Lebih Dekat dengan Komunitas Komikus Pertama di Lombok

Tonjolkan Budaya dan Kearifan Lokal

Komunitas Komikus Pertama di Lombok
KREATIF : Anggota komunitas komikus yang menamakan diri Komunitas Mata Coin berkumpul dalam suatu kesempatan. (Ahmad Yani/Radar Lombok)

Berbagai komunitas dengan kesamaan hobi dan minat banyak bermunculan. Salah satunya komunitas yang  anggotanya memiliki kesamaan hobi menjadi penulis komik.


Ahmad Yani – Mataram


Pergerakan komik dalam negeri semakin berkembang. Ini ditandai dengan kemunculan komunitas komikus di hampir setiap daerah, termasuk di Lombok. Komunitas komikus di pulau Lombok dinamakan Komunitas Mata Coin (Mataram Comik Indie). Keberadaan komunitas tersebut didirikan sejak dua tahun lalu.

Mata Coin merupakah komunitas komikus pertama yang dibentuk di pulau Lombok. Tidak hanya sekedar membuat komik, namun komunitas ini juga mempelajari bagaimana cara mengedit komik, membuat cerita yang baik, menggambar storyboard yang benar, menerbitkan serta mengelola sendiri komik yang dihasilkan. ” Dibawah naungan Digital Dragon Publisher, Mata Coin membuat dan menerbitkan sendiri karya komik yang kita hasilkan,” kata koordinator komunitas komikus Mata Koin Wahyu Hidayat kepada Radar Lombok Rabu kemarin (8/11).’

BACA JUGA :  Menyimak Cerita Para Petugas Keamanan Pasar Tradisional

Anggota komunitas ini  selalu berusaha untuk membuat dan menerbitkan komik yang mengambil latar belakang budaya lokal khususnya Lombok. Dengan komik, diharapkan masyarakat luar bisa mengenal kebudayaan Lombok dengan cara yang lebih menyenangkan.

Komik yang sudah pernah diterbitkan berjudul “Cakram”.  Mata Koin sendiri telah menerbitkan dua edisi komik kompilasi yang diberi nama D’loco, yang merupakan kependekan dari Lombok Comics. Edisi pertama  memuat dua cerita one shot. Bagian pertama tentang usaha segelintir penduduk bumi yang harus bertahan dari serangan alien pemakan manusia.

Sedangkan cerita kedua, mengangkat kisah astronot yang berinteraksi dengan alien di planet lain dan belajar memaknai kehidupan yang damai. Keduanya murni hasil goresan Hendi Herdianto. Untuk edisi kedua D’loco, terdapat empat cerita dengan genre yang berbeda-beda, seperti petualangan, thriller, misteri dan superhero.

Genre petualangan diwakili oleh komik bertajuk Chiko yang dihasikan oleh Ozzet. Lalu ada Like a Wind yang digambar oleh Hardiyanti, dimana ceritanya mengangkat tentang kisah seorang cowok misterius yang muncul di sebuah sekolah. Sedangkan untuk genre thriller yang diberi judul Precognitive, merupakan hasil coretan ekspresif dari Muhammad Guntur. Terakhir, ada Double Kill! yang merupakan karya Awafiq Abdurrazak. ” Rencana Desember ini pun kita merilis komik berjudul Datu Uhumi dengan latar belakang lokasi di Hutan Suranadi Lombok Barat,” ujarnya.

Meski terbilang baru,namun Mata Coin telah mendapat kehormatan dengan diundang pada acara Pakoban (Pasar Komik Bandung) pada bulan Mei 2016 lalu untuk mempromosikan WCF (World Culture Forum) bersama beberapa komikus dari Medan dan Bandung. Menurutnya, Mata Coin tidak hanya sekedar tempat untuk berkumpulnya orang-orang pecinta komik. Namun berusaha untuk ikut menghidupkan kembali kejayaan komik Indonesia dengan produktif menghasilkan karya-karya baru.

BACA JUGA :  Khataman Alquran Penghuni Lapas Mataram Diikuti 160 Napi

” Bagi kamu penggemar komik dan berlokasi di Lombok, khususnya di Kota Mataram dan sekitarnya, jangan ragu-ragu untuk ikut bergabung dalam komunitas ini,” imbuhnya.

Komunitas itu pun biasanya langsung menjual secara online komik yang  diterbitkan dan dihasilkan. Dengan begitu, pemasaran komik-komik ini menjadi lebih luas. 

Meski demikian, bukan tanpa kendala dan hambatan yang dihadapi pihaknya. Persoalan  keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu hambatan yang dihadapi. Selain menghasilkan komik,  pihaknya juga disibukkan dengan  membuat ilustrasi untuk beberapa buku – buki terbitan BPPAUD NTB. ”Karena anggota yang sedikit, kami pun bekerja ekstra keras untuk memenuhi tenggat waktu,” jelasnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, komik pun memiliki tantangan dengan bermunculannya komik digital. Meski ada pergeseran dengan muncul komik digital. Namun, komik konvensional masih banyak memiliki penggemar.(*)