Konflik Tambang Galian C Bilebante Bersitegang

BERSITEGANG: Warga Gundul Desa Menemeng Kecamatan Pringgarata, dengan senjata terhunus bersitegang dengan preman tambang (DHALLA/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Suasana jalan Kumbung-Bagu Dusun Sempoja Desa Menemeng Kecamatan Pringgarata, ramai sekitar pukul 11.11 Wita,Rabu  kemarin (21/9).

Ratusan warga Dusun Gundul Desa Menemeng berbondong-bondong membawa senjata tajam (sajam). Yang perempuan membawa arit dan batu, sedangkan lelaki membawa golok, pedang, keris, dan tombak. Ada yang terhunus dan masih disarung.

Ada yang berlari-lari kecil, ada yang menyelinap dan ada yang berkumpul satu sama lain. Mereka sedang diselimuti emosi akibat tambang galian C ilegal di Dusun Karang Kubu Desa Bilebante Kecamatan Pringgarata. Kebetulan, tambang itu berada persis di belakang kampung mereka. Tempat sawah produktif mereka terhampar luas sebagai lahan mencari penghasilan menyambung hidup selama ini.

Mereka tak sudi lahan hijau marau itu diganggu dengan kehadiran tambang ilegal. Ditakutkan akan merusak lahan persawahan petani setempat. Tambang galian C ilegal inilah satu-satunya alasan mereka membangun konflik selama ini. Sehingga sanggup mesiat (perang) seperti yang hendak terjadi kemarin.

Bentrok antara warga Gundul dengan penambang ilegal, nyaris saja pecah. Di mana warga kembali ingin merusak jembatan yang dibangun penambang menuju lokasi tambang. Di satu sisi, para penambang ini diduga membayar preman yang siap membela mereka juga melawan warga.

Sekitar pukul 12.12 Wita, salah satu pendukung pengusaha tambang bernama Karna, mengacungkan sajamnya. Serangan itu diikuti pendukung tambang lainnya. Mereka hendak menebas warga yang sudah berkumpul di sebelah timur mereka. Emosi para pendukung tambang ini tersulut dengan banyaknya warga perempuan yang menungging menantang sebagai bentuk hinaan dan tantangan mereka. 

Warga Gundul yang sudah dilengkapi sajam langsung meneriakkan kalimat takbir. ‘’Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,’’ Warga lainnya kemudian tersulut dan mengacungkan sajam juga. Seketika, polisi mengeluarkan tembakan peringatan mundur kedua belah pihak. Suara tembakan dan barisan polisi yang sudah berjubel di tengah mereka akhirnya membuat warga dan pendukung tambang mundur.

Setelah suasana reda, warga pun sempat pulang istirahat solat dan makan (isoma). Beberapa warga lainnya nampak masih tetap berjaga di sekitar tempat keributan tadi. Saat suasana lengang sekitar pukul 13.31 Wita, sejumlah pendukung tambang kembali mengacungkan sajam.

Emosi warga kembali tersulut dan mereka berkumpul. Sejurus kemudian, tiga peleton blokade polisi datang memberikan pengamanan. Delapan orang bayaran penambang kemudian diangkut ke Mapolres Lombok Tengah. Mereka dianggap telah meresahkan masyarakat dan akan menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.

Kadus Gundul, Fajarudin menyesalkan lemahnya tindakan dari aparat kepolisian selama ini. Masalah ini sudah berulang kali muncul tapi tidak ada solusi klimaks. Sehingga terus muncul dan semakin meresahkan masyarakat setempat.

Kata Fajar, masalah galian C di wilayah Desa Bilebante itu, secara tak langsung mempengaruhi warga Gundul secara umum. Pasalnya, sebagian besar warga setempat mencari penghasilan lewat petanian. Ditakutkan, jika lahan mereka digali maka akan berdampak pada lahan produktif lainnya.

Parahnya lagi, pascatambang galian ini biasanya ditambang lagi. Sehingga kerusakan lingkugan semakin parah. Ironisnya, bukan warga setempat yang akan bekerja pada tambang itu, melainkan orang luar. Ketika isi material tambang sudah merusak lahan produktif pertanian. Maka, mereka akan meninggalkan dampak buruknya bagi warga setempat.  ‘’Ini yang kami tidak inginkan,’’ kata Fajar, kemarin.

Karenanya, tegas Fajar, pihaknya meminta aparat kepolisian memproses masalah itu. Terutama keberadaan preman bayaran yang disewa pemilik tambang. Mereka sangat meresahkan masyarakat selama ini. Terlebih, polisi sebelumnya sudah berjanji akan memproses perkara tersebut secara hukum jika mereka ngotot penambang.

Sekarang, warga sudah tiga kali bentrok dengan preman bayaran tersebut gara-gara pembangunan jembatan menuju lokasi tambang. Ironisnya lagi, police line (garis polisi) yang dipasang polisi sudah dirusak oknum tertentu yang mendukung penambangan ilegal itu. Tapi, polisi belum berani memproses mereka secara hukum. ‘’Terus terang kami sangat kecewa dengan kepolisian ini. Para preman bayaran yang disewa penambang ini sudah jelas-jelas meresahkan masyarakat, tapi mereka tidak diproses,’’ sesalnya.

Kabag Ops Polres Lombok Tengah, Kompol Ketut Tamiana menegaskan, pihaknya akan tetap memproses penambang ilegal itu. Sebab, mereka tidak mengantongi izin selama ini. ‘’Kalau mereka tidak menambang, kami tegaskan akan proses,’’ tegasnya.

Masalah perusakan police line dan lainnya, pihaknya belum bisa memproses karena tersangkut pasal. Itu termasuk belum melanggar sehingga masih bisa dimaklumi. ‘’Siapa pun itu kalau berani menambang tanpa izin kami akan proses,’’ ulas mantan Kasatreskrim Polres Lombok Tengah ini.

Perwira melati satu itu juga menambahkan, pihaknya mengamankan sekitar 8 orang. Mereka diduga sebagai preman bayaran yang mem-back up aktivitas penambangan ilegal itu. Kata Tamiana, kemungkinan mereka tidak akan ditahan melainkan akan dimintai keterangan. ‘’Kita amankan sekitar 8 orang,’’ katanya. (dal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut