Lebih Dekat dengan Produksi Tuak Manis Bubuk Petani Aren Loteng

Buat Inovasi karena Gula Merah Kurang Laku

Tuak Manis Bubuk
BUBUK : Winarti menunjukkan kemasan tuak manis bubuk olahan kelompok tani hutan di Desa Aik Bual Kecamatan Kopang Lombok Tengah. (Devi Handayani/RADAR LOMBOK)

NTB dikenal sebagai sentra aren berikut olahannya. Karena produk gula aren kurang mulai kurang diminati, petani melakukan terobosan dengan produk tuak manis bubuk. Nilai jualnya bertambah dan lebih menguntungkan mereka.


DEVI HANDAYANI-LOMBOK TENGAH


Pohon aren banyak terdapat di kawasan hutan Lombok Tengah bagian utara. Para petani menggantungkan hidup mereka dari bertani aren. Ada yang memilih simple, membuat minuman keras tradisional, ada juga yang mengolah air aren menjadi gula merah. Nah, yang disebut terakhir mulai kurang begitu laku. Itu sebabnya petani melakukan langkah lain, menjual dalam bentuk tuak manis bubuk dalam kemasan gelas plastik. Jadi pembeli tinggal buka dan seduh.

Ini bentuk baru yang dikembangkan petani. Langkah ini belum begitu dikenal. Ada banyak petani yang menjual tuak manis botolan di pinggir jalan. Tuak manis instan dibuat oleh kelompok tani hutan di Desa Aik Bual Kecamatan Kopang Lombok Tengah.

BACA JUGA: Mengenal Produk Ayam Geprek ‘’Mas Jahat“

Kreasi ini sendiri dilakukan karena keuntungan dari pembuatan gula merah tidak terlalu menguntungkan banyak dengan proses pembuatan yang memakan waktu cukup lama. Pembuatan tuak manis instan ini sendiri bermula dari keinginan menyajikan tuak manis yang dapat diminum langsung kapan saja dan dimana saja.

“Awalnya tuak manis ini kan minuman sehat, jadi kami ingin orang bisa menikmati tuak manis kapanpun dimanapun, akhirnya kami berinovasi,” kata pemasar produk Kelompok Tani Hutan, Winarti, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Proses pembuatannya, begitu air diambil langsung diproses lewat proses pemadatan. Waktunya harus satu jam.“ Kalau lewat dari satu jam dia tidak bisa membentuk powder atau tepung, jadi memang harus tuak yang benar-benar fresh kemudian diolah,” jelasnya.

Lebih lanjut Winarti mengatakan, setelah menjadi bubuk, ia bisa bertahan lama sekitar satu tahun. Ini yang membuat produk ini banyak peminat. “Setiap dibawa ke pameran atau event-event di luar daerah pasti ada saja yang beli, selain itu juga pemasarannya masih melalui sosial media,” ujarnya.

BACA JUGA: Pengusaha Kue Bulo Peduli Penyandang Disabilitas

Tak hanya melalui media sosial saja, namun ia juga memasukkan produknya ke beberapa kafe di Lombok. Meskipun minuman ini terbilang berbeda dari biasa, namun peminatnya cukup banyak.“Dimasukkan ke beberapa kafe di Lombok Timur dan di dareh Tanjung, kalau untuk di Mataram belum ada, kedepan kita pingin bisa juga di sana,” ungkapnya.

Ia menjualnya dalam bentuk kiloan. Permintaan per kafe sendiri antara 5-10 kilo. Selain itu, ia ingin memasukkan produknya ke hotel. Mengingat dalam penyajiannya, lebih mengutakan kepraktisan pelanggan untuk dapat menikmati tuak manis di mana saja dan kapan saja. “Untuk yang satu cup gelas, itu harganya Rp 10 ribu, tetapi kalau dikafe saya jual perkilo, satu kilo Rp 80-100 ribu,” katanya.

Tuak manis ini memiliki berbagai varian rasa, mulai dari original, jahe dan dicampur dengan bubuk kopi. Winarti berharap minuman tuak manis bubuk ini brand-nya dapat dikenal sehingga peminatnya akan semakin banyak.“Ingin sih bisa sampai seluruh daerah kenal sama produk kelompok tani hutan ini, sekarang ini baru ngirim ke Sumbawa,” ucapnya.

Meskipun permintaan di luar daerah belum begitu banyak, namun keuntungan di dapat cukup menjanjikan. Di mana ia mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah. Untuk itu, perlunya dorongan agar produk tuak manis instan ini bisa menjadi oleh-oleh khas Lombok bagi wisatawan. “Omset sekarang sebulan bisa Rp 2-3 juta, sebelum gempa bisa sampai 3-4 juta sebulan,” akunya.(*)