Kurikulum SMK Dipertanyakan

Hanif Dhakiri

JAKARTA – Upaya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mempercepat produksi SDM kompeten bakal membutuhkan upaya ekstra. Sebab, masih banyak ditemukan lulusan SMK yang mendalami pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Kondisi itu dianggap kontradiktif dengan tujuan SMK yang semestinya mencetak lulusan siap pakai di dunia industri.

Menteri Menaker Hanif Dhakiri mengakui hal itu merupakan persoalan di BLK selama ini. Seharusnya, kata dia, tamatan SMK tidak perlu lagi masuk BLK untuk mengikuti pelatihan. Karena mereka mestinya sudah memiliki keahlian selama belajar di SMK. Hanif pun menuding kondisi tersebut disebabkan kesalahan kurikulum yang diterapkan di lembaga pendidikan kejuruan. ”Apa kurikulum di SMK yang salah ya ?,” ujarnya, Jumat kemarin (7/10).

Kondisi ironis itu ditemukan Hanif di sejumlah BLK milik Kemenaker dan pemerintah daerah provinsi serta kabupaten/kota yang dikunjunginya. Di Unit Pelaksana Teknis Latihan Kerja (UPTLK) Riau, misalnya. Hanif mengatakan mayoritas siswa yang mendalami pelatihan kerja di UPTLK itu merupakan lulusan SMK. ”Rata-rata mereka yang disana adalah tamatan SMK,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, problem ketenagakerjaan saat ini adalah kualitas dan daya saing SDM calon pekerja yang tidak sejalan dengan kebutuhan pasar kerja. Data Kemenaker, profil angkatan kerja nasional sebanyak 128 juta masih didominasi lulusan SD-SMP, yakni 62 persen. Artinya, masih diperlukan banyak tenaga terampil (lulusan SMA keatas) agar stok SDM dan pasar kerja sesuai.

Sebenarnya, Presiden Joko Widodo sudah mengeluarkan kebijakan terkait persoalan itu. Yakni, dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9/2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM. Inpres tersebut dikeluarkan 13 September 2016. Dalam inpres itu seluruh gubernur dan beberapa menteri/kepala lembaga diminta bersinergi dalam merevitalisasi SMK.

Terpisah, Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud Mustaghfirin Amin menampik bila dituding lulusan SMK yang ikut pelatihan di BLK lantaran kesalahan kurikulum. Menurut dia, ada lima alasan yang melatarbelakangi tamatan SMK masih ikut program BLK. Pertama karena lulusan tersebut merasa keahlian yang diperoleh selama belajar di SMK belum mantab. Sehingga perlu pendalaman di BLK.

Alasan kedua untuk mengejar sertifikasi. Kemudian ada juga lulusan SMK yang ingin melengkapi keperluan dokumentasi portofolio. Ada pula yang menguji kemampuan bidang kejuruan yang dimiliki di BLK. ”Terus yang terakhir karena ingin menambah keterampilan,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos.

Data Kemendikbud, lulusan SMK 2016 sebanyak 1,18 juta dari total 12.912 lembaga pendidikan. Sedangkan jumlah industri hanya 519 dengan 463 lowongan pekerjaan tersedia. ”Kami terus bersinergi, BLK sangat membantu untuk melengkapi diri (lulusan SMK, Red) agar lebih terampil, berlatih itu bagi semua,” ungkapnya. ”Tapi bukan berarti semua (lulusan SMK, Red) berlatih di BLK, intinya kami bersinergi,” tandasnya. (tyo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid