Kriminal Wisata Merajalela, Budpar Ogah Dikambinghitamkan

INDAH TAPI RAWAN: Kenyaman alam kawasan wisata pantai Kuta Kecamatan Pujut, ini tak senyaman lingkungannya karena banyak aksi kriminal (MUHAMMAD HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Merajalelanya aksi kriminalitas terhadap wisatawan di Lombok Tengah, bukannya membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) setempat berbenah diri.

Tetapi, instansi pimpinan HL Muhammad Putria itu malah ogah dikambinghitamkan. Putria berdalih bahwa masalah keamanan bukan hanya persolan pemerintah daerah saja, atau dalam hal instansinya. Tetapi, masalah keamanan adalah tanggung jawab bersama antara pemda, kepolisian, TNI, investor dan pelaku wisata/masyarakat itu sendiri. Tidak lantas mengandalkan satu instansi saja untuk memberantas aksi kriminalitas ini.

Kata Putria, tanggung jawab ini harus dilakukan tiga pilar. Yakni pemda, polisi dan TNI yang menjadi pilar pertama. Kedua investor dan ketiga pelaku wisata itu sendiri. ”Tiga pilar ini harus bersinergi untuk membangun keamanan,” dalihnya saat dikonfirmasi masalah indkondusifitasnya keamanan pariwisata pekan lalu.

Mantan Kepala SMA 1 Pujut ini juga menepis, masalah keamanan wilayah pariwisata tidak bisa diserahkan seutuhnya ke instansinya. Melainkan harus bertanggung jawab bersama antara pemda, kepolisian dan TNI. Terlebih dengan pembentukan Badan Keamanan Desa (BKD) saat ini. Di mana fungsinya harus dilaksanakan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan masing-masing. ‘’Jadi tidak bisa menyalahkan Disbudpar saja,’’ tepisnya.   

Putria lantas beretorika, pihaknya sedang membuat rencana induk pengembangan pariwisata daerah (Riparda) dalam memajukan pariwisata. Riparda ini merupakan tindak lanjut Perda No. 7 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lombok Tengah. Di mana Lombok Tengah sudah mulai berbenah mengembangkan kawasan wisata menjadi tiga zona sesuai potensi masing-masing.

Jadi, Lombok Tengah tak hanya mengandalkan wisata alam pantai saat ini. Tetapi juga wisata potensi masing-masing zona. Seperti selatan dengan 17 wilayah pantainya potensinya dari Torok Aik Beleq sampai Ujung Kelor. Kemudian zona tengah dengan mengandalkan wisata ekonomi kreatifnya.

Seperti kerajinan tenun Sukarara, gerabah Penujak, atau kerajinan ketak Beleka. Kemudian zona utara juga meliputi kawasan wisata air terjun dan geopark Gunung Rinjani, yang sudah lama digagas. ‘’Jadi ini sebagai salah bentuk keseriusan kita mengurus wisata Lombok Tengah,’’ pidatonya.

Sekretaris Komisi II DPRD Lombok Tengah, Muhalip mengaku prihatin dengan maraknya aksi kriminalitas di kawasan wisata ini. Semua citra buruk ini berpotensi menenggelamkan citra indahnya kawasan wisata Lombok Tengah, atau bahkan NTB. Sayangnya lagi, pelaku aksi kriminal di Lombok Tengah bukan dilakukan orang luar, melainkan orang dalam. Terlebih, banyak pelaku wisata itu yang terlibat. ‘’Dan ini sangat kita sayangkan,’’ ujarnya.

Data aksi kriminal di kawasan wisata Lombok Tengah, bulan ini cukup memprihatinkan. Dari 17 pelaku yang berhasil ditangkap Polres Lombok Tengah, 5 di antaranya merupakan bandit yang beroperasi di kawasan wisata. Korbannya juga adalah wisatawan asing yang sedang berlibur di kawasan wisata Lombok Tengah. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid