Koperasi NTB Didorong Bertransformasi Digital

Ahmad Masyhuri
Ahmad Masyhuri

MATARAM – Koperasi mempunyai peran dalam mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggotanya. Peran strategis koperasi sangat dibutuhkan, untuk itu perlu mengoptimalkannya dengan mengikuti perkembangan zaman, yakni dengan transformasi digital.

“Kalau kita memikirkan secara global tidak adalah pilihan mereka harus ke digital. Mulai meningkatkan kapasitas SDM yang paling utama,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTB Ahmad Masyhuri, Senin (4/10).

Menurutnya, re -branding koperasi modern inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam perkembangan koperasi. Untuk itu harus dibuktikan bahwa koperasi itu bisa berbasis teknologi, dan digemari generasi milenial. Sarana prasana sudah cukup untuk beralih ke digital, sekarang bagaimana bisa mendorong kesiapan lembaga koperasi.

BACA JUGA :  Koperasi Tidak Laksanakan RAT Terancam Dibubarkan

Dikatakannya, koperasi di NTB sendiri memang ada yang sudah siap untuk mengikuti perkembangan zaman dengan beralih ke digital. Namun masih ada juga koperasi yang belum siap, terutama pada kesiapan SDM mereka. Selain itu, melihat terjadinya tiga disrupsi secara bersamaan saat ini, yaitu disrupsi digital, disrupsi pandemi Covid-19, dan disrupsi milenial, ini merupakan perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Dengan begitu, urgensi untuk melakukan transformasi digital ini, kedepannya diharapkan dapat semakin memperkuat posisi koperasi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian.

BACA JUGA :  Merasa Ditipu, Anggota Laporkan Ketua dan Pengurus KSU Rinjani

“Tinggal bagaimana kita membudayakan itu, seperti SDM dan lainnya . Kalau tidak, mereka tetap disitu saja,” ungkapnya.

Sebelumnya, diskop UKM NTB pun menargetkan sebanyak 40 koperasi sebagai pilot project koperasi KEREN dari Diskop UKM ditahun ini. Sehingga dapat benar-benar terwujud sebagai koperasi keren yang bisa menjadi contoh menggeliatnya ekonomi NTB. Terlebih koperasi ini anggotanya adalah para UMKM.  Saat ini koperasi cukup dan lebih dari 60 persen itu masih aktif di tengah masa pandemi. (dev)