Lestarikan Naskah Kuno, Museum NTB Gelar Kelas Filologika

Bunyamin, M.Hum

MATARAM—Dari sebanyak 7.600 lebih koleksi benda-benda bersejarah yang dimiliki oleh Museum Negeri NTB, tercatat ada sekitar 1.360 koleksi naskah kuno, baik dalam bentuk tulisan di atas daun lontar maupun kertas.

Namun sayangnya, dari sisi sumber daya manusia (SDM), masih sangat sedikit sekali orang yang mampu membaca, menulis, atau menerjemahkan naskah-naskah kuno tersebut. Padahal, banyak hal atau sejarah, termasuk pengetahuan luhur warisan nenek moyang masyarakat NTB, yang bisa menjadi pelajaran untuk masa kini dan masa mendatang.

Berangkat dari itu, Museum Negeri NTB sebagai instansi yang memiliki tugas pokok dan fungsi melestarikan keberadaan benda-benda bersejarah, termasuk naskah kuno. Merasa peduli dan memiliki kewajiban untuk menyebarkan pengetahuan atau kemampuan membaca, menulis dan menerjemahkan naskah-naskah kuno ini melalui pelatihan kepada masyarakat.

“Caranya, sudah sejak sebulan lalu, April, kami membuka “Kelas Filologika” di Museum NTB, yang diikuti oleh 15 peserta berasal dari para pegawai Museum NTB sendiri, sahabat museum dan sejumlah guru SMA di Lombok,” kata Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, M.Hum, kepada radarlombok.co.id.

Dibukanya program Kelas Filologika ini sambung Bunyamin, diharapkan akan tumbuh kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca naskah-naskah kuno, yang otomatis kelanjutannya akan dapat melestarikan keberadaan berbagai naskah-naskah kuno ini, agar tidak punah ditelan masa.

BACA JUGA :  Wagub NTB Buka Pameran Keliling Museum NTB di Lotim

Seperti diketahui, ribuan koleksi naskah kuno yang ada di Museum NTB, mungkin masih sangat sedikit dibandingkan dengan keberadaan naskah-naskah kuno yang masih dipegang atau dimiliki secara pribadi oleh masyarakat, sebagai warisan leluhurnya secara turun temurun.

“Pelatihan melalui Kelas Filologika di Museum NTB ini juga sekaligus hendak mengedukasi masyarakat, selain mengajarkan cara membaca dan menulis atau menerjemahkan, juga bagaimana cara merawat naskah kuno supaya tidak rusak karena lapuk,” beber Bunyamin.

Menurut Kepala Museum, banyak ilmu pengetahuan yang terkandung dalam naskah kuno atau manuskrip di lontar-lontar maupun kertas peninggalan nenek moyang masyarakat NTB, yang berisikan tentang sejarah, kehidupan sosial budaya di masa lalu, pengetahuan obat-obatan tradisional (Usada), tradisi pernikahan, makanan tradisional, sampai tata pemerintahan di masa lampau.

“Masalahnya, kalau masyarakat kita sekarang tidak memiliki kemampuan membaca, menulis atau menerjemahkan naskah-naskah kuno ini. Lantas bagaimana generasi sekarang atau mendatang bisa mengenali leluhurnya sendiri,” ucap Bunyamin.

Selain itu, minimnya SDM yang bisa menguasai filologi, sebuah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik ini Maka otomatis juga akan menyulitkan kerja-kerja para peneliti yang hendak menjadikan koleksi naskah kuno milik Museum NTB sebagai bahan kajiannya.

BACA JUGA :  Museum NTB Gelar Lomba Melukis Ritual Budaya

“Rasanya malu juga kita untuk mendampingi para peneliti, karena memang tidak menguasai ilmunya. Padahal Museum NTB banyak memiliki koleksi naskah-naskah kuno, dan bahkan lebih banyak lagi yang tersebar di masyarakat kita,” tutur Bunyamin.

Itu mengapa peserta pelatihan Kelas Filologika tidak hanya melibatkan para pegawai Museum NTB saja, tetapi juga mengajak sahabat museum dan juga para guru.

“Usai pelatihan, nantinya para pegawai Museum NTB bisa menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin mengetahui tentang koleksi naskah kuno di museum. Kemudian para sahabat museum bisa mengedukasi masyarakat, termasuk yang memiliki koleksi pribadi, dan para guru bisa mengajarkan di sekolahnya masing-masing kepada para peserta didik,” jelas Bunyamin.

Sebagai awal, program Kelas Filologika Museum Negeri NTB ini diikuti 15 peserta, dengan seminggu tiga kali pertemuan, atau sampai tuntas akan dilakukan 36 kali pertemuan. “Dua budayawan NTB yang menjadi tutor atau pelatihnya, yaitu H Lalu Agus Fathurrahman, dan Sahrul Qodri.

“Keduanya mengajarkan bagaimana cara menulis, membaca dan menerjemahkan naskah-naskah kuno Sasak yang sebagian besar ditulis dengan menggunakan aksara kuno, dan bahasa kawi (jawa kuno),” pungkas Bunyamin. (gt)