Kreativitas Ahmad Ritaudin, Pemilik Usaha Kopi Awet Muda Lombok

Kreativitas Ahmad Ritaudin, Pemilik Usaha Kopi Awet Muda Lombok
KREATIF: Ahmad Ritaudin (kanan) saat bersama Menteri Koperasi UKM RI AA Puspayoga, Wakil Gubenur NTB, H. Muhammad Amin saat melihat produk Kopi Awet Muda beberapa waktu lalu di Mataram. (Lukmanul hakim Radar Lombok)

Minuman kopi sudah melekat bagi masyarakat Lombok.  Maka. tak heran jika, usaha kopi mulai bermunculan. Mulai dari sekedar iseng, usaha hingga ingin memperkenalkan identitas Lombok dengan kekayan alamnya melalui kopi. Hal tersebut juga dilakukan salah seorang pengusaha muda  bernama Ahmad Ritaudin yang mengawali usahanya dengan memproduksi Kopi Awet Muda.


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


Berawal dari keprihatinannya melihat kondisi warga  di kampungnya di Desa Batu Kuta Kecamatan Narmada Lombok Barat  yang banyak menganggur, membuat Ahmad Ritaudin yang akrab disapa ‘Itok’ ini berpikir untuk membuat usaha yang bisa menyerap tenaga kerja. Setelah merenung dan melihat peluang usaha, akhirnya Itok memantapkan diri untuk membuat kopi bubuk.

 Usaha kopi dimulai awal bulan September tahun 2016 lalu, bermodalkan kepercayaan diri dan tentunya modal usaha yang ala kadarnya. Pria kelahiran 1981 ini, kemudian memulai usahanya itu dengan membeli bahan baku biji kopi dari petani  di kawasan hutan Sesaot, Lembah Sempaga, Kecamatan Narmada. Produksi kopi –pun dimulai dengan memberi brand merek ‘ Kopi Awet Muda’ Lombok.

Biji kopi pilihan yang dibeli langsung dari petani  itu jenis robusta. Selain murah, tapi juga memiliki kelebihan dan kenikmatan khas jika diolah oleh tangan yang terampil dan engedepankan khas lokal secara tradisional.

“Kopi bubuk Awet Muda ini murni kopi tanpa ada campuran bahan lain. Alhamdulillah permintaan di pasar cukup bagus dengan Kopi Awet Muda ini,” kata Itok Minggu kemarin (9/7).

Kopi Awet Muda, Lombok ini dijelaskan Itok, dalam proses sangrai masih menggunakan cara tradisional. Penggunaan alat tradisional ini tentu saja lebih mengedepankan agar rasa dan aroma yang hadir dalam Kopi Awet Muda karya Itok ini memiliki cirri khas terendiri dan berbeda dengan kopi lain pada umumnya. Alhasil, sejak November 2016 lalu, pesanan dan permintaan kopi Awet Muda ini mulai meningkat. Selain dipasarkan ke   pusat oleh-oleh khas Lombok  di Mataram dan kawasan Wisata Senggigi, kini  pesanan juga dari  sejumlah daerah lainnya di Indonesia. Sebut saja dari   Pulau Sumbawa, Bali, Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Malang, Palu dan sejumlah daerah lainnya. Meski penjualan dalam jumlah terbatas, namun, permintaan dari sejumlah daerah tersebut terus bertambah setiap bulannya hingga Juli 2017 ini. “Untuk pengiriman ke sejumlah daerah luar Lombok, kami sudah memiliki pihak ketiga dan ada juga yang minta langsung dikirimin ke pemesan di luar daerah NTB,” tutur Itok.

Pria yang tidak sampai lulus di STKIP Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah ini tetap meyakini usaha yang digelutinya itu kini tidak semata-mata mencari hasil keuntungan 100 persen. Namun, lebih kepada bagaimana caranya berperan untuk memberikan peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Sekarang ini, baru ada 8 orang tenaga kerja yang sudah dilibatkan dalam proses produksi Kopi Awet Muda. Belum lagi untuk pemasaran. “Masalah hasil yang buat saya itu nomer 100, yang penting orang bisa kerja dan memperoleh hasil yg bermanfaat dari kerjanya itu memuaskan,” ungkap Itok.

Kini, selain  aktif memasarkan kopi Awet Muda yang dimilikinya, Itok juga membuka perpustakaan dan menyediakan fasilitas internet gratis bagi pelajar dan mahasiswa  di kampungnya. Hal itu dilakukan sebagai salah satu kecintaanya, akan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan generasi muda di kampung halamanya. Karena, ketika masih aktif duduk di bangku kuliah, Itok juga aktif mennjadi tenaga pengajar sebagai guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah Qur’aniyah Batu Kuta. Meski kuliahnya harus putus di tengah jalan. “Bagaimanapun pendidikan itu sangat penting, makanya saya buat perpustakaan dan fasilitas Wifi gratis bagi pelajar dan mahasiswa di rumah saya. Agar mereka bisa menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya dan prestasi yang bagus,” harapnya. (*)

BACA JUGA :  Kisah Inspiratif Fatmah, Pedagang Sayur yang Naik Haji