Kredibilitas Survei POLRAM diragukan

RILIS: Lembaga POLRAM ketika merilis hasil surveinya terkait Pilkada Kota Mataram, Rabu (4/11) lalu. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM-Survei yang dirilis Political Research and Marketing (POLRAM) untuk Pilkada Kota Mataram 2020, yang menempatkan Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman dengan elektabilitas tertinggi, dituding tidak lebih sebagai alat kampanye dari pihak sponsor untuk mengaburkan elektabilitas pasangan calon (paslon) tertentu.

Ketua Tim Pemenangan Baihaqi-Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU), Zainul Aidi mengaku, survei POLRAM ini tergantung siapa pemesannya. Dan publik juga bisa melihat rekam jejak lembaga survei itu yang kerap kali merilis hasil yang mengerdilkan elektabilitas paslon serta menggiring opini untuk kemenangan paslon tertentu. “Publik diharapkan tidak begitu saja percaya dengan hasil survei yang dirilis tersebut,” jelas Zainul Aidi, Kamis (5/11) kemarin .

Lebih lanjut diungkapkan, rilis survei dalam pilkada memang hal biasa; menjadi bagian dari strategi maupun propaganda untuk menggiring kemenangan paslon tertentu. Sehingga ia memastikan BARU tidak terpengaruh sama sekali dengan hasil survei POLRAM tersebut. “Survei POLRAM ini tidak ada pengaruh bagi paslon BARU,” tegas Sekretaris DPD Demokrat NTB ini.

Ketua DPW Gelora NTB Lalu Pahroruzi juga mengkritisi hasil survei POLRAM. Secara teknis semestinya sampel diambil dari populasi. Namun POLRAM menggunakan kartu kishgrid dari keluarga (rumah tangga) terpilih; tampaknya kurang teliti. “Mestinya jika populasinya adalah DPT, maka sampel diambil dari daftar nama yang ada di setiap TPS, bukan dirandom dari keluarga dan menggunakan kartu bantu kishgrid,” ucap pendukung BARU ini.

Survei lanjutnya adalah kegiatan ilmiah, yang mesti mendahulukan temuan lapangan dibandingkan motif atau kecenderungan pada paslon tertentu. Apalagi hasil survei memperlihatkan fenomena sesaat. Ada pergeseran dari yang sudah menentukan pilihan dan ada yang akan memilih menjelang hari H.

Ditambahkan, survei yang memperlihatkan bahwa masyarakat yang belum menentukan pilihan di atas 30 persen itu sangat wajar. Jadi yang berpotensi mengubah pilihan dan akan menentukan pilihan menjelang hari H kemungkinan di atas 40-50 persen. “Di sanalah ruang ketidakterdugaan politik,” ucap mantan politisi PKS tersebut.

Tim Pemenangan Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan juga meragukan kredibilitas POLRAM. Bukan lantaran menempatkan elektabilitas Selly-Manan di urutan ke tiga, tetapi soal rekam jejak lembaga survei itu sendiri. Apalagi POLRAM baru muncul. “Kami lebih percaya hasil survei internal kami,” tegas Tim Pemenangan Selly-Manan, Ruslan Turmuzi.

Ia mencontohkan Pilkada NTB 2018. Beberapa lembaga survei sejak awal menjagokan paslon tertentu, justru hasilnya sangat salah; jauh dibandingkan hari H pemilihan. “Malah ada lembaga survei ternama yang kemudian membatalkan hasil quick count-nya di Pilkada Gubernur saat itu. Artinya apa, tidak sepenuhnya hasil survei itu mencerminkan kondisi elektabilitas yang ada di lapangan,” ujarnya.

Apalagi, survei juga punya limit waktu, pendapat dan persepsi responden tersebut hanya mencerminkan ketika disurvei yang penuh trial and error. Selain itu kecenderungan politik masyarakat masih bisa berubah menjelang hari H pemilihan. Adapun untuk survei internal, Ruslan mengaku elektabilitas Selly-Manan tumbuh baik. “Kami tidak akan pamerkan ke publik hasil survei internal SALAM. Untuk apa? Justru hal itu malah menguntungkan kontestan lain,” tandasnya.

Sekretaris Tim Pemenangan MUDA Baihaki Purnawan menambahkan, survei POLRAM memang agak janggal. Apalagi dimunculkan di sisa waktu kampanye yang sedikit, di mana masing-masing paslon nyaris sama-sama punya basis dukungan yang cukup. “Kalau direkayasa, kepentingannya mungkin untuk kampanye karena survei ada sponsor,” ucapnya.

Sebab itu, pihaknya melihat survei ini hanya untuk kepentingan kampanye membangun persepsi publik bahwa ada paslon tertentu tidak bisa dilawan. “Survei ini bisa cacat secara ilmiah,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pada survei tatap muka yang dilakukan POLRAM pada 31 Oktober-2 November itu, elektabilitas paslon nomor urut 1, Mohan Roliskana-TGH Mujibburahman (HARUM) unggul 34,8 persen. Kemudian dibayang-bayangi paslon nomor urut 3 Lalu Makmur Said-Badruttamam Ahda (MUDA) 11,0 persen, paslon nomor urut 2 Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (SALAM) 10,0 persen, dan paslon nomor urut 4, Baihaqi-Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) 3,6 persen. Untuk swing voter atau masyarakat yang belum menentukan pilihan mencapai 40,6 persen. (yan)