Lalu Iqbal Ajak Camaba Tamsis Bima Berpikir Global

Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.H.I., berfoto bersama mahasiswa STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima. (IST FOR RADAR LOMBOK)

BIMA–STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima memulai tahun akademik baru dengan menghadirkan Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.H.I., seorang diplomat dengan pengalaman luar biasa di berbagai negara.

Kehadiran pria yang mulai merantau sejak umur 14 tahun itu untuk memberikan sambutan dan motivasi kepada para mahasiswa baru. Dalam acara ini, Dr. Iqbal berbagi cerita inspirasional dan pandangan global yang diharapkan dapat memotivasi para mahasiswa dalam mengarungi dunia pendidikan dan karier.

Lalu Iqbal mengawali sambutannya dengan menyampaikan rasa syukurnya bisa bertemu dengan para mahasiswa dan temannya, Dr. H. Ibnu Khaldun Sudriman, M.Si. Ia mengingat kembali perjalanannya meninggalkan kampung halaman pada tahun 1987 di umur 14 tahun, berbekal pesan dari ayahnya.

“Di mana pun kamu berada, selama kita masih di atas langit yang sama, maka kita masih di satu rumah.” Pesan ini mengajarkannya pentingnya prinsip globalisasi dan keterhubungan yang mendalam, di mana peristiwa di belahan dunia lain dapat berdampak langsung pada kehidupan kita.

Dalam penjelasannya, Iqbal menekankan bahwa dunia kini sudah tanpa batas. “Harga jagung di Bima dipengaruhi oleh cuaca di Kalifornia. We are totally connected,” ujarnya. Ia juga mencontohkan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi, bahkan dalam bidang kesehatan di mana data medis di Afrika yang kekurangan dokter dapat dikirim ke Australia untuk mendapatkan diagnosis yang lebih lengkap.

Selain itu, Iqbal mendorong para mahasiswa untuk memiliki pemikiran global meskipun tinggal di daerah lokal. “Living locally thinking globally. Tanamkan itu dalam hati dan pikiran kalian,” tegasnya. Menurutnya, mempertahankan identitas lokal sangat penting di era globalisasi ini.

Ia mengutip buku Global Paradox, yang menjelaskan bahwa meskipun dunia semakin global, komponen lokal seperti budaya justru semakin penting. Dr. Iqbal berharap para mahasiswa dapat menjadi individu yang mendunia tetapi tetap mempertahankan identitas Bima.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan di masa depan akan semakin besar, dengan munculnya teknologi yang menghilangkan beberapa jenis pekerjaan. Namun, ia menekankan pentingnya mempertahankan harapan dan kepercayaan diri.

“Hidup ini tidak ada life time comfort zone. Jadi hidup ini akan berpindah-pindah dari krisis ke krisis lain. Dari pada kamu masuk di krisis yang tidak kamu kehendaki, lebih baik kamu ciptakan krisismu sendiri,” pesan Dr. Iqbal menutup sambutannya.

Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab, di mana para mahasiswa bertanya tentang cara untuk bisa keliling dunia, tindakan pemerintah untuk mengatasi masalah sosial, serta tips mengatasi dampak negatif globalisasi dan mempertahankan budaya lokal.

Santri Jebolan Ponpes Assalam Surakarta ini menjawab dengan penuh bijaksana, dengan keluasan pengalaman dan ilmunya. Pria yang pernah menjadi duta besar di puluhan negara itu juga menekankan pentingnya harapan dan semangat dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Ketua STKIP Taman Siswa Bima, juga memberikan sambutan yang menekankan pentingnya perubahan mindset. “Change your mindset. Dari penumpang menjadi pengemudi,” ujarnya, mengajak para mahasiswa untuk berdaya saing internasional sambil tetap mempertahankan identitas lokal mereka.

Dengan kehadiran dan inspirasi dari Lalu Iqbal yang telah berpengalaman di dunia global, mahasiswa Tamsis Beradab diharapkan dapat menjadi pemimpin yang unggul dan berdaya saing internasional. Membawa nama baik kampus dan daerah mereka ke panggung dunia.

Dengan demikian, STKIP Taman Siswa Bima terus membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri lokal, sesuai dengan tagline mereka: “Tamsis Beradab Go International.” (yan)

Komentar Anda