Korbankan Uang Pribadi, Kini Hasilnya Dinikmati Masyarakat

Daeng Bahtiar Rifa'i
Daeng Bahtiar Rifa'i.(MUHAMMAD GAZALI/RADAR LOMBOK)
Advertisement

DAENG BAHTIAR RIFA’I , PERINTIS WISATA KAMPUNG BARU TANJUNG LUAR

 Wilayah selatan Lombok Timur dikenal dengan keidahan alamnya. Banyak sekalai potensi wisata yang mulai dikembangkan oleh masyaakat. Salah satunya destinasi wisata dermaga Kampung Baru. Destinsi wisaa ini  berdiri tidak lepas dari semangat besar dan tangan kreatif Daeng Bahtiar Rifai.

DESA Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur salah satu desa yang terletak di wilayah selatan daerah ini. Desa ini kebanyakan penduduknya mengandalkan sumber mata pencaharian di sektor laut sebagai nelayan dan sektor perdagangan. Bahkan, desa ini menjadi pusat penghasil ikan terbesar di Lotim.

Dulu, hampir tidak ada yang melirik sektor pariwisata. Meski pun, banyak keindahan pesisir pantai yang ditawarkan di bagian selatan. Malah yang banyak dikenal masyarakat luas, hanya pantai Surga, Hot Planet, Kaliantan dan lainnya. Sementara pantai Pink, Gili Semangkok, Gili Peteluan, Tanjung Ringgit, pantai Cemara dan beberapa destinasi wisata lainnya, tidak banyak yang mengenalnya.

Untuk menuju sejumlah objek wisata dis elatan, kebanyakan wisatawan lokal, domestik dan wisatawan manca negara (wisman) menempuh jalur darat, dengan medan yang masih sangat memprihatinkan. Sehingga satu contoh, kala itu muncul ungkapan masyarakat, untuk menuju pantai Surga, harus melalui jalur neraka. Sakit jalurnya penuh bebatuan. Apalagi di musim hujan, akan membuat wisatawan kesulitan menempuh jalur-jalur tersebut.

Melihat potensi yang sangat menjanjikan dis ektor pariwisata, Daeng Bahtiar Rifa’i, tokoh muda Dusun Koko Desa Tanjung Luar, pada tahun 2014 silam, mulai mencoba merintis pariwisata, melibatkan para pemuda setempat. Ketika itu, yang muali ia kembangkan, destinasi yang berada di samping Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Awalnya, tempat itu sangat kumuh, tapi setelah dikelola menjadi bersih.

Keseriusannya membangkitkan sektor pariwisata, didukung penuh sang kakak, Daeng Muhamad Ihsan, yang pada saat itu menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim. Ia pun mendapat suntikan dana aspirasi. Berawal dari itu, pihaknya mulai membeli perahu boat yang berkapasitas penumpang belasan orang. Begitu juga dengan para pemuda lainnya, mulai membeli perahu boat.

Para wisatawan, mulai memanfaatkan jasa boat tersebut, dan wisatawan dibawa ke sejumlah destinasi, seperti pantai Pink, Gili Pasir Putih, Gili Semangkok, Tanjung Ringgit, Gili Sunut, Gili Bembek dan beberapa destinasi lain. Para wisatawan merasakan kepuasan, ketika berada di Gili Peteluan, di mana wisatawan bisa langsung memberi makan ikan, kendati hanya menggunakan kue. Begitu kue dilepas, ikan-ikan itu akan naik ke permukaan menyantap pakan yang dilepas wisatawan. Tidak sampai di sana, wisatawan bisa melihat langsung ikan dan keindahan terumbu karang, dengan cara menyelam (diving).

Dasar itu, karena dilihat pemerintah provinsi cukup menjanjikan, sehingga pada tahun 2015 dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, mendapat bantuan Rp 150 juta. Dana tersebut digunakan membangun kamar mandi (ruang bilas), ruang ganti pakaian, lapak, dan musala. Karena dilihatnya sudah mengalami kemajuan dengan wadah yang sudah dibentuk berupa Asosiasi Peduli Wisata Tanjung Luar, Daeng Aco’ sapaan akrabnya, mempercayakan pada pengurus untuk mengelola penuh.

Sementara, pihaknya kemudian membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjoh. Pokdarrwis Tanjoh ini, diresmikan langsung Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim. Pokdarwis ini mendapat pengawalan dari Bidang Pemasaran, Dispar Lotim.

Potensi lebih besar lagi dilihatnya di Dermaga Perhubungan Kampung Baru Desa Tanjung Luar. Sebelumnya, dermaga milik Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi NTB ini, bertahun-tahun mangkrak, hanya dijadikan sebagai lokasi pemancingan oleh warga. Bangunan sudah rusak, penuh dengan coretan, dan kumuh. Lubang besar akibat tergerus gelombang, tak terurus pemerintah.

Parahnya lagi, menjadi tempat biasa para pemuda pesta minuman keras (Miras), hingga menjadi tempat tindak kriminal seperti pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), sampai menjadi tempat pemerasan, pada mereka yang meluangkan waktu untuk melihat keindahan pantai. Merasa prihatin dengan kondisi itu, bapak tiga anak ini, kemudian melakukan komunikasi dengan Dishub NTB, untuk mengelola Dermaga Kampung Baru. Selain untuk destinasi wisata, juga sebagai tempat pemberangkatan wisatawan menggunakan transportasi laut. Izin itu pun diperoleh pada tahun 2018.

Mendapat angin segar dari Dishub Provinsi NTB, mulai berspekulasi melakukan perbaikan kawasan darmaga, menggandeng para pemuda Kampung Baru. Kawasan dermaga Kampung Baru dipermak sedemikian rupa. Bangunan yang awalnya tak berfungsi sama sekali, direhab, menjadi musala dan tempat pusat informasi wisatawan. Dukungan pemerintah pun diperolehnya.

Untuk mengembangkan dermaga Kampung Baru itu, tanah dan kendaraan roda empatnya pun dijual. Cukup banyak dana pribadinya yang dikeluarkan untuk mengembangkan destinasi wisata Kampung Baru tersebut. Selama merintis destinasi wisata Kampung Baru itu, banyak kendala dihadapi. Karena dalam pikirannya, selain untuk membangun ekonomi masyarakat, yang hasilnya sudah mulai terlihat, juga para pemuda bisa melakukan aktivitas positif dan menghasilkan. Tidak bergantung lagi pada hasil melaut. Kendati sudah menghabiskan uang pribadi hingga puluhan juta, namun baginya tetap bersyukur, karena banyak masyarakat bisa mencari nafkah di tempat tersebut. “Alhamdulillah, kemajuan destinasi wisata Kampung Baru ini cukup pesat. Yang paling saya sukuri, banyak masyarakat bisa mencari nafkah di destinasi ini,” kata Daeng Bahtiar Rifa’i. (**)