Lika-Liku Perjuangan Marianto Terpilih Menjadi Kades Sokong

Dilaporkan Pakai Ijazah Palsu hingga Tak Diterima Menang

Lika-Liku Perjuangan Marianto Terpilih Menjadi Kades Sokong
BERSATU : Calon Kades Sokong Marianto terpilih bersama Ketua Tim Pemenangan berbincang di berugak rumahnya. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) Sokong Kecamatan Tanjung tidaklah mudah bagi Marianto. Pasalnya, sebelum pendaftaran menjadi calon kades, Marianto sudah diterpa persoalan dugaan ijazah palsu. Namun, hal itu tak membuatnya putus asa untuk meraih kemenangan.


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


TAK sedikit orang yang mampu bertahan menghadapi permainan politik desa. Apalagi, sampai dilaporkan ke ranah hukum atas tuduhan ijazah palsu. Dorongan inipun mencuat ketika menjelang pemlihan kades (pilkades) serentak 19 Oktober lalu. Puluhan orang berunjuk rasa ke Polres dan Pemkab Lombok Utara agar menangkap Marianto dan membatalkan pencalonanya.

Situasi yang berkembang dalam dinamika politik menjelang pemilihan tersebut, tak membuatnya putus asa. Marianto meyakini dirinya bahwa masyarakat mengetahui bagaimana dia memperjuangkan hidupnya di Dusun Karang Nangka, sejak kecil hingga sekarang. “Bagi saya, itu hanya isu yang dikembangkan. Dan masyarakat tahu seutuhnya tentang saya. Kalau hal seperti itu, saya anggap dinamika politik dan tidak menganggap negatif. Justru saya berpikir positif, dengan isu seperti itu elektabilitas saya semakin tinggi,” ujar Marianto saat dikunjungi koran Radar Lombok di rumahnya, Rabu (25/10).

BACA JUGA :  Gelar Tradisi "Nyimpen" Sebelum JCH Berangkat ke Tanah Suci

Ketika koran ini berkunjung, halaman rumah Marianto masih ramai dengan kehadiran tim kemenangan dan pendukungnya. Ada yang datang menyampaikan ucapan selamat sembari ngopi dan merokok serta memberikan dukungan moril kepada calon yang diusungnya tersebut. Di sela-sela itu, Marianto dengan santai menanggapi laporan tuduhan kepada dirinya. Kalau hal itu hak setiap warga negara untuk melakukan pengawasan dan bagian konstitusi masyarakat menilai langkah-langkah selama tidak melenceng. “Kami membiarkan proses hukum. Kalau menanggapi hal itu santai saja dan saya tidak mau terbawa arus,” ucapnya pria 33 tahun ini.

Jika proses hukum tetap berlanjut, ia sendiri siap menghadapinya dan akan membuktikan persoalan ini di PTUN. Sebab, persoalan ini masuk ke hukum administrasi negara. “Insya Allah saya siap,” cetusnya diamini timnya.

Persoalan desakan hukum yang sedang menimpa Marianto, kok bisa meraih kemenangan? Ia pun mengungkapkan kisah perjuangannya, yang paling utama dalam desakan itu jangan terlalu dipikirkan dan jangan terprovokasi atas isu dugaan yang berkembang. “Tidak ada beban bagi diri saya atas isu yang berkembang itu,” ungkapnya bapak dua anak ini.

Ia melanjutkan, untuk meraih 2.006 suara yang berada pada posisi terbanyak dibandingkan empat calon kades lainnya. Marianto sudah menanam investasi sosial sejak tahun 2013, dengan aktif di berbagai kegiatan sosial baik skala desa, kabupaten dan provinsi. Pertama kali, ia terpilih menjadi Ketua Karang Taruna Desa Sokong periode 2013-2016. Pada saat itu, ia aktif melakukan pemberdayaan pemuda dengan program utama mencegah peredaran narkoba dan gerakan sosial kepemudaan. “Pernah menjadi Desa Sokong anti narkoba,” terangnya pria kelahiran 10 Oktober 1983 ini.  

Kemudian, tahun 2013 terjadi gempa bumi yang merusak ribuan rumah warga khusus Desa Sokong. Di sanalah ia aktif membantu masyarakat bersama mantan Kades Sokong Ripsah, baik kebutuhan sehari-hari dan mengusulkan perbaikan rumah korban. Pada waktu itu, ia masih melakukan kegiatan sosial sendiri dan belum aktif di lembaga sosial lainnya. Barulah, pada tahun 2014 pascagempa bumi membentuk Sahabat Peduli Lombok bersama 20 anggota pengurus.

