Kunjungan Wisman Dibuka 2022, Pariwisata akan Semakin Terpuruk

KUNJUNGAN: Suasana hotel di kota Mataram yang ramai dikunjungi dan banyak gelaran MICE.(DEVI HANDAYANI /RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah berencana akan membuka kran untuk wisatawan mancanegara masuk awal tahun 2022 mendatang.

Hal tersebut karena melihat kondisi pandemi Covid-19 belum ada tanda-tanda bakal mereka, bahkan justru sudah ada ditemukan varian baru virus Covid-19 yang lebih mematikan mulai masuk Indonesia. Hanya saja, kondisi tersebut akan membuat industri pariwisata Indonesia dan lebih khususnya lagi NTB akan semakin tepuruk. “Lama sekali kalau 2022, temen-teman ini gimana jadinya. Saya mengerti maksud pemerintah, supaya Covid-19 ini tuntas pada saat itu, tapi disatu sisi akan mematikan industri pariwisata,” kata Ketua Kehormatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra.

Menurutnya, baru bisa dibuka untuk wisman pada tahun depan, karena perkiraan vaksin usai pada pertengah tahun 2021. Setelah vaksin kemudian berjalan masa pemulihan yang membutuhkan waktu selama 6 bulan. Hal tersebut menjadi pertimbangan dari pemerintah, sehingga baru bisa dibuka pintu masuk wisman pada April 2022 mendatang. “Berarti hitung-hitungan pemerintah itu, mungkin terakhir vaksin itu bulan November, setelah itu baru aman. Tapi itu berat bagi industri pariwisata, lebih khususnya perhotelan,” ungkapnya.

Sebelumnya pemerintah sudah menyiapkan rencana pembukaan pariwisata internasional atau wisatawan asing. Dalam rencana pembukaan pariwisata internasional tersebut, untuk Bali akan dibagi ke dalam tiga tahapan. Ketiga tahapan tersebut mulai berlangsung bulan ini hingga awal tahun depan. Dan wacana tahap ketiga akan dilakukan uji coba pembukaan Bali untuk wisatawan mancanegara pada bulan Januari-Maret tahun 2022 mendatang.Kemudian baru pada bulan April 2022, pembukaan resmi zona hijau untuk wisatawan asing.

Sembari menunggu dibukanya pintu masuk wisman ke Indonesia, pariwisata hanya mampu mengandalkan tamu domestik, terlebih di daerah hanya mampu yang lokal sebagai wisatawan. Karena untuk domestik saja masih berat dengan banyaknya persyaratan harus dipenuhi oleh wisatawan, belum lagi kondisi ekonomi nasional yang cukup berat. “Kita garap domestik dan lokal. Domestik pun berat, karena biaya yang harus dikeluarkan bertambah, mulai daribiaya tiket, resiko dan rapid tes antigen. Itu yang bikin repot,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Senggigi Hotel Association (SHA) I Ketut M Jaya Kusuma mengatakan, saat ini yang perlu dilakukan adalah mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat terkait dengan rencana dibukanya keran wisman pada 2022 mendatang. Karena kebijakan tersebut di ambil tentu ada analisanya, meskipun rencananya tersebut sebelumnya akan dilakukan dalam waktu dekat di tahun 2021. “Tapi dari sisi industri memang sangat berat. Cumaitu secara resmi secara keseluruhan. Tapi info yang kita terima, ada juga travel bubble (kesepakatan kedua negara, red) yang mungkin bisa memperbolehkan saling buka satu sama lain,” ujarnya.

Diharapkan april 2022 itu untuk semua wisman dibukan, selain itu dari travel bublle. Kendati jika memang belum bisa maka sasarannya pada market domestik. Karena mereka juga berpotensial. “Mereka juga bisa untuk revival setelah survive. Diharapkan ini yang mendongkrak. Secara keseluruhan masih 20 persen okupansinya, ada peningkatan demand sedikit karena Nyepi, market terbatas lokalan,” tuturnya. (dev)

BACA JUGA :  Pajak Bocor, BKD Pasang Alat Pengawas di Hotel