Lestarikan Budaya Sasak, Museum NTB Gelar Sarasehan Pembayun

SARASEHAN PEMBAYUN: Upaya melestarikan seni budaya atau adat istiadat suku Sasak Lombok, Museum NTB menggelar Sarasehan Pembayun, yang diikuti para guru tingkat SMP/SMA se Pulau Lombok, Kamis (23/6). (sigit setyo/radarlombok)

MATARAM—Bagi masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, perkawinan merupakan hal yang sangat penting dan sakral. Karena selain sunnah menjalankan perintah agama Islam, didalamnya juga terdapat adat istiadat Sasak Lombok.

Khusus adat istiadat, dalam perkawinan masyarakat suku Sasak Lombok, ada rangkaian tradisi atau adat istiadat yang biasanya dipimpin oleh Pembayun.

“Pembayun ini bertugas sebagai utusan dari pihak pengantin laki-laki, yang diberikan mandat untuk menyelesaikan pelaksanaan adat, atau tata cara dalam perkawinan ke pihak keluarga pengantin perempuan,” kata Budayawan NTB, HL Agus Fathurrahman, yang menjadi narasumber Sarasehan Pembayun, yang digelar Museum Negeri NTB, Kamis (23/6).

Pembayun sendiri sambung Mamiq Agus, sapaan akrabnya, berasal dari dua suku kata, yaitu Pemban dan Ayuning, yang berarti Pengajeng atau Pemuka.

“Dalam upacara Sorong Serah, Pembayun bertugas sebagai pemimpin rombongan, membawa harta benda bawaan pihak keluarga pengantin laki-laki ke pihak keluarga perempuan,” jelasnya.

Dalam Sarasehan Pembayun Museum NTB yang diikuti 50 peserta, berasal dari para guru tingkat SMP/MTs dan SMA/MA se pulau Lombok tersebut, Mamiq Agus juga menjelaskan beberapa hal yang harus dikuasai oleh seorang Pembayun.

Mulai dari pengetahuan tentang tata cara atau adat istiadat, dan juga harus menguasai Bahasa Sasak halus, atau biasanya dalam Kepembayunan menggunakan Bahasa Kawi (Jawa Kuno).

“Selain itu, Pembayun sebagai pemimpin dalam tradisi upacara Sorong Serah, juga harus menjaga ketertiban rombongannya, dan bertanggung jawab penuh untuk keberhasilan tugas yang diembannya sebagai utusan keluarga pengantin laki-laki,” tutur Mamiq Agus.

Karena itu, seorang Pembayun tentu saja bukan orang sembarangan. Selain dituntut memiliki wawasan luas, menguasai tata cara dan adat istiadat suku Sasak Lombok, khususnya dalam hal perkawinan, penampilan Pembayun juga harus baik dan berwibawa.

Berwibawa, artinya seorang Pembayun harus menjadi panutan bagi rombongan yang dipimpin, sehingga kata-katanya juga akan dipatuhi.

Demikian pakaian yang dikenakan juga harus rapi dan memenuhi khaedah busana khas Sasak Lombok. Mulai dari ikat kepala (Sapuk), Dodot, Kemeja (Pegon), Kain Sarung Panjang, dilengkapi dengan sebilah Keris (Pemaja) yang diselipkan di pinggang.

Baca Juga :  Museum NTB Raih Penghargaan Sebagai Museum Kolaboratif

Pun seorang Pembayun juga harus memiliki kecakapan dalam tutur bahasa ketika menyampaikan segala sesuatunya, sebagai utusan resmi dari pihak keluarga pengantin laki-laki.

“Dalam menjalankan tugasnya, Pembayun tidak sendiri, tetapi juga didampingi Panji, atau Pengiring, yang sewaktu-waktu dapat diminta pendapatnya oleh Pembayun,” ucap Mamiq Agus.

Mengingat sulit dan alotnya tugas yang diemban, maka sebelum berangkat menuju ke rumah pihak keluarga pengantin perempuan, maka Pembayun terlebih dahulu juga harus melakukan diskusi dengan pihak keluarga laki-laki, kepala dusun atau kepala desa, sebagai bekalnya nanti menjalankan tugas Kepembayunan.

