Kopi Hitam Kangkong Tembus Pasar Luar Negeri

Kopi Hitam Kangkong
H Moh Najamudin dengan beberapa produk kopi buatannya. (Devi Handayani/Radar Lombok)

MATARAM – Kopi bagi masyarakat NTB , bahkan secara nasional hingga internasional sudah tidak asing lagi. Bahkan banyak macam dan brand kopi-kopi yang disajikan dengan metode modern dan tradisional. Namun setiap kopi memiliki cita rasa berbeda-beda. Salah satunya Kopi Tujak Lombok yang sudah menembus pasar Jerman, Rusia dan Malaysia.

H Moh Najamudin dan sang istri Hj Handayani, pemilik Kopi Tujak Lombok, sudah cukup populer di kalangan penikmat kopi. Memiliki cita rasanya sangat khas dan berbeda dari kopi lainnya, maka Kopi Tujak atau yang kerap disebut Kopi Kangkong (Karang Jangkong) jadi favorit sebagian penikmat kopi. Bahkan, warga asing, seperti Malaysia, Rusia, hingga Jerman kerap memesan kopi andalan buatan pasutri ini.

BACA JUGA: UMKM Gagal Bangkit di NTB Expo 2018

“Kalau keluar negeri Jerman sama Malaysia yang paling banyak peminatnya,“ tutur H Moh Najamudin saat ditemui rumahnya senin kemerin (10/12).

Usaha kopi Kangkong milik pasutri yang berlokasi di jalan Pejanggik 54C, kampung Karang Jangkong, Cakranegara Barat, Kota Mataram ini terbilang unik jika dibandingkan usaha kopi lainnya. Kopi dengan biji robusta produk H Najamudin diklaim lebih sehat, karena menggunakan campuran batu bata merah saat proses sangrai biji kopi.

Menurut Najamudin, penggunaan batu bata merah bisa memberikan cita rasa tersendiri, bahkan dijamin perut tidak akan panas saat mengkonsumsinya. Dari situlah tercipta cita rasa khas dari kopi miliknya.

Najamudin sendiri merupakan seorang Kepala Lingkungan Karang Jangkong ini menceritakan proses kopi Kangkong membutuhkan waktu produksi cukup panjang. Mulai dari pemilihan, biji kopi robusta dipilah untuk mendapatkan biji terbaik. Kemudian, mencuci biji kopi pilihan tersebut dengan air yang mengalir. Setelah di cuci, biji kopi ini di keringkan di bawah terik panas matahari. Barulah biji kopi di sangrai bersamaan dengan 60 buah batu bata merah berukuran kelereng yang sudah bersih dan steril dari kotoran.

Selain menggunakan rahasia batu bata merah, Pasutri ini dalam memproduksi kopi Kangkong juga menggunakan sejumlah perabotan khas tempo dulu. Seperti geneng kayu atau lesung kayu yang digunakan untuk menggiling biji kopi saat dicampur batu bata merah.

Peminat dan penikmat kopi Kangkong ini kian banyak, baik di dalam daerah, luar daerah hingga luar negeri. Selain itu, pemasaran kopi Kangkong ini juga selain membuka gerai sendiri, juga memasarkan secara online dan media sosial lainnya. Untuk saat ini, proses pengiriman keluar negeri atau daerah masih bersifat mandiri, dan tidak bekerjasama dengan beberapa pihak.

“Kedepannya ingin ke ritel modern dan toko oleh-oleh, tapi sekarang ini masih proses,” ungkapnya.

BACA JUGA: Produk IKM NTB Minim Miliki Sertifikat Halal

Sementara itu untuk jumlah pengiriman, kopi tujak khas pulau seribu masjid ini masih dalam jumlah stabil, yakni setiap pengirimanbubuk kopi ini berkisar 10 sampai 15 kilogram. Dengan ukuran kemasan yang bervariasi, mulai dari 100 gram dan 200 gram. Dengan banyaknya permintaan tersebut Najamudin mampu meraup omset hingga belasan juta rupiah perbulannya.

”Kami belum memiliki tempat penyimpanan khusus, maka kami produksi kopi tujak ini saat dipesan. Kalau biji kopinya disimpan terlalu lama, cita rasa kopi tujak ini akan berbeda,” pungkasnya. (cr-dev)