap cemas dan mengharapkan kesembuhan akan anaknya. ‘’Keluarga korban yang kritis masih berharap ada keajaiban malam ini (tadi malam, Red),’’ katanya.

Tahriani menambahkan, hujan sebenarnya tak terlalu lebat jika dilihat dari kondisi tanah saat menolong korban. Cuma hujan kemarin sore disertai petir. ‘’Kalau melihat tanahnya tidak hujan lebat, karena tidak becek. Tapi petir ya,’’ tandasnya tim Tagana asal Desa Jerowaru ini.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lombok Timur, Lalu Rusnan sebelumnya menyatakan, cuaca eksterm di wilayah Lombok Timur rawan bencana. Ini sesuai prediksi Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa cuaca ekstrem ini rentan menyebabkan bencana. Baik bencana puting beliung, banjir dan  tanah longsor. Untuk itu, warga sebaiknya tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana ini. BPBD sendiri mengantispasi dini terhadap kemungkinan terjadinya ancaman bencana ini.  ‘’Ini harus menjadi kewaspadaan kita semua.  Terutama di wilayah yang rawan bencana, supaya warga lebih  peka terhadap potensi-potensi bencana saat musim hujan seperti sekarang ini,’’ imbuh Rusnan. (wan/met)