Konsumen BBM Premium Mulai Turun

Konsumen BBM Premium Mulai Turun
PERTALITE: Manajemen Pertamina Marketing Operation Region V ketika melaunching kali pertama pemasaran BBM jenis Pertalite di SPBU Jalan Gajah Mada (Pagesangan), Kota Mataram beberapa waktu lalu. (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Pemerintah mulai menggiring konsumen untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi selain premium, yakni Pertamax dan Pertalite, yang tentu harganya jauh lebih mahal dari premium.

Hal tersebut dapat dilihat hampir di sejumlah SPBU di Kota Mataram, yang biasanya lajur untuk pengisian BBM jenis Premium lebih dari dua, namun kini disediakan hanya satu lajur saja, dan itupun digabungkan dengan lajur Pertalite dan Pertamax.

Seperti di SPBU Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, lajur untuk pengisian premium sebanyak dua, kini tinggal satu. Itupun digabungkan dengan lajur pengisian Pertalite. Bahkan lajur untuk Pertamax yang sebelumnya satu, kini diperbanyak menjadi dua.

Puluhan konsumen yang antri untuk pengisian BBM premium, terpaksa harus berpindah haluan dengan mengisi BBM jenis pertalite maupun pertamax. Hal tersebut karena konsumen terlalu lama mengantri jika mengisi Premium.

Sementara untuk pengisian BBM jenis Pertalite dan Pertamax lebih cepat antriannnya, karena lajur yang disiapkan lebih dari dua kepada konsumen. Hal serupa juga dapat dilihat di sejumlah SPBU lainnya, seperti di SPBU Karang Jangkong, Mataram, SPBU Kekalik, dan sejumlah SPBU lainnya yang ada di Kota Mataram.

Terkait hal tersebut, Sales Executive Retail XI, PT Peramina Ampenan, Reggi Senjang Paramagarjita, memastikan tidak ada program pengalihan ataupun mengurangi lajur pengisian BBM jenis Premium di SPBU yang ada di Kota Mataram.

“Tidak ada program untuk mengurangi layanan premium di SPBU. Yang ada itu semakin meningkatnnya permintaan pasokan untuk pertamax dan pertalite oleh hampir semua SPBU,” kata Eggi, Jum’at kemarin (4/8).

Menurut Eggi, program pengalihan agar konsumen hanya memilih BBM jenis Pertamax da Pertalite yang merupakan non subsidi bisa dipastikan tidak ada. Tapi kalau penambahan nozzle pertamax dan pertalite memang terjadi pertumbuhan konsumsi oleh konsumen pemilik kendaraan bermotor, baik itu roda empat maupun roda dua. “Sekarang itu rata-rata SPBU di NTB permintaan pasokan Pertamax dan Pertalite naik puluhan persen dari biasanya,” jelas Eggi.

Ia menyebut kenaikan permintaan pertamax dan pertalite mulai meningkat konsumsi kendaraan bermotor pada April 2017 lalu. Dimana untuk realisasi pertamax di banding bulan April dengan Juni aad kenikan mencapai 35 persen. Selanjutnya untuk kenaikan konsumsi pertalite justru naik sangat signifikan, yakni mencapai 75 persen.

“Justru pasokan yang terjadi penurunan itu Premium lebih dari 5 persen penurunannya. Karena hampir di semua SPBU sudah menyediakan Pertamax dan Pertalite. Dari 66 SPBU di NTB, sudah 95 persen SPBU sudah menyediakan Pertalite dan Pertamax,” ucap Eggi.

Eggi menambahkan, tingginya permintaan konsumsi Pertalite dan pertamax murni karena mekanisme pasar. Karena masyarakat selaku konsumen sudah mulai menyadari akan kualitas dari BBM jenis Pertamax dan Pertalite untuk kendaraan bermotor, baik itu roda empat maupun roda dua.

Dengan demikian, pengusaha SPBU melihat potensi pasar yang bagus, sehingga memperbanyak atau menambah lajur untuk pengisian BBM jenis pertamax dan pertalite. Selain itu, para pengusaha SPBU juga melihat bawah konsumen Pertalite dan Pertamax banyak yang menuntut pelayanan lebih baik dan nyaman.

Karena itu, pengusaha tentu harus mengatur ulang layout dan menambah lajur produk tersebut. “Penambahan lajur layanan pertamax dan pertalite murni karena pangsa pasar dua BBM non subsidi itu sudah mulai banyak penggunanya di NTB,” tutupnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid