Lembaga Penjaminan Berperan Strategis Tumbuhkan Usaha Mikro

MATARAM—Geliat usaha mikro di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa tahun belakangan ini tumbuh membanggakan. Hal itu terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, dan juga data Pemerintah Provinsi NTB yang mencatat usaha mikro mulai bekembang.

Perkembangan usaha mikro di Provinsi NTB tak terlepas dari semakin dipermudahnya akses permodalan di lembaga perbankan melalui program kredit murah, dengan suku bunga di subsidi oleh pemerintah, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR). Keberadaan perbankan selaku penyalur KUR tidak berdiri sendiri, namun kehadiran lembaga penjaminan kredit yakni Penjamin Kredit Indonesia (Jamkrindo) yang memberikan penjaminan kredit usaha mikro.

Kehadiran Perusahaan Umum (Perum) Jamkrindo, diakui konsultan Pendamping Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Usaha Mikro, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Provinsi NTB, Nurahmad, memiliki peran strategis dalam menumbuhkembangkan usaha mikro. “Peran Jamkrindo selaku lembaga penjamin KUR bagi usaha mikro sangat penting dan strategis bagi UMKM,” katanya Sabtu lalu (11/6).

Dikatakan, selama ini persoalan yang dihadapai pelaku usaha mikro adalah terkait permodalan yang begitu sulit diakses di lembaga perbankan. Karena persoalan usaha yang belum layak dari sisi penilaian perbankan, sehingga mengakibatkan hampir sebagian besar usaha mikro terjerat dengan pinjaman rentenir berkedok koperasi dengan bunga kredit yang begitu besar. Namun karena tak ada pilihan lain, usaha mikro terpaksa menggunakan jasa rentenir yang berkedok koperasi “bank rontok” sebagai salah satu solusi karena keterpaksaan.

Akibatnya, pelaku usaha mikro ini sulit berkembang, namun justru terlilit oleh hutang dengan suku bunga kredit yang diterapkan oleh rentenir mencapai 20 persen per bulannya.

Kehadiran pemerintah dengan program KUR suku bunga rendah, bahkan sekarang tahun 2016 hanya 9 persen per tahun, serta didukung keberadaan Perum Jamkrindo yang menjamin kredit usaha mikro yang sebagian besar di perdagangan dan sektor riil lainnya kian tumbuh menjanjikan. Terlebih perekonomian di NTB hampir 80 persen ditopang oleh sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Muhammad Farhan, salah seorang pelaku usaha mikro asal Lingkungan Turida Barat, Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya mengaku sangat terbantu adanya KUR dengan suku bunga 9 persen ini. Pasalnya, selama ini Farhan yang menjual sandal di pasar keliling dan juga membuka lapak jualan di Taman Udayana setiap hari Ahad saat pelaksanan car free day (CFD) ini semakin tenang berusaha.

Tak seperti sebelumnya ketika meminjam uang untuk modal usaha di “bank subuh” harus menguras pikiran, karena membayar cicilan kredit setiap hari dengan bunga yang sangat besar. “Alhamdulillah, usaha sekarang berjalan lancar. Modal usaha pinjaman KUR dari bank membuat usaha saya lebih terarah,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Azizah, salah seorang pedagang pakaian di salah satu pasar tradisional di Kota Mataram. Azizah mengaku sangat terbantu dengan pinjaman KUR di salah satu lembaga perbankan di Mataram, dimana bisa menambah barang jualan menjadi lebih banyak variasinya. “Pinjaman KUR ini sangat murah dan sangat membantu keberlangsungan usaha saya,” ujarnya.

Kepala Perum Jamkrindo Cabang Mataram, Jaja Jatnika, menyebut bahwa dari Januari sampai tanggal 7 Juni 2016, jumlah nasabah UMKM yang dijamin pinjaman KUR oleh Jamkrindo Cabang NTB sudah mencapai 11.621 debitur yang dijamin, yang pencairan kreditnya melalui tiga bank yakni BRI, Bank BNI dan Bank Mandiri, khususnya di Pulau Lombok.

“Kredit yang disalurkan oleh tiga bank dengan jaminan dari Perum Jamkrindo di Pulau Lombok sudah mencapai Rp 328,968 miliar, dari target penjaminan sebesar Rp 600 miliar di tahun 2016 ini,” sebut Jaja.

Jaja mengatakan, realisasi terbesar untuk pinjaman KUR di awal tahun 2016 ini adalah BRI, dengan jumlah nasabah sebanyak 9.674 orang, dengan pinjaman senilai Rp221,608 miliar. Kemudian Bank Mandiri dengan jumlah debitur sebanyak 1.785 orang, dengan total penyaluran kredit senilai Rp 67,485 miliar, dan Bank BNI dengan jumlah debitur sebanyak 165 orang, dengan jumlah  kredit yang disalurkan senilai Rp 39,875 miliar.

Dari 11.621 orang debitur yang mendapatkan pinjaman KUR dari tiga bank  penyalur, berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 17.526 orang. Dimana serapan tenaga kerja terbanyak adalah debitur dari BRI sebanyak 9.674 orang, mampu mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 15.403 orang. “Jamkrindo lebih mengarahkan sektor usaha mikro lebih tumbuh lagi melalui program KUR ini,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Fasilitasi Simpan Pinjam dan Permodalan (FSPP) Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Provinsi NTB, Muhammad Imron, mengatakan keberadaan PT Jamkrindo sebagai salah satu lembaga penjamin kredit usaha rakyat memberi manfaat yang sangat besar bagi pelaku UMKM dalam modal usaha. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan semakin berkembangnya usaha para UMKM yang ada di Provinsi NTB.

“Keberadaan Jamkrindo sangat membantu pelaku UMKM dalam penjaminan kredit mereka. Kita berharap kedepannya ada lembaga koperasi yang menjadi penyalur KUR dan dijamin oleh Jamkrindo. Sehingga semakin banyak anggota koperasi bisa mengakses KUR,” harapnya. (luk)

BACA JUGA :  Geliat Usaha Ternak Kambing Menjelang Idul Adha