Lembaga dibentuknya ini bergerak pada aksi kemanusiaan, sosial, dan pendidikan. Misalkan menyalurkan air bersih setiap musim kering dan memberikan beasiswa kepada siswa miskin, dan jumlah yang dibantu sampai saat ini 60 siswa. “Kemitraan kami dengan lembaga internasional Laz Azhar. Alhamdulillah saya dipercaya menjadi direkturnya sejak tahun 2014-sekarang,” paparnya anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Pada tahun 2013-sekarang juga, katanya, ia diamanahkan menjadi Ketua Forum Pemuda Lintas Agama Kabupaten Lombok Utara yang bergerak pada persoalan keagamaan, menjaga kerukunan antarumat beragama sehingga pada bulan Juli tahun 2017 Lombok Utara memperoleh penghargaan sadar kerukunan antarumat agama dari Kementrian Agama RI. Dan diamanahkan juga menjadi Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana tahun 2017-sekarang. “Dulu, lebih banyak kerja sosial berjalan sendiri,” ucapnya sarjana hukum ini.

Ia juga tidak pernah melupakan dirinya sempat menjadi buruh bangunan dan bengkel. Namun, awal mula ikut terlibat belajar kegiatan sosial di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada tahun 2008 silam. Seiring perjalanan waktu, masyarakat sudah menyebut namanya menjadi calon kades sejak terlibat aktif menjadi ketua posko risiko bencana tahun 2013. Dan semakin mencuat namanya setelah pilkada 2015. Beberapa tokoh pemuda, masyarakat dan agama mendatangi dirinya agar mempersiapkan diri untuk mencalonkan diri. “Pada waktu itu, saya belum ada kepikiran karena belum mengarah ke sana. Saya tidak menghiraukan, dan lebih saya aktif kegiatan sosial,” katanya.

BACA JUGA :  Mengena Masrul Supriadi, Atlet Balap Sepeda Asal Mataram

Seiring perjalanan waktu, dua minggu menjelang akhir pendaftaran. Masyarakat bersama tokoh datang memintanya maju mencalonkan diri. Ia pun sempat menyampaikan hal serupa pada dua tahun silam, menawarkan calon alternatif lainnya. Namun, tokoh-tokoh yang hadir tidak menginginkannya sehingga ia pun meminta waktu seminggu untuk mempertimbangkannya.

Setelah itu, datang lagi masyarakat ia pun menawarkan calon alternatif itu namun masyarakat menolak. Ia pun minta kembali pertimbangan tiga hari. Justru waktu itu, katanya, ia menghilang pergi ke Bayan. “Warga banyak yang nelepon dan menunggu. Bahkan, ketua tim pemenangan saya ini gebrak rumah saya untuk mencari berkas pendaftaran, tapi saya sudah sembunyikan. Akhirnya saya pulang dan menemukan masyarakat masih di rumah. Atas desakan masyarakat itu, akhirnya saya mengiyakan dan mendaftarkan diri saya bersama istri ke panitia pilkades tanpa diiringi pendukung. Saya serahkan berkas jam 16.00 Wita,” tandansya.

Setelah memperlihatkan bukti pendaftaran kepada masyarakat. Mereka langsung bersujud dan mulai bergerak bersama-sama, dari pasang baliho, stiker, gerakan medsos dan lainnya. Dengan luas wilayah 19 dusun ini, ia mengaku hanya menghabiskan Rp 30 juta lebih. Dan sisanya lebih banyak iuran bersama. “Inilah membuat saya terharu,” tuturnya.

Jadi, kemenangan yang diperoleh merupakan kemenangan bersama karena semua tim bergerak sesuai tupoksinya masing-masing. Dalam kegiatan sosial lakukanlah dengan ikhlas tanpa mengharapkan pamrih, maka keberkahan itu akan datang. Dengan kemenangan saat ini, dirinya bukan milik segelintir pendukungnya namun sekarang ini saatnya melayani seluruh masyarakat Sokong tanpa terkecuali. Ia mengajak kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama bersinergi dalam membangun Desa Sokong, karena desa ini membutuhkan energi bersama dengan kondisi konflik yang luas. “Mari kita satukan kebersamaan dalam membangun Desa Sokong BERBENAH (Berbudaya, Berkarya dan Amanah),” imbuh suami Diah Ayu Pratiwi Sahertian ini mengakhir perbincangan. (**)