Kurikulum Prototipe Perkuat Program Dikbud NTB

H Aidy Furqan (ABDI ZAELANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB H Aidy Furqan menyebut ada tiga opsi kurikulum, diantaranya kurikulum standar nasional atau K13, kurikulum kedaruratan dan kurikulum prototipe. Khusus untuk kurikulum prototipe ini sebenarnya adalah hasil pengembangan dari kurikulum yang berlaku secara nasional disesuaikan dengan kebutuahan.

“Jadi nanti setiap satuan pendidikan ersebut mempunyai ciri khas sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Aidy Furqan.

Aidy mengaku jika sudah memberikan warna kepada kurikulum yang nantinya menjadi prototipe. Misalnya, di SMK sudah diintervensi pembelajaran mereka dengan Project Based Learning (PBL). Selanjutnya di SLB sudah diintervensi dengan SLB Vokasi, kemudian di SMA ada SMA terbuka dan SMA Plus.

BACA JUGA :  Hafal 3 Juz Alquran, Diistimewakan Saat PPDB

“Saya yakin dengan adanya kurikulum prototipe ini akan memperkuat apa yang Dikbud NTB sudah lakukan,” jelasnya.

Selain itu, kurikulum Prototipe diterapkan di sekolah-sekolah penggerak dan SMK pusat keunggulan. Sedangkan sekolah yang belum menjadi SMA Penggerak dan PK tidak dituntut menjalankan kurikulum prototipe. Hanya saja, pihaknya mendorong, karena tidak serta merta semuanya bisa mengimpelentasikannya. Apalagi kurikulum prototipe perlu kajian dan kesiapan sekolah. Bahkan kelulusan juga tidak diintervensi oleh pusat, namun diserahkan kepada satuan pendidikan masing-masing.

Menurutnya, kurikulum prototipe ini jika aturannya sudah ada wajib akan disosialisasikan. Untuk saat ini yang melaksanakannya, yakni sekolah penggerak dan SMK PK.

BACA JUGA :  Dikbud NTB Pangkas Kuota Penerimaan Siswa Miskin dan Berprestasi

Untuk diekatahui, di NTB mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, baik negeri maupun swasta yang melaksanakan sekolah penggerak tahap I tahun 2021 ini, yakni Lombok Timur untuk jenjang PAUD ada 6, SD 24, SMP 13 dan SMA 7. Di Kota Bima ada 2 PAUD, 3 SD, 1 SMP dan 3 SMA.

“Jadi total mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP maupun SMA negeri maupun swasta yang menjadi sekolah penggerak di tahap pertama itu ada 59 dari Lotim dan Kota Bima,” tandasnya. (adi)