Kurang Air, Petani Tembakau Menjerit

AIR : Para petani tembakau di wilayah Kecamatan Jerowaru menjerit kekurangan air. (M. Gazali/Radar Lombok )

SELONG –  Krisis air yang melanda Lombok Timur karena kekeringan ekstrem memaksa para petani di Desa Pena Kecamatan Jerowaru mengambil langkah ekstrem demi kelangsungan tanaman tembakau mereka. Dalam upaya untuk mengatasi kekurangan air yang melumpuhkan lahan pertanian, petani tembakau di daerah ini memilih menggunakan es batu untuk menyiram tanaman mereka.

Noviana, salah seorang petani di Dusun Sagik Mateng Desa Pena mengungkapkan bahwa kekeringan yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir telah menghambat pertumbuhan tanaman tembakau miliknya.”Saya sudah beli 200 balok es, dengan harga 15 ribu per balok, untuk lahan seluas 27 are. Itu artinya saya sudah menghabiskan 15 kali 200 ribu rupiah,” terangnya.

Proses menggunakan es batu untuk menanam tembakau bukanlah hal yang mudah. Hamdi, petani lainnya, juga harus membeli ratusan balok es batu dari pabrik di Jerowaru untuk menyiram lahan pertaniannya yang mencapai 30 are.”Kami memang harus memastikan tanah cukup lembab agar tanaman bisa tumbuh,” ungkapnya.

Baca Juga :  Petani Diminta Beralih ke Pupuk Organik

Petani lainnya, Zaidun menambahkan, selain menggunakan es batu, para petani di Desa Pena juga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan irigasi.” Satu tangki air berkapasitas 5 ribu liter dijual dengan harga antara 170 ribu hingga 200 ribu rupiah, tergantung jaraknya dari lokasi pembelian.

Untuk tanam satu hektar, kita butuh 30 tangki air. Belum lagi untuk kebutuhan saat pemupukan,” ungkapnya.

Kondisi ini semakin memperparah ekonomi para petani. Harga bibit tembakau mencapai 150 ribu per biji, dan untuk satu hektar diperlukan sekitar 11 hingga 12 bibit. Dengan biaya buruh tanam sekitar 30 ribu per orang setengah hari, total biaya untuk menanam tembakau di satu hektar bisa mencapai Rp 30 juta sampai Rp 35 juta.”Kita berharap supaya pemerintah memberikan perhatian lebih ke para petani dengan kondisi sekarang ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tempat Wisata Ditutup Empat Hari

Dalam upaya untuk mengatasi krisis ini, beberapa petani  terpaksa  menggunakan es batu untuk irigasi tanaman terbukti lebih efisien dibandingkan dengan membeli air dalam tangki besar. Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, petani-petani ini tetap gigih berjuang agar hasil panen mereka tidak terganggu oleh krisis air yang sedang melanda.” Kita berharap agar musim hujan segera tiba untuk mengakhiri krisis ini, sehingga kita bisa kembali menanam dengan lebih mudah dan tanaman dapat tumbuh dengan subur,” tutupnya.(lie)

Komentar Anda