Lembah Hijau, Destinasi Alternatif Baru Di Pulau Lombok

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah ditetapkan sebagai daerah pendukung pariwisata Nasional. Keberadaan Destinasi alternatif pun mutlak diperlukan dalam mendukung dan menunjang geliat perkembangan pariwisata. Lembah Hijau, destinasi wisata alternatif berbasis Eco – Tourism kini mulai banyak dikunjungi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri.

 


AHMAD YANI – LOTIM


 

SIAPA menyangka kawasan Destinasi Lembah Hijau, Desa Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, sekitar tahun 2000 adalah kawasan bekas tambang galian C, dan perbukitan yang tandus. Namun kini, kawasan itu sudah berubah menjadi destinasi alternatif baru. Kawasan tersebut selalu ramai dipadati warga untuk rekreasi dan menikmati kesejukan alam menghijau, udara yang segar, serta menghilangkan berbagai kepenatan, terutama akhir pekan.

Pun tiket masuk dalam kawasan Lembah Hijau juga sangat terjangkau. Sehingga praktis destinasi ini bisa dinikmati semua lapisan masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi. Mulai dari masyarakat kelas atas hingga kelas masyarakat bawah. Total luas kawasan Lembah Hijau mencapai sekitar 16 Hektar lebih.

Dari total 16 Hektar lebih kawasan Lembah Hijau tersebut, ada sekitar 6 hektar masih bekas tambang galian C yang belum direklamasi. “Ada 10 Hektar sudah direklamasi, yang dulu bekas galian tambang C dan perbukitan tandus," kata Muhammad Fikry, penanggung jawab pengelola Lembah Hijau, kepada Radar Lombok, kemarin (26/6).

Muhammad Fikry, adalah salah satu putra Slamet Sahak, yang menginisiasi reklamasi kawasan Lembah Hijau menjadi daerah penuh pepohonan, dan menjadi destinasi alternatif di Lombok Timur khususnya, dan di pulau Lombok umumnya.

Lembah Hijau pertama kali di buka menjadi destinasi sejak tahun 2005. Reklamasi kawasan tersebut sudah dilakukan sejak 1998. Meski, banyak mencibir dan menganggap "gila" apa yang dilakukan Slamet Sahak kala itu. Namun pelan tapi pasti, kawasan tersebut berubah menjadi daerah subur, menghijau penuh dengan pepohonan rindang dan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan.

Selain itu, di dalam kawasan tersebut ada sejumlah danau. Dengan yang paling luas sekitar 1 hektar, serta kedalaman hampir 2,5 meter. Danau tersebut adalah bekas lokasi galian tambang C. Dilengkapi dengan perahu, memungkinkan bagi pengunjung untuk bisa berkeliling menikmati danau tersebut. Berugak juga banyak ditempatkan disekitar pinggiran danau.

Selain itu, ada juga kolam yang dibangun pengelola kawasan Lembah Hijau. Baik diperuntukkan bagi dewasa maupun anak-anak. Beragam fasilitas pendukung juga sudah tersedia, misalnya berugak, lokasi parkir, ruang pertemuan, fasilitas permainan anak- anak, toilet dan fasilitas pendukung lainnya.

Pemandangan di dalam kawasan tersebut makin sejuk, dengan dibangunnya sejumlah taman bunga di beberapa sudut kawasan tersebut. Lengkaplah indra penglihatan anda dimanjakan dengan pepohonan menghijau, rindang dan segar.

Seiring destinasi tersebut makin dikenal dan menjadi alternatif kunjungan. Baik pelancong dalam maupun luar negeri. Kedepan, bakal dibangun lagi sejumlah fasilitas pendukung destinasi lainnya. Diantaranya, segera bakal dibangun Homestay. Sehingga memungkinkan bagi  pengunjung bisa menginap dan menikmati suasana kesejukan malam. Fasilitas out bound pun segera akan dibangun.

“Kami ingin memanjakan pengunjung dengan beragam fasilitas destinasi di dalamnya. Lembah Hijau sudah menjadi destinasi alternatif dan favorit di pulau Lombok," ujar alumni UPN Jogjakarta ini.

Terlebih, posisi kawasan Lembah Hijau juga strategis, persis berada disamping jalan nasional. Tepatnya di Desa Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji. Dengan posisi lembah Hijau tersebut, bisa ditempuh dan dijangkau dengan beragam transportasi darat dengan mudah dan cepat. Tidak terlalu sulit untuk bisa menemukarn kawasan tersebut.

Meskipun, fasilitas pendukung destinasi tersebut terus ditambah dan dilengkapi. Namun, satu hal yang tidak bakal diubah dan menjadi ciri khas melekat dari kawasan tersebut. Lembah Hijau bakal tetap dipertahankan sebagai Eco Tourism berbasis pendidikan alam. Disini anda dapat belajar tentang alam. Banyak kunjungan wisata yang ditujukan ke Lembah Hijau untuk melaksanakan pendidikan berbasis alam.

Tidak hanya dari dalam negeri. Sejumlah negara tetangga pun sudah berkunjung ke Lembah Hijau untuk bisa melihat secara lebih dekat, bagaimana area bekaa tambang galian C dan perbukitan tandus, disulap menjadi destinasi alternatif menjanjikan. “Awalnya tahun 2016, ada sekelompok Mahasiswa dari Australia berkunjungi dan mempelajari lebih dekat proses reklamasi di kawasan ini," tuturnya.

Bagi Fikry, destinasi di Lembah Hijau tidak semata-semata untuk mendulang gemericik pundi-pundi rupiah saja. Namun tak kalah penting, bagaimana memberikan pendidikan kepada masyarakat dan generasi kedepan, kepedulian untuk mencintai Alam dan menjaga kelestarian.

Karena itu, konsep pengembangan destinasi Lembah Hijau adalah destinasi pendidikan alam. Salah satu upaya tersebut, dengan mereklamasi lahan ada untuk dijadikan sebagai kawasan bumi perkemahan standar nasional.

Menurut Fikry, hal ini menjadi ciri khas tetap dipertahankan di Lembah Hijau. Tidak dipungkiri. Lembah Hijau adalah kawasan pertama di Pulau Lombok, berasal dari bekas tambang galian C dan perbukitan tandus disulap menjadi Destinasi Alternatif menjanjikan. Sehingga tidak mengherankan. Lembah Hijau menjadi rujukan, baik dalam negeri maupun luar negeri terkait proses reklamasi bekas galian tambang C dan perbukitan tandus.

Secara ekonomis, masyarakat juga merasakan secara langsung dampak dari destinasi alternatif Lembah Hijau tersebut. Dimana diluar masuk menuju area kawasan Lembah Hijau banyak berdiri Pedagang kaki lima (PKL). Keberadaan dari pedagang seiring dengan banyak pengunjung dikawasan tersebut. “Dengan adanya Lembah Hijau, menggerakkan ekonomi sekitar, dimana banyak masyarakat yang berdagang," pungkasnya. (yan)

BACA JUGA :  Menikmati Suasana Sunset di Kawasan Eks Pelabuhan Ampenan