Kredit Macet Perbankan Didominasi Sektor Produktif

MATARAM – Otoritas Jasa Keuanga (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat kredit lembaga perbankan di Provinsi NTB yang macet hingga Mei 2016 mencapai Rp 688 miliar.

Terjadi kenaikan kredit macet yang disalurkan perbankan di NTB jika dibandingkan dengan kondisi bulan Desember 2015 lalu. “Sebagian besar kredit macet lembaga perbankan itu adalah kredit produktif,” kata Kepala OJK Provinsi NTB, Yusri Sabtu lalu (16/7). Dikatakan Yusri, kenaikan rasio kredit macet ini tidak hanya terjadi di lembaga perbankan di NTB saja, melainkan terjadi secara nasional. Bahkan rasio kredit macet di lembaga perbankan secara nasional hingga Mei 2016 mencapai Rp 126 triliun kredit macet perbankan seara nasional. Jika melihat kondisi lembaga perbankan di Provinsi NTB,  lanjut Yusri, kredit macet di sebagian besar di sektor pembiayaan produktif.  Hal tersebut berkaitan erat dengan kondisi perekonomian yang masih lesu di semester pertama tahun 2016 ini.

Rasio kredit macet lembaga perbankan di NTB atau non performing loan (NPL) mencapai 2,59 persen di bulan Mei 2016. Angka NPL perbankan di NTB itu mengalami peningkatan jika dibandingkan rasio kredit macet di bulan Desember 2015 yang mencapai 2,39 persen atau senilai Rp 557 miliar kredit macet.

BACA JUGA :  Perceraian di Lotim Didominasi Janda Malaysia

Di Provinsi NTB jumlah lembaga perbankan umum sebanyak 31 unit dan untuk BPR sebanyak 32 unit. Total pembiayaan kredit yang disalurkan lembaga perbankan di NTB hingga Mei 2016 mencapai Rp 33 triliun. Dari jumlah Rp 33 triliun tersebut sekitar Rp 1,75 triliun merupakan kredit pembiayaan yang disalurkan oleh BPR. “Untuk kredit macet lembaga perbankan hingga Mei tahun 2016 secara nasional mencapai Rp 126 triliun,” sebut Yusri.

Yusri menambahkan, kondisi perekonomian yang masih lesu menjadi salah satu penyebab masih tingginya kredit macet lembaga perbankan baik secara nasional maupun di Provinsi NTB. Kendati demikian, Yusri optimis lembaga perbankan di NTB baik itu bank umum maupun BPR pada triwulan III dan hingga akhir Desember 2016 mendatang mampu menekan NPL yang pada data Mei 2016 ini masih tinggi. (luk)