Kuota Haji NTB Bertambah Ribuan

Ma’ad Umar (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kabar baik bagi seluruh masyarakat NTB yang telah mendaftarkan diri melaksankan ibadah haji. Mulai tahun 2017 ini, kuota haji untuk Provinsi NTB dipastikan bertambah mencapai ribuan.

Kepala Bidang Urusan Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah NTB, Ma’ad Umar menyampaikan, bertambahnya kuota haji untuk Indonesia berpengaruh juga terhadap kuota haji di daerah. “Hitungan kami sih bisa ribuan tambahan kuota untuk NTB,” terangnya kepada Radar Lombok di ruang kerjanya, Jumat kemarin (13/1).

Dipaparkan Ma’ad, jumlah kuota haji NTB beberapa tahun terakhir hanya 3.572 orang. Namun mulai tahun ini dipastikan bertambah menjadi 4.464 orang. Ditambah lagi dengan kuota 10 ribu  yang didapatkan Indonesia.

Berdasarkan hitungan Kemenag NTB, sebenarnya jumlah kuota 4.464 orang bukan bertambah. Tetapi dikembalikan seperti yang dulu lagi setelah perluasan fasilitas di Masjidil Haram, Mekkah selesai. Penambahan kuota untuk Indonesia hanya sebesar 10 ribu  orang saja. “Jangan sampai keliru, kuota kita sebenarnya kembali normal seperti dulu. Yang tambahan itu hanya 10 ribuuntuk Indonesia,” jelasnya.

Untuk hitungan di NTB, jumlah kuota sejak tahun 2013 hanya 3.572 orang saja. Mulai tahun ini, jumlah kuota dikembalikan normal menjadi 4.464 orang. Itu artinya bertambah sebanyak 892 orang dibandingkan kuota tahun lalu.

Penambahan 892 orang ini, diperbanyak lagi dengan adanya 10 ribu  kuota haji tambahan untuk Indonesia. Dari 10 ribu  tersebut, Ma’ad memperkirakan jatah NTB lebih dari 200 orang. “Jadi total tambahan tahun ini dibandingkan tahun lalu mencapai 1.100 lebih,” ucapnya.

Dengan adanya penambahan kuota ini, maka daftar tunggu bagi masyarakat yang telah mendaftar tentunya bisa menjadi lebih pendek. “Jadi kan sekarang akan ada 1.100 lebih tambahan yang bisa berangkat haji. Ini tentu kabar menarik,” katanya.

[postingan number=3 tag=”haji”]

Oleh karena itu, dalam waktu dekat Kemenag NTB akan melakukan sosialisasi terhadap pendaftar haji. Hal ini terkait juga dengan kewajiban membayar Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), yang telah dimulai sejak Desember 2016 lalu.

Bagi pendaftar yang sebelumnya dijadwalkan berangkat 2018, sebanyak 1.100 orang lebih bisa berangkat tahun ini. Penentuan tersebut nantinya berdasarkan daftar urutan. “Tentu mereka akan kita kasitau juga, karena memang harus tahu,” ujar Ma’ad.

Untuk nominal BPIH tahun 2017, Ma’ad mengaku belum bisa menyampaikannya ke masyarakat. Mengingat, Kementerian Agama sendiri sampai saat ini belum memberikan informasi apapun. “Kalau soal biaya, saya belum tahu apakah akan bertambah atau berkurang. Kita tunggu saja keputusan dari pusat, karena kan harus melalui DPR-RI juga pembahasannya,” tutup Ma’ad.

Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTB, Hj Wartiah yang membidangi masalah haji menyambut baik kabar tersebut. Itu artinya, dengan penambahan kuota akan membuat masyarakat tidak terlalu lama menunggu.

Hal yang perlu diperhatikan, lanjut Wartiah, penambahan kuota tidak boleh dipermainkan. Jangan sampai ada pendaftar yang urutannya di bawah namun bisa pergi haji dengan cepat. “Kalau mau pergi haji cepat kan ada tuh yang secara kilat, ini kita pesan ke Kemenag. Pokoknya lurus-lurus saja sudah,” saran politisi PPP ini.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) harus melakukan persiapan jauh-jauh hari dalam menghadapi musim haji 2017. Sebab, penambahan kuota haji tahun ini membutuhkan kesiapan penyelenggaraan. Mulai administrasi, embarkasi, hingga layanan jamaah di Arab Saudi.

Dirjen Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kemenag Abdul Djamil memastikan bahwa persiapan mulai dicicil pada Oktober 2016. Namun, dia mengakui, kesiapan itu lebih ditujukan untuk tambahan kuota 10 ribu, hasil lobi Presiden Joko Widodo sejak dua tahun lalu. "Kami memang tidak mengira kuota akan dikembalikan ke kuota asal. Tapi, segera dipersiapkan," ujarnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa titik krusial yang segera disiapkan. Yakni, persiapan dalam negeri yang mencakup embarkasi dan penyiapan kloter. Tahun ini diperkirakan ada penambahan hingga 115 kloter dari 385 kloter pada 2016. Penambahan itu juga akan dibarengi dengan jumlah petugas haji dari 3.250 menjadi 3.500 orang. "Mereka diberangkatkan dari 13 embarkasi. Tentu harus ada kesiapan personel yang mengawasi juga," ujarnya. Untuk di luar negeri, Kemenag akan kembali melakukan perhitungan soal jumlah akomodasi hotel, transportasi, dan ketering.

Disinggung soal pengaruh penambahan kuota ke biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH), Djamil belum bisa memastikan. Dia mengatakan, dibutuhkan perhitungan lagi untuk mengetahui apakah penambahan kuota bisa berpengaruh pada besaran BPIH. "Belum tahu. Nanti baru dihitung bersama DPR," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, tambahan kuota 52,2 ribu itu akan diprioritaskan bagi jamaah yang belum pernah naik haji."Prioritas betul-betul ditujukan bagi yang belum berhaji sama sekali," kata Lukman setelah menyampaikan sambutan acara Halaqah Ulama "Refleksi 33 Tahun Khittah NU" di Situbondo sebagaimana dilansir situs Kemenag kemarin.

Karena itu, Lukman berharap jamaah yang sudah pernah berhaji bisa berbesar hati memberikan kesempatan kepada sesama saudaranya yang belum berhaji. Dia menjelaskan, kewajiban berhaji sebenarnya hanya sekali dalam seumur hidup. Mereka yang sudah pernah menjalankan sesungguhnya tidak berkewajiban untuk berhaji lagi. "Kewajibannya sudah gugur, maka kita berikan kesempatan bagi yang belum berhaji sama sekali," tuturnya.

Lukman mengaku bersyukur atas penambahan kuota menjadi 221 ribu itu. Kata dia, kenaikan tersebut sangat berarti karena su­dah empat tahun kuota Indonesia dipotong 20 persen hingga tinggal 168.800 jamaah. "Mudah-mudahan ini akan semakin memperpendek antrean para calon jamaah haji Indonesia," katanya. (zwr/mia/c10/c9/agm)