“Karena sekali melangkah sebagai utusan, tanggung jawab keberhasilan itu ada di pundak Pembayun,” tandas Mamiq Agus.

Lebih jauh disampaikan Mamiq Agus, ada beberapa tahapan tugas Pembayun, yakni “Sejati”, proses yang pertama kali dilakukan oleh seorang Pembayun ketika mendapatkan kabar dari salah satu pihak keluarga kedua mempelai. Sehingga untuk menyelesaikan persoalan itu, akan dilakukan tradisi Memulang, atau pemberitahuan kepada pihak keluarga perempuan.

Berikutnya yaitu “Tobat Lekoq Buaq”, persiapan dari pihak mempelai laki-laki sehingga diberikan kelancaran ketika proses akad nikah. Selanjutnya “Meradang”, proses menentukan ajikrama yang dilakukan oleh pihak mempelai perempuan dengan bermusyawarah.

“Terkait ini Pembayun ditugaskan oleh pihak mempelai laki-laki guna mengambil hasil kesepakatan terhadap jumlah Ajikrama yang telah disepakati oleh pihak mempelai perempuan itu,” jelasnya.

Berikutnya “Sorong Serah”, seorang Pembayun beserta para Panji akan kembali ke rumah mempelai perempuan, guna menyerahkan semua kelengkapan yang berkaitan dengan persyaratan kelengkapan Ajikrama.

selanjutnya, “Nyongkol” yang dapat juga diartikan sebagai tradisi untuk memperkenalkan kedua calon mempelai kepada khalayak ramai. Dimana rombongan pengantin dari pihak laki-laki akan mendatangi kediaman keluarga dari pihak mempelai perempuan.

Baca Juga :  Selama Seminggu, Museum NTB Pamerkan Naskah-naskah Kuno

Terakhir, “Ngelewaq dan Ngerapahang” prosesi mengembalikan langkah untuk menuju kediaman pihak keluarga perempuan yang hanya diikuti oleh keluarga besar saja, yang kemudian akan mengadakan Ngerapahang (perdamaian). “Kedua pihak mempelai akan saling memafkan apabila selama prosesi perkawinan ada tindakan yang kurang berkenan,” ulasnya.

Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, M.Hum, menambahkan bahwa mengapa pihak Museum merasa perlu menggelar Sarasehan Pembayun?

“Karena dengan telah berkembangnya jaman, banyak generasi muda yang tidak mengetahui tradisi Pembayun ini. Sehingga pihak Museum melaksanakan Sarasehan Pembayun, diikuti para Guru Sejarah SMP maupun SMA di Pulau Lombok, dengan harapan pengetahuan tentang Pembayun ini nanti akan diajarkan ke siswa-siswi di sekolahnya,” jelasnya.

Kaitannya dengan Museum NTB, sambung Bunyamin, Kepembayunan ini juga terkait erat dengan keberadaan naskah-naskah lontar yang banyak menjadi koleksi Museum NTB. “Sehingga kalau masyarakat hendak mencari sumber-sumber tertulis tentang Pembayun, maka mereka bisa mengunjungi dan melihat koleksi naskah kuno di Museum NTB,” ucap Bunyamin.

Sedangkan Praktisi Pembayun, yang juga Budayawan Lombok, Lalu Abdur Rahim, S.Pd. MH, menambahkan bahwa pengetahuan tentang Kepembayunan ini penting bagi para guru-guru di sekolah, sehingga ada transfer ilmu kepada para siswanya. Yang ujungnya tentu saja akan tumbuh rasa cinta seni budaya dan adat istiadat daerah sendiri.

“Seni budaya, dan adat istiadat Sasak Lombok ini, yang salah satunya Kepembayunan, kalau bukan dari kita generasi pendidik (guru) yang mengenalkan kepada generasi muda, dalam hal ini siswa-siswi kita, lantas siapa lagi. Karena itu, terima kasih Museum NTB yang telah menggelar kegiatan-kegiatan seperti ini. Tak hanya Kepembayunan, ke depan mungkin giat seni budaya atau adat istiadat lainnya juga perlu diangkat,” harap Miq Ahim, yang juga Guru di SMA Hang Tuah ini. (gt)

Komentar Anda