Kuburan Mahasiswi Unram Bakal Dibongkar

OLAH TKP : Satreskrim Polresta Mataram kembali melaksanakan olah TKP ulang di lokasi bunuh diri Linda, di Jalan Arofah BTN Royal, Lingkungan Angsor, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)
OLAH TKP : Satreskrim Polresta Mataram kembali melaksanakan olah TKP ulang di lokasi bunuh diri Linda, di Jalan Arofah BTN Royal, Lingkungan Angsor, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)
Advertisement

MATARAM – Kematian Linda Novita Sari, 23 tahun, mahasiswi pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) masih misteri. Penyidik Satreskrim Polresta Mataram masih harus mengumpulkan bukti-bukti untuk menindaklanjuti kasus kematian bunuh diri ini.

Apalagi, keluarga korban sudah melayangkan surat permohonan agar kasus kematian gadis cantik itu ditindaklanjuti. Keluarga korban yang sebelumnya tak ingin kasus itu ditindaklanjuti kini berubah pikiran. Keluarga korban hendak kasus itu ditindaklanjuti dan mengizinkan agar dilakukan otopsi.

Karenanya, polisi hendak membongkar kuburan almarhumah dalam waktu dekat ini. Polisi sudah melayangkan surat permohonan ke Biddokkes Polda NTB untuk menindaklanjuti permohonan keluarga korban. Kepolisian juga menyambut baik permintaan keluarga untuk dilakukan otopsi. Karena otopsi ini bisa menyingkap tabir adanya motif lain di balik kematian Linda. ‘’Bagus lah kalau diminta otopsi dari keluarga. Kita sudah terima permintaannya otopsinya. Segera kita akan bongkar kuburnya. Kita sudah minta Biddokes Polda NTB untuk otopsi,’’ ujar Kasatreskrim Polresta Mataram, AKP Kadek Adi Budi Astawa, Selasa (28/7).

Untuk waktu pelaksanaan otopsi, Kadek mengaku menunggu kesiapan Biddokkes Polda NTB. ‘’Kapan Biddokes siap langsung dilakukan otopsi. Kita tunggu nanti jawabannya,’’ tambahnya.

Sebab itu juga, polisi kembali turun ke tempat kejadian perkara (TKP) di rumah jalan Arofah BTN Royal, Lingkungan Angsor, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Polisi hendak untuk mengumpulkan alat bukti dan melakukan olah TKP ulang. ‘’Kita turun lagi tadi (kemarin, red) untuk mengamankan barang bukti yang belum diamankan,’’ imbuhnya.

Kadek kembali menjelaskan, Linda ditemukan tewas di rumah kekasihnya inisial RI sekitar pukul 16.30 Wita, Sabtu (25/7). Dari hasil pemeriksaan sementara dan olah TKP awal, kepolisian tidak menemukan barang hilang. Penyidik hanya mengamankan sebilah pisau serta kursi yang diduga digunakan sebelum gantung diri.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Mataram untuk dilakukan pemeriksaan. Karena keluarga saat itu tidak bersedia dilakukan otopsi. Kepolisian mengupayakan tindakan visum luar terhadap almarhum. Hasil visum luar ini diterima Senin sore (27/7). ‘’Hasil visumnya, kami tidak bisa menjelaskan sekarang. Karena kami harus mengundang ahli dokter forensik. Keterangannya kami butuhkan untuk menerangkan hasil visum itu. Karena ada beberapa narasi yang kami tidak paham. Seperti ada luka tekan segala macam. Jadi nanti dari dokter forensik yang bisa menjelaskan apa arti istilah-istilah itu,’’ ungkapnya.

Tentang dugaan korban dibunuh, Kadek memastikan tidak bisa berandai-andai. Penyebab pasti kematian Linda akan diketahui setelah otopsi dilaksanakan. ‘’Kami bisa mengarahkan ke sana (dibunuh). Tapi sekarang sudah ada permintaan dari keluarga untuk otopsi. Itu yang akan kita lakukan,’’ terangnya.

Kepolisian juga sudah meminta keterangan lima orang saksi. Mulai dari kekasih Linda yang juga pemilik rumah. Kemudian juga teman dekat korban. Keluarga dekat korban juga sudah diminta keterangan oleh kepolisian. ‘’Ada buku harian juga yang kita temukan di TKP. Isinya korban seperti menyesali kenapa hidupnya seperti ini. Kami juga dapat keterangan yang sama dari temannya korban. Dia sering curhat ke temannya,’’ jelasnya.  

Rentetan kronologis sebelum Linda bunuh diri dijelaskan Kadek berawal pada hari Selasa (22/7), korban datang ke rumah kekasihnya. Kemudian pada hari Rabu, Linda disebut kecewa mengetahui sang kekasih akan kuliah di luar daerah. Setelah itu, Linda kecewa dan meninggalkan rumah kekasihnya sambil membawa tas.

Pada hari Kamis, setelah sang kekasih bersama keluarga pergi ke Lombok Tengah sebelum mengantar adiknya ke Bali. Korban sudah tidak bisa dihubungi. Kekasihnya kemudian meminta bantuan salah satu rekan korban berinisial NR, 23 tahun.

NR kemudian bergegas mencari korban. Dia kemudian menemukan sepeda motor korban di rumah kekasihnya di Jalan Arofah BTN Royal. Cukup lama memanggil korban, NR langsung mengecek korban ke dalam rumah. NR sangat terkejut melihat leher korban yang tergantung di ventilasi. Dia pun berlarian dan dan memberi tahu warga sekitar.

Tak lama berselang, kepolisian datang untuk mengevakuasi korban ke RSB Mataram. ‘’Korban bisa masuk ke sana karena pintu rumahnya itu agak rusak,’’ kata Kadek.

Sementara itu, keluarga korban sudah menunjuk Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Unram sebagai penasihat hukum. Setelah itu, pihak keluarga langsung meminta dilakukan otopsi terhadap jenazah korban. Keluarga juga mengajukan permohonan pengalihan perkara dari Polsek Ampenan ke Polda NTB.  Surat permohonan pengalihan perkara ini ditujukan kepada Kapolda NTB dan Kapolresta Mataram. ‘’Kami sudah mengajukan permohonan otopsi. Tadi kami sudah koordinasi dengan Kanitreskrim Polsek Ampenan dan disambut baik permohonan kami. Kami juga sudah berkoordinasi dengan RSB. Sedangkan permohonan pengalihan perkara ke Polda NTB tergantung nanti koordinasi pimpinannya,’’ kata Yang Mangandar, salah seorang penasehat hukum keluarga korban. (gal/der)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid